Target Bauran Energi Tahun 2025 dan Dukungan Korporasi

Target Bauran Energi Tahun 2025 dan Dukungan Korporasi
Panel tenaga surya. Sumber: blog Google

Pemerintah Indonesia telah menetapkan target yang ambisius untuk bauran energi tahun 2025. Melalui Kebijakan Energi Nasional dan sejalan dengan komitmen yang dibuat pemerintah pada acara Konferensi COP 21 di Paris, Indonesia menetapkan serangkaian target dalam hal lingkungan dan perubahan iklim.

Salah satu target tersebut adalah target bauran energi, di mana pada tahun 2025 ditargetkan porsi energi baru dan terbarukan (EBT) mencapai 23%. Hal ini cukup ambisius mengingat porsi EBT pada saat ini dalam bauran energi hanya sekitar 7%. 

Data dari SKK Migas menyebutkan, pada tahun 2017 sumber energi kita masih didominasi oleh bahan bakar fosil, seperti minyak bumi (40%), gas (30%), batu bara (23%), dan EBT (7%). Mengingat sifat bahan bakar fosil yang akan habis, peran EBT sangat penting untuk menjaga ketahanan energi nasional. Pada tahun 2025, yaitu kurang dari 6 tahun lagi, target bauran energi yang ingin dicapai adalah: batu bara (30%), minyak bumi (25%), EBT (23%) dan gas (22%).

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Energi, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kemenko Perekonomian Montty Girianna mengatakan, dalam mengelola penggunaan energi, terutama listrik, pemerintah selalu dihadapkan pada trilemma energi, di mana langkah yang diambil pemerintah harus memperhatikan keseimbangan antara ketiga aspek, yaitu: Ketahanan Energi, Keadilan Energi, dan Keberlangsungan Lingkungan. Dari ketiga aspek tersebut tak satu pun yang diprioritaskan. 

Ini berarti pemerintah berusaha mencapai produksi energi dengan cara yang memperhatikan keberlangsungan lingkungan hidup, mengelola supply energi dengan efektif untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan masa datang, dan tetap menjaga agar energi dapat diakses dan terjangkau oleh seluruh populasi dan juga untuk mendukung kemajuan ekonomi. 

Hal ini dikatakan Montty pada acara Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) International Energy Conference (IEC) 2019 di Jakarta 13 November 2019 yang lalu. Dalam acara yang mengambil tema “The Role of New, Renewable and Clean Energy in Achieving SDG7: Policy, Investment and Technology” tersebut mencuat beberapa data yang dapat memberi gambaran kesiapan Indonesia dalam mencapai target bauran energi pada tahun 2025. 

Menurut Meg Argyriou, Head of International Programs Climate Works, Australia, Indonesia memiliki sumber EBT yang berlimpah, seperti tenaga surya, angin, air, bioenergy, dan geothermal. Namun sebagian besar dari energi ini belum dimanfaatkan dengan baik.

Dalam acara itu Meg menggarisbawahi bahwa Indonesia telah sepenuhnya merangkul SDG (Sustainable Development Goal) yang ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 2015. 17 Goal yang dirancang untuk menyediakan blueprint untuk mencapai masa depan yang lebih baik dan lebih sustainable untuk semua ini ditetapkan bersama untuk dicapai pada tahun 2030. Terkait energi adalah SDG nomor 7 yakni Affordable and Clean Energy.

 

 

Meg menambahkan bahwa tercapainya SDG7 akan mendorong tercapainya SDG yang lain, misalnya SDG3 Good Health and Well Being, SDG8 Decent Work and Economic Growth, dan SDG13 Climate Action

“Memprioritaskan pembangunan infrastruktur rendah karbon akan menambahkan 26 triliun dolar AS pada perekonomian global di tahun 2030, dan menciptakan 65 juta lapangan pekerjaan baru,” demikian tutur Meg Argyriou. 

Meg sangat optimis bahwa pangsa pasar global untuk teknologi rendah karbon akan berkembang sangat pesat. Dalam riset yang dilakukan Climate Works bekerja sama dengan Vivid Economics terhadap strategi industrial rendah karbon di Indonesia, Vietnam dan Filipina, mereka memprediksikan kenaikan pangsa pasar enam kali lipat untuk teknologi rendah karbon dari sekitar 1 triliun USD hari ini menjadi 6 triliun USD dalam tiga dekade. 

