Traveloka Bicara Inovasi Paylater dan Bagaimana Lindungi Data Pengguna

Traveloka Bicara Inovasi Paylater dan Bagaimana Lindungi Data Pengguna
Journalist Class dengan Traveloka, OJK dan Visa

Perkembangan teknologi turut mengenalkan masyarakat Indonesia pada temuan baru bernama Fintech, sebuah platform keuangan yang dikolaborasikan dengan berbagai teknologi. Di antara berbagai pemain, Traveloka muncul dengan gagasan paylater dan mewujudkannya pada Juni 2018.

Sejak kemunculannya, Traveloka memang membawa misi untuk memudahkan pelanggan dalam mengakses pengalaman-pengalaman menarik yang disajikan melalui fitur-fitur di aplikasi tersebut. Dan produk ini ternyata cukup diminati, sejak dikeluarkan hingga sekarang, nilai transaksinya bertumbuh 50 kali lipat.

“Saya tidak bisa menyebutkan angkanya berapa tapi kami senang bahwa sejak dirilis hingga kuartal dua tahun ini, pertumbuhannya mencapai 50 kali lipat. Tentunya kami menargetkan akan bertumbuh berkali-kali lipat lagi,” ujar Alvin Kumarga, Senior Vice President Financial Products, Traveloka (27/08).

Menurutnya, setidaknya ada dua faktor kenapa produk ini diincar pengguna Traveloka. Pertama, mereka merasa terbantu dari sisi cash flow. Uang yang seharusnya dialokasikan untuk membeli tiket atau hotel misalnya, bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan mendesak lainnya terlebih dahulu.

Kedua, para pengguna paylater mendapatkan convenience dalam hal kemudahan pembayaran. Paylater ini mempercepat mereka dalam melakukan transaksi.

Baca juga: Mengenal 4 Startup 'Unicorn' dari Indonesia

Sementara itu, dengan maraknya bisnis Fintech, makin banyaklah data pribadi yang kita sebar ke berbagai platform. Poin inilah yang perlu menjadi perhatian kita sebagai konsumen. Terlebih, di Indonesia belum ada undang-undang yang mengatur tentang perlindungan data pribadi.

Bagaimanapun, di era sekarang ini, data memiliki peranan penting. Data is the new oil. Bank data dapat dipergunakan untuk berbagai kepentingan dan itulah mengapa cybercrime bisa terjadi. Pada akhirnya, konsumen sebagai pemilik datalah yang akan dirugikan.

 Lalu, bagaimana kita menyikapi hal ini? Triyono Gani, Direktur Eksekutif Inovasi Keuangan Digital, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan masukan agar kita hanya melakukan registrasi atau menggunakan aplikasi fintech yang memang terdaftar dan diawasi oleh OJK.

“Bertransaksilah dengan fintech yang sudah masuk pengawasan OJK. Karena kita hanya berkekuatan hukum terhadap lembaga yang sudah mendapat izin. Kalau kita ga kasih izin, ya kita ga bisa bantu,” ungkap Triyono Gani.

Sementara itu, Alvin memaparkan bahwa produk fintech di Traveloka memberikan keamanan data dengan menerapkan proteksi empat lapis. Yang pertama adalah dengan menggunakan notifikasi dan verifikasi ketika login. Kedua dengan menggunakan biometric seperti sidik jari serta wajah dan ketiga adalah dengan memberikan power bagi pemilik akun untuk menonaktifkan akunnya masing-masing. Terakhir, proteksi dilakukan saat proses pembelian dengan memberikan kode rahasia yang harus diinput pengguna.

Meskipun telah menerapkan sistem keamanan data berlapis, Alvin memberikan dua saran penting terkait menjaga keamanan data pribadi saat meggunakan fintech. Saran pertama adalah memberikan data yang benar dan lengkap ketika mendaftar sebuah platform. Data tersebut digunakan oleh platform sebagai patokan keamanan. Selanjutnya, pengguna juga dilarang keras membagikan data apupun, OTP, password maupun username ke orang lain, siapapun itu.

Baca juga: Harga Tiket Pesawat Domestik Akhirnya Turun!