Taring BUMN di Pasar Internasional

Taring BUMN di Pasar Internasional

Badan Usaha Milik Negara atau BUMN memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan perekonomian Indonesia. Meski saat ini beberapa perusahaan BUMN sudah go public dan melibatkan swasta sebagai pemegang saham, keuntungan BUMN tetap sebesar-besarnya dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Ditunjang dengan kekayaan alam Indonesia yang melimpah, BUMN sudah pasti menjadi salah satu sumber pendapatan negara yang sangat diperhitungkan.

Di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang makin melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), BUMN diharapkan cukup sigap menanggapi isu ini. Pasalnya, salah satu faktor pelemahan rupiah ini adalah tingginya jumlah import barang yang dilakukan oleh perusahaan swasta maupun pemerintah, termasuk BUMN. Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menghimbau jajarannya agar mengurangi impor barang-barang yang tidak begitu penting dan meningkatkan terus meningkatkan export. 

Sebagai penggerak ekonomi negara, BUMN memang diharapkan mampu untuk berkibar di dunia internasional. Bukan saja untuk meningkatkan ekonomi Indonesia, tetapi juga meningkatkan kredibilitas perusahaan Indonesia di mata dunia. 

Menteri BUMN, Rini Soemarno, terus berupaya mendorong agar BUMN maju ke kancah internasional. Ia ingin agar BUMN memberikan contoh yang baik bagi pelaku usaha lainnya. Kiprah BUMN di dunia internasional menurutnya akan memberikan angin segar bagi iklim usaha Indonesia secara menyeluruh karena ketika produk BUMN sudah diakui oleh negara lain, mereka juga turut mengakui kualitas dan profesionalisme sumber daya manusia Indonesia. 

Untuk itulah ia menekankan agar BUMN tidak henti-hentinya melakukan branding ke pasar internasional. Branding tersebut menyangkut dua hal. Yang pertama adalah bahwa BUMN merupakan milik negara dan rakyat. Dan yang kedua adalah bahwa mereka mampu menyajikan produk yang unggul dan berkualitas.

Pakar ekonomi Tanri Abeng pernah menyampaikan tiga hal yang menjadi kunci agar BUMN bisa merambah dunia internasional. Yang pertama, BUMN harus memiliki masterplan atau cetak biru. Selanjutnya, mereka juga harus memiliki CEO atau pimpinan yang berpola pikir global, dan yang terakhir adalah adanya good governance.

Di antara keraguan maupun optimisme berbagai kalangan terkait kemampuan BUMN bermain di pasar internasional, nyatanya sejumlah BUMN besar sudah mulai bicara melalui bukti. Di antaranya, sebut saja PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Pindad (Persero), PT Bank Mandiri Tbk, PT Perkebunan Nusantara, PT Garuda Indonesia, PT Pertamina (Persero), dan beberapa perusahaan di sektor lainnya.

PT Telkom Indonesia Tbk adalah salah satu perusahaan Indonesia yang masuk dalam Global 500, yakni sebutan untuk 500 perusahaan terbaik dunia yang diriset dan diterbitkan oleh Majalah Fortune. Di tahun ini, brand value dari Telkom sendiri mengalami kenaikan yang cukup signifikan, yakni sebesar 5,2 miliar USD seperti dikutip dari situs bumn.go.id.

Prestasi tersebut memang tidak mengherankan karena Telkom adalah salah satu BUMN yang paling gencar berinovasi dan berani menggenjot pasar luar negeri. Melalui anak perusahaannya, PT Telkom Indonesia Internasional (Telin), Telkom Indonesia melebarkan sayapnya manca negara. Diinisiasi sejak 2007, Telin mulai investasi besar ke Timor Leste setelah mendapatkan 15 tahun lisensi spektrum radio untuk layanan telekomunikasi seluler pada frekuensi 900 MHz, 1800 MHz, dan 2,1 GHz band serta registrasi penyedia jasa di Republik Demokratik Timor Leste pada 2012. Anggaran yang disiapkan untuk ekspansi tersebut konon mencapai 50 juta dolar Amerika. Upaya tersebut membuahkan hasil yang memuaskan karena ketika pertama kali launching, telkomcel, merek dagang Telin di Timor Leste, sudah mampu meraih 23.000 pengguna. Hingga saat ini, jumlah pengguna semakin meningkat hingga mengalahkan provider lokal. Telkomcel ini bahkan sudah dipake lebih dari 60 persen penduduk Timor Leste.