Meg memuji Indonesia dalam peningkatan energy efficiency. Indonesia berinovasi 8 kali dari tingkat rata-rata global dalam industrial energy efficiency. Contohnya saja, Indonesia sudah memproduksi komponen angin yang lebih kompetitif dibanding rata-rata global. Indonesia mampu membuat menara angin dengan biaya seperlima dari China, walaupun menara tersebut masih jarang digunakan secara umum. 

Karena itu Meg menilai terdapat potensi yang besar untuk pengembangan EBT di Indonesia. “Teknologi energi terbarukan tidak hanya akan menarik investasi, yang kemudian akan menciptakan lapangan pekerjaan dan menambahkan nilai ekonomi, tetapi dengan memanfaatkan peluang untuk membangun kapasitas manufacture dan inovasi, energi terbarukan akan membantu mendiversifikasi perekonomian Indonesia dan memposisikan Indonesia untuk pertumbuhan ekonomi yang sustainable,” pungkas Meg.

Tantangan dalam Pengembangan EBT dan Dukungan Korporasi

Dalam mengembangkan dan meningkatkan investasi untuk energi baru dan terbarukan (EBT) terdapat empat tantangan yang dihadapi, yaitu:

1. Tingginya Cost of Financing dan Rendahnya Return of Investment

2. Perbedaan Harga antara EBT dan Energi Fosil

3. Teknologi yang diimpor relatif masih tinggi

4. Isu Legal dan Teknikal

Menurut Joel Kwong dari BCG pada acara yang sama, pada akhirnya suara dari konsumen global akan membantu menjembatani antara kepentingan ekonomi dan lingkungan hidup. “Meningkatnya kesadaran konsumen dan adanya aksi untuk mengekspresikan preferensi terhadap kelangsungan lingkungan hidup pada akhirnya akan mendorong perusahaan merespons pada permintaan konsumen,” kata Joel.

Di sisi korporasi, saat ini setidaknya 191 perusahaan global telah bergabung dalam RE100, yaitu perusahaan-perusahaan yang berkomitmen untuk 100% renewables. RE100 terdiri dari para perusahaan influential seperti Apple, Google, Facebook, Microsoft, Salesforce, Ikea, Danone, Bank of America, Nike dan BMW Group.

"Landasan dari usaha kami untuk keberlangsungan lingkungan adalah komitmen kami kepada energi bersih. Kami telah menjadi perusahaan carbon-neutral sejak 2007. Tahun 2017 kami menjadi perusahaan pertama seukuran kami yang menyamai konsumsi listrik tahunan keseluruhan dengan energi terbarukan. Dan kami lakukan itu lagi pada tahun 2018. Hasilnya, kami menjadi pembeli korporat terbesar di dunia untuk energi terbarukan," tulis Sundar Pichai, CEO Google dalam blog-nya.

Ketika memilih lokasi untuk membuka pabrik, Nike mengadakan kompetisi untuk mengukur dari enam negara di Asia Tenggara mana yang bisa memberikan kemampuan menggunakan 100% energi terbarukan. Kompetisi itu akhirnya dimenangkan oleh Vietnam yang mampu menyediakan kemampuan menggunakan 100% energi terbarukan. Ini menunjukkan komitmen dunia industri yang serius mendukung pengembangan EBT.

Dari sisi investasi Joel Kwong juga mencatat bahwa investor kini semakin menyadari risiko yang terkait dengan perubahan iklim dan mulai mendivestasikan portofolio mereka dari aset berbasis fosil kepada yang lebih “hijau”. Misalnya, dana pensiun terbesar di Norwegia mulai mendivestasikan portfolionya dari perusahaan-perusahaan yang menghasilkan lebih dari 50% pendapatan dari aktivitas berbasis batu bara. Allianz juga memindahkan investasi dari perusahaan yang menghasilkan lebih dari 30% pendapatan dari pertambangan batu bara.

Dari sisi keuangan, terdapat kenaikan penerbitan Green Bond, yaitu instrumen sukuk yang secara eksklusif digunakan untuk mendanai sebagian atau sepenuhnya proyek-proyek yang ramah lingkungan. 

Baca juga: Dorong Energi Baru dan Terbarukan, PYC Gelar Konferensi Energi Internasional