Tinjauan Laporan Tahunan: Kiat PTBA Bernavigasi di tahun 2019

Tinjauan Laporan Tahunan: Kiat PTBA Bernavigasi di tahun 2019
Halaman cover Laporan Tahunan 2019 PTBA

Highlights:

• Pada tahun 2019, PTBA mencatat pendapatan Rp 21,79 triliun dan laba Rp 4,1 triliun

• Salah satu tantangan yang dihadapi pada tahun 2019 adalah tren penurunan harga harga batu bara 

• Berbagai langkah strategis diambil PTBA antara lain peningkatan ekspor dan pengembangan hilirisasi produk batu bara berkalori rendah melalui proyek Gasifikasi

 

Pada bulan Mei 2020, PTBA telah menyelesaikan buku laporan tahunan 2019-nya walaupun pada tahun ini diberikan kelonggaran untuk mempublikasikan laporan tahunan selambat-lambatnya 30 Juni 2020. Buku laporan tahunan dengan total 693 halaman ini adalah bacaan yang menarik. PTBA dengan lugas dan komprehensif menyampaikan laporan kinerja serta strategi perusahaan dalam bernavigasi di tahun 2019 yang diwarnai tren harga batu bara yang fluktuatif dan cenderung turun. Sebagai perusahaan terbuka yang 31, 2 persen sahamnya diperdagangkan di bursa efek, kinerja dan strategi PTBA mendapat perhatian banyak pihak, khususnya investor yang berminat untuk memiliki saham perusahaan di bidang pertambangan batu bara ini. 

“Di tengah harga batu bara yang fluktuatif di tahun 2019, dan terdapat beberapa tantangan, Perseroan meyakini masa depan batu bara masih memiliki peluang. Perseroan terus melakukan terobosan-terobosan baru untuk menciptakan diversifikasi usaha dalam melihat peluang bisnis Perseroan ke depannya. Di tahun 2019 ini, Perseroan berupaya maksimal untuk mengembangkan proyek Coal to Chemical yang akan menjadi salah satu tumpuan bisnis Perseroan di masa datang,” demikian dikutip dari buku Laporan Tahunan PTBA 2019.

Pada tahun 2019 PTBA mencatatkan pendapatan 21,79 triliun rupiah. Hal ini meningkat 620,57 miliar dibanding tahun 2018. Pendapatan ini disumbang oleh segmen batu bara sebesar 21,3 triliun dan segmen lainnya 395 miliar.

Sejak lima tahun terakhir, PTBA berhasil mempertahankan kinerja yang terus meningkat dari sisi pendapatan. Pada tahun 2015 pendapatan perusahaan 13,8 triliun, 2016 14 triliun, 2017 19,4 triliun dan 2018 21,1 triliun. 

Dari sisi aset PTBA juga mencatatkan kenaikan aset sehingga total berjumlah 26,1 triliun rupiah, yang meningkat 8% dibanding tahun 2018. Meskipun harga batu bara mengalami penurunan di tahun 2019, PTBA berhasil membukukan laba bersih 4,1 triliun rupiah. 

Dari sisi produksi, jumlah produksi batubara yang dihasilkan pada tahun 2019 sebanyak 29,07 juta ton. Dari jumlah itu, total penjualan sebanyak 27,79 juta ton.

“Sebagai pelaku usaha batu bara terkemuka, PT Bukit Asam Tbk, yang selanjutnya disebut sebagai “Perseroan” atau “PTBA” memiliki peran yang cukup besar terhadap industri pertambangan dan energi di Indonesia. Agenda ketahanan energi sebagai program prioritas Pemerintah Indonesia turut menjadi tanggung jawab Perseroan untuk dapat mewujudkannya,” tulis Laksamana TNI (Purn) Agus Suhartono, SE selaku komisaris utama PTBA dalam bagian laporan Dewan Komisaris. 

Pemerintah Indonesia menargetkan produksi batu bara tahun 2019 sebanyak 489,13 juta ton dengan proyeksi pemenuhan kebutuhan konsumsi domestik sebanyak 128,04 juta ton atau 26,18%, dan sisanya untuk kebutuhan ekspor sebanyak 361,09 juta ton atau 73,82%. 

Pada akhir tahun 2019, Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara Kementerian ESDM melakukan revisi Rencana Kegiatan dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2019. Produksi batu bara tahun 2019 ditingkatkan hingga mencapai angka 530 juta ton, dengan asumsi bahwa angka tersebut masih di bawah realisasi produksi batu bara nasional tahun 2018 sebesar 557 juta ton. 