Hingga saat ini, Telin telah bermain di 10 negara dengan produk yang beragam. Dari tahun 2011 hingga 2018, Telin sudah beroperasi di Singapura, Hong Kong, Timor Leste, Australia, Malaysia, Amerika Serikat, Myanmar, Macau, Taiwan, Selandia Baru dan Arab Saudi. 

Saat ini Telin mengelola 19 kabel laut internasional dengan panjang hingga 163.5 ribu kilometer atau empat kali keliling khatulistiwa, memiliki 57 Point  of  Presence (PoP) di 27 negara, dan mengelola 4 data center di luar negeri  dengan merek NeutcentrIX. Direktur Wholesale & International Services Telkom, Abdus Somad Arief, menyampaikan bahwa pertumbuhan pendapatan Telin dari bisnis internasional sangat menjanjikan. Tahun 2017 growth revenue dari bisnis global Telin mencapai 23%, dan tahun ini diprediksi bisa lebih besar karena terus ekspansi. Dengan capaian tersebut, tidak heran bila PT Telkom Indonesia mendapat predikat sebagai perusahaan telekomunikasi paling bernilai di Asia Tenggara.

Dari sektor industri strategis, beberapa perusahaan juga sudah mencoba pasar luar negeri, salah satunya adalah PT INKA (persero). Awal tahun ini PT INKA banjir pesanan dari pasar global, satu di antaranya Filipina. Januari 2018, Filipina telah menandatangani kontrak  pengadaan Kereta Rel Diesel dengan nilai proyek sebesar 485 peso atau setara dengan 127,8 miliar rupiah. 

Selain Filipina, PT INKA juga sudah beberapa kali mengekspor produknya ke Bangladesh. Tak hanya kawasan Asia, PT INKA menargetkan Afrika, terutama Afrika Selatan,sebagai pasar selanjutnya. Saat ini PT INKA diminta untuk bergabung dengan Bombardier, produsen alat transportasi Perancis, untuk mengerjakan pengadaan 30 unit lokomotif untuk Zambia. 

PT INKA hanyalah salah satu contoh BUMN eksportir dari sektor industri strategis. Selain perusahaan produsen kereta api ini, terdapat juga PT Pindad (persero) produsen alat militer, PT Dirgantara produsen pesawat komersial dan komponen-komponennya, dan PT Barata produsen komponen kereta api, yang juga sudah dan akan terus menggalakkan ekspornya di tahun ini.

Mengintip kinerja dari sektor pertambangan, terdapat PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), sebagai holding perusahaan pertambangan yang menargetkan ekspor perusahaan tambang sebesar 37 triliun rupiah pada tahun 2018. Dari angka tersebut, jumlah yang telah terealisasi sampai Agustus adalah sebesar 62,5%. PT Aneka Tambang (Antam) menyumbang perolehan tersebsar dengan nilai 15 triliun rupiah dengan mengekspor sebanyak 7,37 ton emas dan 3 ton perak. Selanjutnya, PT Bukit Asam (PTBA) juga ikut berkontribusi dengan mengekspor 7 juta ton batu bara yang dihargai 829 juta dolar AS.

PT Timah Tbk pun tak ketinggalan dalam menambah devisa negara. Hingga Agustus 2018, angka yang berhasil dikumpulkan PT Timah adalah 563 juta dolar AS. Inalum sendiri bahkan masih kalah nilai ekspornya dibandingkan PT Timah. Perusahaan ini hanya membukukan sekitar 79 juta dolar AS.

Kisah sukses ekspansi ke luar negeri tentunya juga tak lepas dari kisah sukses Garuda Indonesia yang tidak henti berinovasi. Maskapai penerbangan yang telah tergabung sebagai anggota skyteam pada 2014 ini berhasil menghubungkan 83 destinasi di berbagai belahan dunia. 

Garuda Indonesia telah menjadi maskapai yang diakui di kancah dunia penerbangan dunia. Keramahan awak pesawat mengantar Garuda pada penghargaan "The World Best Cabin Staff" dari Skytrax (lembaga pemeringkat penerbangan independen di London). Selain World’s Best Cabin Staff,  Garuda Indonesia kembali mempertahankan reputasinya sebagai maskapai dengan layanan bintang lima, di antaranya;  Top 5 World’s Best Airlines in Asia,  Top 10 World’s Best First Class Airlines,  Top 10 World’s Best Economy Class Airlines, dan The Most Loved Airline.

Tentunya, masih banyak kisah sukses BUMN yang berhasil menjual produknya ke negara lain. Berikut adalah daftar BUMN yang sudah melakukan ekspansi ke pasar internasional. KIta berharap nilai ekspor semakin banyak dan perekonomian Indonesia semakin kokoh.