Tingkatkan Ekspor, Krakatau Steel Incar Malaysia dan Australia

Tingkatkan Ekspor, Krakatau Steel Incar Malaysia dan Australia
Sumber: Krakatau Steel

PT Krakatau Steel (Persero) melirik pasar Malaysia dan Australia sebagai bagian dari skenario korporasi untuk meningkatkan volume ekspor. Ekspor Hot Rolled Coil (HRC)  ke negeri jiran tersebut diperkirakan akan mencapai 400.000-500.000 ton pada tahun ini. Perseroan menargetkan nilai ekspor tahun ini naik dua kali lipat dibanding tahun lalu.

"Dengan ini kami akan meningkatkan ekspor ke Malaysia karena mereka customer setia Krakatau Steel dari dulu. Dan di zaman saya kita dorong lagi supaya ikut meningkatkan ekspor nasional," kata Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim baru-baru ini.

Kebutuhan baja Malaysia saat ini tercatat mencapai 9,4 juta ton per tahun.

Krakatau Steel membidik nilai ekspor tahun ini mencapai 200 juta dolar AS atau kurang lebih 10% dari total penjualan, jelas Direktur Pemasaran Krakatau Steel Purwono.

Sebelumnya Tim Dumping perusahaan telah sukses membebaskan Krakatau Steel dari pengenaan Anti Dumping Duty atas produk Hot Rolled Coil (HRC) di Malaysia. Ministry of International Trade & Industry Malaysia pada keputusan akhirnya menyatakan saat ini tidak ada industri dalam negeri di Malaysia yang menyuplai produk HRC sehingga pengenaan Anti Dumping Duty menjadi tidak relevan lagi. Secara resmi pengenaan Anti Dumping Duty terhadap PTKS akan mulai dicabut pada 9 Februari 2019.

Selain Malaysia, Australia juga tidak memperpanjang Anti Dumping Duty untuk produk baja Indonesia sejak akhir Desember 2018. Dengan terbukanya peluang tersebut, ekspor Perseroan tidak hanya mengincar pasar ASEAN tapi juga Australia.

"Jadi baik ke Malaysia maupun Australia ekspor HRC dan Hot Rolled Plate (HRP) dari Krakatau Steel direncanakan meningkat," kata Purwono.

Purwono juga menjelaskan secara keseluruhan jumlah ekspor ke Australia memang tidak sebesar di Malaysia. Ditargetkan perseroan akan menyuplai  5.000 ton per kuartal ke Australia. 

Selain Anti Dumping Duty ini, Januari lalu pun pemerintah telah mengeluarkan kebijakan pembatasan impor baja lewat Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 110 tahun 2018 tentang Ketentuan Impor Besi atau Baja, Baja Paduan, dan Produk Turunannya. Peraturan ini mulai berlaku pada 20 Januari 2019 dan diharapkan dapat memberikan peluang pertumbuhan bagi industri baja nasional karena penggunaan baja impor akan dibatasi dan lebih mengutamakan penggunaan baja lokal.

Baca juga: Ini Terobosan Didik Prasetyo Selama Jadi Dirut RNI

“Kami optimis bahwa tahun ini Krakatau Steel dapat menaikan penjualan dan produksi baja sebesar 20%-30% dibanding tahun 2018,” tambah Purwono.

Pada kinerja kuartal ketiga 2018, perseroan mampu mencatatkan peningkatan volume penjualan sebesar 14,21% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu menjadi 1.595.260 ton. Kontribusi kenaikan ini disumbang oleh kenaikan penjualan baja lembaran panas dan long product sebesar 26,20% dan 12,92% menjadi 913.619 ton dan 216.738 ton dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. 

Kenaikan volume pendapatan ini, mendorong perseroan meraih pendapatan bersih  sebesar 1.274,10 juta dolar AS atau meningkat 22,71% dibanding kuartal ketiga tahun 2017. 

Krakatau Steel merupakan produsen baja terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi 3,15 juta ton per tahun. Perseroan resmi berdiri pada 1970 diberikan mandat untuk memenuhi kebutuhan baja nasional. Perseroan resmi tercatat sebagai Perusahaan publik dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 November 2010 dengan melepas kepemilikan saham ke publik sebesar 20%. Nilai aset perseroan per 31 Desember 2017 mencapai 4,11 miliar dolar AS.

Baca juga: BP-AKR Siap Bangun 350 SPBU dan Masuk Bisnis Avtur