“Kenaikan produksi batu bara PTBA sebesar 10,30%, dari 26.355.402 ton di tahun 2018 menjadi 29.068.923 ton di tahun 2019 merupakan perwujudan kontribusi Perseroan dalam mendukung agenda ketahanan energi. Meskipun kondisi industri batu bara tidak sebaik tahun 2018, peningkatan produksi ini memberikan dampak nyata bagi pemenuhan kebutuhan produk batu bara nasional,” demikian dikutip dari Laporan Dewan Komisaris PTBA tahun 2019.

Dewan Komisaris menilai langkah Direksi untuk mendorong pertumbuhan pendapatan yang dilakukan melalui peningkatan penjualan ekspor ke berbagai negara, termasuk juga penerapan penjualan produk batu bara Medium to High Calorie kepada pasar premium dengan tujuan memperbesar margin keuntungan sudah tepat. 

Dewan Komisaris juga menyetujui langkah investasi atas strategi diversifikasi produk yang dilakukan Direksi. Pengembangan hilirisasi produk batu bara berkalori rendah melalui proyek Gasifikasi di Tambang Peranap (yang telah diputuskan direlokasi ke lokasi Tambang Tanjung Enim) dan Tambang Tanjung Enim akan menjadi alternatif baru bagi pengembangan bisnis Perseroan, yang pada akhirnya akan menciptakan kesempatan bagi Perseroan untuk berinovasi demi pertumbuhan yang berkelanjutan. 

Sejalan dengan inisiatif Beyond Coal, merupakan salah satu inisiatif yang dinilai Dewan Komisaris sebagai terobosan yang membanggakan. Dengan menyadari bahwa tidak selamanya Perusahaan dapat bergantung pada penjualan batu bara semata, maka tercipta gagasan untuk menempatkan hilirisasi batu bara sebagai inisiatif untuk mewujudkan keberlanjutan Perseroan,” tulis Agus Suhartono dalam laporan tersebut. 

Menjelang tutup tahun, PTBA telah menyiapkan sejumlah target untuk menyongsong tahun 2020. Pada tahun ini, PTBA membidik target produksi lebih tinggi yaitu sebesar 30,3 juta ton sedangkan pada tahun 2019 ini realisasi produksi PTBA sebesar 29,07 juta ton. 

Dewan Komisaris optimis target yang ditetapkan ini dapat tercapai, hal ini didukung dengan adanya kontrak kerjasama yang baru PTBA dapatkan yaitu kontrak kerja sama dengan perusahaan petrokimia asal Taiwan, Formosa Plastics Group. Dimana nantinya PTBA akan menjadi pemasok batu bara berkalori tinggi ke FPG. 

Selain rencana produksi, PTBA juga pada 2020 mendatang membidik market penjualan batu bara yang awalnya melalui trader, kini PTBA mulai akan fokus membidik penjualan batu bara ke konsumen secara langsung (end user). Penjualan PTBA sendiri selain untuk domestik atau pemenuhan Domestic Market Obligation (DMO), PTBA juga melakukan aktivitas ekspor. 

Dalam kegiatan ekspor tersebut PTBA membidik penjualan langsung ke end user seperti penjualan batu bara ke Perusahaan listrik sejenis PLN di Malaysia. Hal ini dilakukan PTBA dikarenakan penjualan langsung ke end user memiliki harga yang lebih menarik dibandingkan trader. Selain itu, hal ini juga merupakan dampak secara tidak langsung dari kebijakan pemerintah yang mewajibkan ekspor batu bara harus menggunakan kapal berbendera Indonesia. 

Menurut direktur utama PTBA Ir Arviyan Arifin, tahun 2019 adalah tahun yang menantang. Perlambatan ekonomi dunia berdampak besar terhadap komoditas dunia, tak terkecuali batu bara. Rata-rata indeks harga batu bara thermal dunia berbasis fob Newcastle (GAR 6.322 kcal/kg) di tahun 2019 sebesar USD77,77 per ton, turun sebesar USD29,57 per ton atau 27,65% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD107,34 per ton. Penurunan ini terutama disebabkan adanya kelebihan suplai pasokan batu bara di kawasan Asia Pasifik akibat ekspansi penjualan batu bara dari Rusia dan Kolombia. Ekspansi penjualan batu bara dari kedua negara ini merupakan imbas dari penurunan permintaan batu bara di kawasan Eropa seiring peningkatan penggunaan energi terbarukan pada beberapa negara di wilayah tersebut. 

