Vale Indonesia Alami Kenaikan Pendapatan Nikel Matte Sebesar 3% di Triwulan II 2017

Vale Indonesia Alami Kenaikan Pendapatan Nikel Matte Sebesar 3% di Triwulan II 2017

PT Vale Indonesia Tbk mengumumkan pencapaian kinerja yang belum diaudit untuk triwulan kedua tahun 2017. Vale Indonesia mencatat adanya peningkatan pendapatan nikel matte sekitar 3%, dibandingkan triwulan I 2017.

“Pendapatan nikel matte sekitar 3% lebih tinggi di triwulan II 2017 dibandingkan pada triwulan I 2017, meskipun harga realisasi rata-rata di triwulan II lebih rendah. Lebih dari sebelumnya, kami menyadari pentingnya tetap fokus pada peningkatan efisiensi dan pengurangan biaya,” kata CEO dan Presiden Direktur Perseroan Nico Kanter, dalam keterangan tertulisnya yang dikutip, Jumat (28/7/2017).

Beban pokok pendapatan per metrik ton penjualan nikel matte di triwulan II 2017 adalah 2% lebih rendah dibandingkan pada triwulan I 2017, tanpa menyertakan provisi penurunan nilai persediaan, yang meningkat sebesar US$8,1 juta dibandingkan dengan triwulan I 2017.

“Penurunan beban pokok pendapatan per metrik ton penjualan nikel matte terutama didorong oleh turunnya biaya bahan pembantu dan biaya karyawan masing-masing sebesar 11% dan 17%, sementara produksi meningkat,” ujar Nico.

Sementara itu, Perseroan mencatat EBITDA pada triwulan II 2017 sebesar US$9,5 juta, dibandingkan dengan US$24,5 juta pada triwulan I 2017, terutama karena harga realisasi rata-rata yang lebih rendah. Meskipun EBITDA lebih rendah, kas dan setara kas Perseroan meningkat menjadi US$260,7 juta pada 30 Juni 2017, dari US$235,5 juta pada 31 Maret 2017.

“Perseroan akan terus melakukan kontrol yang hati-hati atas pengeluaran untuk menjaga ketersediaan kas,” jelas Nico.

Dijelaskan, bahwa Perseroan juga telah mengeluarkan sekitar US$11,9 juta untuk belanja modal di triwulan II 2017, menurun dari sebelumnya US$18,8 juta di triwulan I 2017.

“Pada tahun 2017, Perseroan berencana untuk memproduksi sekitar 80.000 t nikel dalam matte. Secara bersamaan, Perseroan akan tetap fokus pada berbagai inisiatif penghematan biaya untuk mempertahankan daya saing Perseroan tanpa mengkompromikan nilai utama Perseroan, yakni ‘keselamatan jiwa merupakan hal terpenting’,” tandas Nico.(DD)