Willy: Dari Rekonstruksi Aceh Jadi Nahkoda MRT

Willy: Dari Rekonstruksi Aceh Jadi Nahkoda MRT
Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar (Dokumentasi: Niza Pratiwi-Upperline)

Siang itu matahari sedang unjuk gigi di ibukota. Namun tak menyurutkan seorang pria yang mengenakan rompi kuning untuk melayani pertanyaan wartawan. Dengan sabar ia menjawab dengan detail seluruh pertanyaan seputar persiapan MRT Jakarta. Usai penjelasan tersebut, bahkan ia tak segan-segan ikut menyeberang dari kantor MRT di Wisma Nusantara menuju ke stasiun MRT Bundaran Hotel Indonesia bersama serombongan pewarta dari berbagai media.

Bagi banyak orang, sosok pria ini memang tak asing lagi. Ia adalah salah satu tokoh yang membidani lahirnya MRT Jakarta, setelah 25 tahun menjadi mimpi. Setidaknya di tangan dia lah, MRT yang selama ini hanya menjadi wacana akhirnya terealisasi. Betul, ia adalah William Sabandar.

Pria kelahiran Makassar tahun 1966 ini mengawali kariernya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) Departemen Pekerjaan Umum. Ia mengabdikan dirinya untuk negara usai lulus dari Universitas Hassanudin Jurusan Teknik Sipil di tahun 1991. Di departemen ini, Willy -begitu ia biasa dipanggil- banyak mengurusi proyek pembangunan jalan di Maluku. 

Lepas dari situ, Willy melanjutkan studi masternya di Teknik Transportasi, University of New South Wales. Merasa tak puas, di tahun 2001-2004, Willy mengambil program Doktor Transport Geography di University of Canterbury, New Zealand.

 

 

Kembali ke tanah air, putra daerah asal Toraja ini didapuk menjadi Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh dan Nias oleh Ketua Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), Kuntoro Mangkusubroto. Selama 2005-2009, Willy fokus pada rekonstruksi pasca bencana. Dan terbukti, setelah empat tahun, Nias beralih dari pemulihan ke proses pembangunan berkelanjutan.

Sukses dengan penanganan Aceh dan Nias, Willy malang melintang di sejumlah instansi dengan berbagai jabatan. Sebut saja sebagai Utusan Khusus Sekretaris Jenderal ASEAN, Asisten Kepala UKP4, Penasehat Senior Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Deputi Kepala Badan Pengelola Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca dari Sektor Kehutanan (REDD+), dan juga UNDP. Bahkan namanya sempat digadang-gadang menjadi salah satu tokoh yang dianggap mampu menggantikan Arcandra Tahar sebagai Menteri ESDM. Saat itu Arcandra sedang tersandung kasus kewarganegaraan ganda, sehingga harus lengser dari posisinya.

Tak disangka, dari sejumlah sepak terjang Willy, justru kinerjanya di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh dan Nias lah yang meninggalkan kesan mendalam bagi Kuntoro. Willy dianggap mumpuni dalam mengatasi kemelut di dua daerah terdampak bencana tersebut.

Baca juga: Buang Sampah Sembarangan di MRT? Siap-siap Didenda!

Hal ini diakui mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), ketika melantik Willy menjadi orang nomor satu di MRT Jakarta di tahun 2016. Dengan menunjuk Willy sebagai Direktur Utama, Ahok yakin pembangunan MRT dapat diselesaikan.

"Karena pengalaman dia di Aceh, abis tsunami. Karena dia dianggap oleh Pak Kuntoro mampu mengatasi banyak masalah. Jadi harus ada orang yang terbiasa, dia sudah melakukannya waktu di Aceh," kata Ahok, seperti dilansir beberapa media online.

 

 

Dan terbukti, pengalaman tangan dingin Willy di Aceh berhasil melahirkan MRT. Pembebasan lahan MRT yang dimulai sejak 2015 akhirnya membuahkan hasil. Moda tranportasi tersebut dapat beroperasi secara komersial pada April 2019. 

Sukses dengan fase 1, Willy kini tengah mempersiapkan pembangunan fase 2 dan 3 MRT. Dengan adanya fase-fase tersebut maka Jakarta dan sekitarnya akan terintegrasi tanpa perlu bermacet-macet ria lagi.

"Kita berharap tahun 2024 (fase 2) bisa mulai beroperasi karena dibutuhkan waktu 4-5 tahun untuk menyelesaikan setiap fase," ujar Willy kepada Upperline beberapa waktu yang lalu.

Tak berhenti sampai di situ. Willy pun bercita-cita dapat membangun MRT sepanjang 300 kilometer di Jakarta dan sekitarnya. Targetnya? Rel sepanjang itu dapat tuntas di tahun 2030.

Harus diakui, ini bukan perkara mudah. Namun melihat keberhasilan Willy di Aceh dan Nias, bukan tidak mungkin di tangannya pula masalah kemacetan Jakarta dapat terurai. Caranya? Tentunya dengan merealisasikan mimpi-mimpi sang insinyur itu.

Baca juga: MRT Jakarta: Oase di Tengah Macet dan Polusinya Ibukota