Selain itu, penurunan indeks harga batu bara dunia disebabkan adanya penurunan permintaan batu bara khususnya kalori tinggi dari Jepang dan Korea akibat peningkatan penggunaan gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG). Kondisi ekonomi Tiongkok sebagai importir batu bara terbesar yang belum juga mengalami bouncing turut memberikan andil terhadap penurunan indeks harga batu bara dunia. Tak hanya itu, India selaku importir batu bara terbesar kedua melakukan pembatasan impor dan terus meningkatkan produksi batu bara domestiknya. 

Tren penurunan indeks harga batu bara dunia kemudian berdampak terhadap harga batu bara Indonesia. Indeks harga batu bara thermal Indonesia dan Harga Batu Bara Acuan (HBA) telah mengalami tren penurunan signifikan selama 2 (dua) tahun terakhir. Per 31 Desember 2019, HBA yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, sebesar USD66,30 per ton, turun jauh dari HBA di awal tahun 2018 sebesar USD95,54 per ton. 

“Meskipun industri batu bara di tahun 2019 menunjukkan penurunan yang signifikan, sebagai produsen batu bara yang tergabung dalam Holding Industri Pertambangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PTBA memiliki target untuk tetap memenuhi kebutuhan pasar batu bara khususnya permintaan dari dalam negeri,” tulis Arviyan Arifin dalam laporan tahunan tersebut. 

Seperti telah disebutkan sebelumnuya, pada tahun 2019 PTBA mampu memproduksi 29.068.923 ton, meningkat 10,30% dibandingkan volume produksi di tahun 2018. Sedangkan penjualan produk batu bara PTBA meningkat 12,56% dibanding tahun 2018. 

Komposisi Pasar Penjualan PTBA

 

Penjualan produk batu bara masih didominasi untuk memenuhi kebutuhan pasar batu bara domestik, dengan komposisi mencapai 60,00% dibandingkan keseluruhan volume penjualan di tahun 2019. Untuk mendorong pertumbuhan pendapatan atas penjualan yang dilakukan, PTBA berupaya untuk mendorong penjualan ekspor ke berbagai negara seperti India, Hongkong, Filipina, dan sejumlah negara Asia lainnya. Selain itu, Perseroan juga berupaya menerapkan penjualan produk batu bara Medium to High Calorie kepada pasar premium, dengan tujuan memperbesar margin dan meningkatkan kinerja laba. 

Kebijakan strategis lainnya yang ditempuh di tahun 2019 adalah memperbesar jalur distribusi pengiriman batu bara dengan meningkatkan kapasitas angkutan kereta api. Di sepanjang tahun 2019, volume angkutan kereta api yang dimiliki PTBA mencapai 24.242.004 ton, meningkat 7% dari volume di tahun 2018 sebanyak 22.687.252 ton. Perseroan telah mengembangkan kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk mengembangkan kapasitas angkut dari produk batu bara yang dimiliki Perseroan, dengan sasaran daya angkut yang besar akan memberikan kemampuan yang berimbang atas peningkatan volume produksi. 

Tahun 2019 juga menjadi momentum bagi Perseroan untuk melakukan pengembangan hilirisasi produk batu bara berkalori rendah melalui proyek Gasifikasi. Pengembangan hilirisasi ini dilakukan dengan mengkonversi batu bara kalori rendah PTBA menjadi Dimethyl Ether (DME) dan produk kimia lainnya (urea dan polypropylene). Proyek ini dibagi menjadi 2 (dua) proyek besar yaitu: 

a. Proyek Gasifikasi/Hilirisasi Tambang Coal to DME 

Sebagai wujud pengembangan bisnis Hilirisasi Batu bara, PTBA bersama dengan Pertamina selaku off taker DME dan Air Products selaku pemilik teknologi Gasifikasi Batu bara, telah menandatangani nota kesepahaman di Allentown pada tanggal 7 November 2018. Kemudian pada tanggal 16 Januari 2019 dilanjutkan dengan penandatanganan kerangka kerja sama pendirian joint venture company. DME akan digunakan sebagai subsitusi LPG sehingga mengurangi ketergantungan terhadap LPG. Proyek ini direncanakan akan mulai produksi pada tahun 2024 dengan konsumsi batu bara sebesar 6,5 juta ton per tahun, dengan produksi DME sebesar 1,4 juta ton. 

b. Proyek Gasifikasi/Hilirisasi Coal to UDP: Urea-DME-polypropylene

PTBA telah menandatangani Head of Agreement dengan PT Pertamina, PT Pupuk Indonesia (Persero) dan PT Chandra Asri Petrochemical pada tanggal 8 Desember 2017 untuk pembangunan pabrik Coal to Urea-DME- polypropylene dimulut Tambang Tanjung Enim, Sumatera Selatan dengan konsumsi batu bara sebesar 8,1 juta ton per tahun. Melalui teknologi gasifikasi, akan mengubah batu bara menjadi syngas sebagai feedstock untuk produksi urea dengan kapasitas 570 ton per tahun, DME dengan kapasitas 400 ribu ton per tahun dan polypropylene dengan kapasitas 450 ribu ton per tahun. 

