The Gade Clean and Gold, Memilah Emas di Antara Gundukan Sampah

The Gade Clean and Gold, Memilah Emas di Antara Gundukan Sampah
Bank Sampah Menteng Atas yang dibangun Pegadaian.

Sebuah bangunan berbentuk rumah sederhana berdiri di atas tanah lapang yang tak lebih luas dari lapangan sepak bola. Di depan bangunan tersebut, tampak truk-truk sampah, gerobak, dan beberapa alat lain yang diperlukan untuk pengelolaan sampah.

Beberapa orang berkerumun memilah-milah sampah dari sebuah gundukan besar. Beragam jenis sampah yang menggunung, mereka sortir untuk mendapatkan sampah-sampah yang masih memiliki nilai jual. Mereka bahkan tak terusik oleh gerakan mesin bulldozer yang tengah merapikan gundukan tersebut.

*Sekelompok Ibu-Ibu memilah-milah sampah.

Sementara itu, di dalam sebuah ruangan dari bangunan tadi, tampak seorang perempuan paruh baya sedang sibuk memandangi layar komputernya. Ia sedang melakukan rekap data jumlah sampah sekaligus mencatat tabungan warga.

Bangunan itu adalah “Bank Sampah” yang berada di komplek Dipo Sampah Menteng Atas (Mentas), Setiabudi, Jakarta Selatan. Dibangun bulan Februari tahun 2019, ini adalah sebuah bentuk tanggung jawab sosial (CSR) dari PT Pegadaian (Persero). Selain menyumbang bangunan untuk kantor administrasi, Pegadaian juga menyumbang mesin press sampah plastik atau kaleng.

Sebelum kehadiran Pegadaian, aktivitas rutin di Dipo Sampah Mentas adalah pengumpulan sampah dari warga dan sekolah-sekolah. Kemudian, sampah tersebut dipilah dan diolah berdasarkan prinsip 3R (Reduce, Reuse dan Recycle).

“Awalnya ya tetap ada aktivitas pemilahan sampah, ada jual beli sampah layaknya lapak dan ada juga yang dibuat kerajinan tangan,” ungkap Rita Djamalia, salah satu staf 3R dari Dinas Lingkungan Hidup, Jakarta Selatan. 

Rita inilah yang membantu mendata sampah, menghitung sampah organik dan non-organik bahkan residual yang harus dibawa ke Bantargebang.

Pegadaian datang mengenalkan “Bank Sampah” dengan menawarkan tabungan emas sebagai imbalan untuk sampah-sampah yang dijual warga. Konsepnya sederhana, warga masyarakat cukup mengumpulkan sampah berupa botol, kardus atau sampah lainnya untuk dijual kepada Bank Sampah tersebut. 

Nah, hasil dari penjualan sampah tersebut lalu ditabung dan nilai tabungannya akan dikonversi dalam bentuk emas.

“Ini setelah tahu nabung bisa dapet emas, itu jadi pada tertarik,” ungkap Rita. 

TABUNGAN EMAS

Saldo tabungan emas milik warga tidak dapat ditarik “sembarangan”. Jika nasabah ingin mengambil, setidaknya jumlah tabungan yang terkumpul telah mencapai harga satu gram emas. Jika syarat tersebut terpenuhi, mereka dapat mengambil tabungan dalam bentuk emas, perhiasan atau bahkan uang tunai.

*Buku Tabungan Bank Sampah dan Tabungan Emas Pegadaian

Hingga saat ini jumlah nasabah atau penabung sampah di Bank Sampah Menteng Atas berjumlah sekitar 51 orang. Dari jumlah tersebut, sayangnya baru 7 orang nasabah yang berasal dari warga masyarakat umum di daerah tersebut. Sisanya adalah para pemulung, petugas kebersihan (PPSU) dan kru bank sampah.

“Ya itu, mereka yang daftar karena kebetulan lihat pas acara peresmian. Dari situ mereka tahu kalau bisa nabung sampah ditukar emas,” lanjut Rita.

Kurangnya partisipasi warga ini menurut Rita disebabkan oleh sosialisasi terhadap warga yang kurang menyeluruh. Tentunya hal ini sangat disayangkan karena sebetulnya, sampah terbanyak yang terkumpul di Dipo Menteng Atas tersebut adalah sampah rumah tangga dari warga sekitar. 

