Tak Ingin Ketinggalan Jaman, Balai Pustaka Serius Garap Konten Digital

Tak Ingin Ketinggalan Jaman, Balai Pustaka Serius Garap Konten Digital
Talkshow Film Sarcophagus Onrust pada Jumat (18/10)

Digitalisasi berdampak besar untuk dunia bisnis Indonesia, tak terkecuali bisnis percetakan. Badan Usaha Milik Negara, Balai Pustaka pun tak luput terkena dampak digitalisasi tersebut.

“Tahun 2000-an kan kita sempat jatuh. Nah sekarang kita mulai bangkit lagi,” ungkap Direktur Utama Balai Pustaka, Dewananda Wardana yang kerap disapa Wanda saat Talkshow Film “Sarcophagus Onrust” (18/10).

Jika tak ingin mati, satu-satunya pilihan yang bisa diambil perusahaan adalah beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Dan pilihan yang diambil Balai Pustaka adalah beradaptasi serta melakukan transformasi.

“Karena buku agak turun, ya kita masuk ke digital. Ada e-book, audiobook dan juga kita jualan buku secara online lewat tokopedia dan blanja.com,” ungkap Wanda.

Selain memasukkan unsur digitalisasi dalam produk buku, Balai Pustaka juga menaruh harapan besar pada produk-produk berupa video.

“Intinya, sekarang bisnis sedang nyaman di video. Jaman sekarang video sudah bukan hal yang susah,” ungkapnya lagi.

Balai Pustaka saat ini sedang melakukan kurasi konten-konten yang dimilikinya. Karya-karya berupa buku tersebut rencananya akan dialihmediakan dalam bentuk video seperti layar lebar, webseries dan animasi.

Wanda mengatakan bahwa Balai Pustaka tengah mempersiapkan 10 film yang akan diproduksi. Kesepuluh film tersebut berasal dari novel-novel terbitan Balai Pustaka. Beberapa novel yang ceritanya akan difilmkan di antaranya Sarcophagus Onrust karya Astryd D'Savitri, Siti Nurbaya karya Marah Roesli, Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana dan novel-novel lainnya.

Kini, Sarcophagus Onrust telah masuk ke tahap produksi dan ditargetkan akan rilis di bioskop pada Maret 2020 mendatang. Tak hanya di Indonesia, fim karya sutradara Irham Acho Bactiar ini rencananya juga akan didistribusikan ke Malaysia.

Sekilas tentang Sarcophagus Onrust, film ini beraliran science fiction horror dan dibintangi aktor-aktor muda seperti Allif Ali (Herat 2, Cinta Dari Surga) dan Yoriko Angeline (Hijrah Cinta). Selain itu, ada beberapa aktor kenamaan yang mendukung film tersebut seperti Happy Salma, Donny Damara, dan El Manik.

“Intinya adalah bagaimana budaya Indonesia, sejarah di Indonesia itu ditampilkan sedikit-sedikit secara menarik sehingga anak-anak muda kalau sudah tahu ceritanya itu bisa eksplor,” ungkap Wanda.

Ia pun berharap genre horor yang diusung film tersebut menjadi magnet bagi penikmat film. Setelah penonton paham dengan isi cerita, diharapkan mereka akan tertarik untuk menonton film sekuelnya. Rencananya, film ini akan dibuat dalam format trilogi.

Dalam proses pembuatan filmnya, Balai Pustaka terlibat dalam segala aspek mulai dari pendanaan, brainstorming skenario, penentuan cast dan bahkan promosi dan distribusi.

Selain film layar lebar, Balai Pustaka juga akan merambah konten video lain yakni webseries dan animasi. Semua video garapan Balai Pustaka akan mengambil cerita dari karya-karya yang sudah diterbitkan oleh BUMN tersebut.

“Kita ambil cerita dari buku terbitan Balai Pustaka. Kita ada lebih dari 6.000 karya baik itu karya pujangga, cerita anak dan lain-lain, sehingga tidak akan kehabisan ide,” ungkap Wanda.

Sementara itu, untuk dapat mewujudkan rencana tersebut Balai Pustaka membutuhkan tim. Wanda mengaku menggunakan tim eksternal atau berkolaborasi dengan pihak lain.

“Timnya dari luar. Kita konsepnya kolaborasi. Jadi Balai Pustaka terbuka dengan Production House (PH) yang ingin bekerja sama atau penulis yang akan mengirimkan karyanya,” terang Wanda.

Meski digitalisasi terus diadopsi oleh masyarakat Indonesia, buku dalam bentuk fisik/cetak masih memiliki tempat di hati para pembaca. Tahun lalu, Gramedia menyebutkan bahwa peminat buku cetak naik sebesar 5 – 10 persen. Balai Pustaka tidak lantas mengesampingkan itu.

“Justru setelah orang-orang melihat film atau webseries yang ceritanya diambil dari buku, mereka akan terdorong untuk membaca buku jika ingin mengetahui ceritanya secara lebih detail,” tandas Wanda.

Meskipun umurnya sudah lebih dari satu abad, Balai Pustaka tetap ingin dekat dengan milenial. Jika Upperliners ingin bertegur sapa dengan Balai Pustaka, kalian bisa berkunjung ke Kafe Sastra.

Kafe tersebut dibangun di Jl. Bunga Matraman No. 8 dan dikonsepkan sebagai tempat ngopi sekaligus galeri karya-karya terbitan Balai Pustaka. Di tempat tersebut pulalah para kreator berdiskusi kala akan bekerja sama dengan Balai Pustaka.

Baca juga: Telkom Bertekad Wujudkan Masyarakat Digital Indonesia