Prospek Usaha Tahun 2020 

PTBA telah memproyeksikan bahwa tahun 2020 masih akan menjadi tahun yang harus diwaspadai oleh industri batu bara. “Proyeksi perlambatan perekonomian dunia yang masih berlanjut, kondisi perekonomian Tiongkok yang belum juga membaik, serta kebijakan domestifikasi produk batu bara India, masih akan menjadi tema besar terkait proyeksi harga batu bara di tahun 2020. Sepanjang bulan Januari dan Februari 2020, Harga Batu Bara Acuan (HBA) masing-masing berada di level USD65,93 dan USD66,89 per ton,” demikian dikutip dari Laporan Tahunan tersebut. 

Profil PTBA

Di tahun 2017, Perusahaan yang resmi berdiri 2 Maret 1981 ini memasuki babak baru dengan resmi bergabung bersama PT Aneka Tambang Tbk. dan PT Timah Tbk. dalam Holding BUMN Pertambangan dimana PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) sebagai induk holding. Tergabungnya Perusahaan ke dalam holding tersebut juga memberikan efek domino dalam kebijakan Perusahaan, di antaranya dengan perubahan nama dan status PT Bukit Asam (Persero) Tbk menjadi PT Bukit Asam Tbk. 

Bergabungnya Perusahaan ke dalam Holding BUMN Pertambangan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas usaha dan pendanaan, pengelolaan sumber daya alam mineral dan batu bara yang lebih efektif, peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi dan meningkatkan kandungan lokal, serta efisiensi biaya dari sinergi yang dilakukan. 

Struktur Kepemilikan PTBA

Cadangan Batu Bara PTBA

Segmen pertambangan batu bara masih akan menjadi segmen andalan perusahaan. Dari sisi ini perusahaan masih memiliki cadangan yang cukup besar. Perusahaan memiliki cadangan 3,23 miliar ton dan sumber daya mencapai 8,28 miliar ton. 

Perusahaan memegang hak Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi dengan total area kelolaan 93.977 ha yang berlokasi di: 

1. Tanjung Enim seluas 66.414 ha yang meliputi Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, yang terdiri dari Air Laya (7.621 ha), Muara Tiga Besar (2.866 ha), Banko Barat (4.500 ha), Banko-Tengah Blok Barat (2.423 ha), Banko-Tengah Blok Timur (22.937 ha), serta Banjarsari, Kungkilan, Bunian, Arahan Utara, Arahan Selatan (24.751 ha).

2. Anak Perusahaan PT Batubara Bukit Kendi (882 ha).

3. Ombilin seluas 2.935 ha, yang meliputi Lembah Segar dan Talawi.

4. Lokasi Peranap, Indragiri Hulu Riau (18.230 ha).

5. Lokasi Kecamatan Palaran, Kotamadya Samarinda melalui anak perusahaan PT Internasional Prima Coal (3.238 ha).

6. Tabalong, Kalimantan Timur melalui anak perusahaan PT Internasional Prima Coal (3.145 ha).

Meskipun merupakan emiten batu bara dengan cadangan terbesar, perusahaan yang memiliki visi “Menjadi perusahaan energi kelas dunia yang peduli lingkungan ini”  belum termasuk perusahaan dengan penguasaan pasar yang dominan baik di pasar global (pasar Asia Pasifik) maupun pasar domestik. Kendala transportasi batu bara masih menghambat peningkatan pasokan batu bara perusahaan, walaupun selalu mencatat peningkatan setiap tahunnya.

“Ke depan, Perusahaan memiliki peluang untuk meningkatkan pangsa pasar secara substansial dan menjadi pemasok batu bara yang dominan seiring dengan terselesaikannya proyek pengembangan angkutan batu bara,” demikian dikutip dari Laporan Tahunan PTBA 2019.

Baca juga: Jurus Bukit Asam di Tengah Penurunan Harga Batu Bara