Ia berharap pihak Pegadaian membantu Dinas Lingkungan Hidup melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar.

“Ya kalau bisa Pegadaian ikut sosialisasi ke warga-warga karena mereka yang lebih tahu (tentang tabungan emas). Saya jujur saja belum dapat materinya. Takutnya malah salah mau jelasin,” aku Rita.

Sementara itu, Vira, salah satu nasabah yang berasal dari warga perkampungan memberikan alasan yang senada dengan pernyataan Rita ketika ditanya soal alasan menabung.

“Awalnya ya tahu karena itu ada perayaan rame banget sampe jalannya ditutup. Jadi saya penasaran trus nanya-nanya,” jelasnya. 

Suami Vira, Welly, juga sangat mendukung keputusan istrinya untuk menabung di Bank Sampah. “Kan pada dasarnya Pegadaian itu kan ngajarin nabung. Berapa pun besarnya diterima. Kalau nabung di bank biasa kan ya minimal 50 ribu tapi ya harus ke bank dulu baru bisa nabung. Kalau di bank sampah ini bisa berapa saja,” timpalnya ketika tim Upperline mengobrol dengan Vira.

Di Bank Sampah Mentas ini, nasabah memang bisa menabung uang tunai selain dengan sampah. Hanya saja, jumlahnya tak boleh kurang dari 6 ribu rupiah.

Kini tabungan Vira sudah mencapai 650 ribu. Ia menabung sejak Februari lalu, tidak hanya dari sampah yang ia kumpulkan tetapi juga uang tunai yang ia sisihkan. Menurut cerita Rita, ada beberapa pemulung yang tabungannya sudah mencapai hampir dua juta. Sebagian diambil dan sisanya sengaja disimpan untuk keperluan Lebaran.

THE GADE CLEAN AND GOLD

*Bangunan Bank Sampah The Gade Clean and Gold di Menteng Atas.

Sejak Agustus tahun lalu, Pegadaian telah menginisiasi Bank Sampah The Gade Clean and Gold. Nama “Gade” diambil dari nickname Pegadaian yang sudah menjadi brand yang dikenal milenial. Sedangkan dua kata berikutnya mudah ditebak, adalah visi Pegadaian untuk merawat kebersihan sekaligus memberikan manfaat berupa emas.

Bank sampah di Menteng Atas adalah yang ke-14 yang telah dibangun oleh Pegadaian. Sejauh ini ada sebanyak 16 bank sampah yang sudah dibangun dan tersebar di berbagai kota di antaranya Bekasi, Pekanbaru, Banjarmasin, Makassar, Semarang dan kota-kota lainya.

Baca juga: Pegadaian Bangun Bank Sampah ke-14 di Menteng Atas Jaksel

The Gade Clean and Gold ini merupakan salah satu program CSR Pegadaian yang merupakan bagian dari Program Bina Lingkungan: Pegadaian bersih-bersih. Adapun bersih-bersih yang dimaksud meliputi tiga hal yaitu bersih-bersih administrasi, bersih hati dan bersih lingkungan.

Masalah sampah sendiri di Indonesia  sudah menjadi masalah nasional. Volume produksi sampah di Indonesia mencapai angka 65,8 juta ton per tahunnya, di mana 16% dari jumlah tersebut merupakan sampah plastik. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai pemasok sampah nomor dua terbesar di dunia setelah Negara Tirai Bambu, China.

Pegadaian, sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki tanggung jawab untuk membantu pemerintah dalam memerangi sampah.

“Memilah sampah itu sangat membantu pemerintah, sangat membantu lingkungan. Kami mohon peran serta bapak-bapak ibu semuanya agar Indonesia menjadi Indonesia yang bersih,” ungkap Kuswiyoto, Direktur Utama Pegadaian saat menghadiri peresmian Bank Sampah Menteng Atas.

Melalui The Gade Clean and Gold, Pegadaian berusaha memupuk sebuah pemahaman di benak masyarakat. Bahwasanya, sesuatu yang sering kita anggap sampah bisa jadi adalah harta berharga bagi orang lain atau diri kita sendiri. Pegadaian percaya bahwa sampah masih bisa diolah dan memiliki nilai ekonomi. Sampah masih bisa berubah menjadi emas. 

Baca juga: Pegadaian Gold for Work Catatkan Rekor LEPRID