Strategi Sarinah Hadapi New Normal

Strategi Sarinah Hadapi New Normal
Gusti Ngurah Putu Sugiarta Yasa Direktur Utama Sarinah dalam sharing online DSCF

Pandemi Covid-19 sangatlah memukul perekonomian, salah satu yang terdampak cukup berat adalah industri retail. Direktur Utama Sarinah Gusti Ngurah Putu Sugiarta Yasa mengatakan, omzet perusahaan turun lebih dari 50 persen. 

“Tapi kita tidak boleh berdiam diri. Kami melakukan aktivasi-aktivasi dengan platform digital yang dikembangkan Sarinah,” ujar Ngurah dalam acara Digital Supply Chain Forum (DSCF) secara online Rabu 20 Mei 2020.

Dalam sharing session yang mengangkat tema “Tracking the Response of Retail Industry to Covid-19” Ngurah mengungkap bagaimana Sarinah merespon dalam menghadapi era baru yang disebut “new normal” di tengah pandemi Covid-19 ini. “Semua parameter masih unpredictable, karena itu Sarinah mempersiapkan Survival Strategy, Recovery Strategy, dan Sustainability Strategy,” lanjut Ngurah. 

Termasuk dalam Survival Strategy adalah mengikuti peraturan pemerintah untuk berhenti beroperasi, karena itu Sarinah harus mengurangi kerugian bisnis, menjaga cash flow agar bisa bertahan, melakukan inventori aset, dan meningkatkan efisiensi. 

Sambil melakukan itu, Sarinah juga sedang mempersiapkan transformasi bisnisnya yang akan mengubah total wajah Sarinah dan menjadikan Sarinah ekosistem bisnis untuk industri kreatif di Indonesia. 

Wajah Baru Sarinah

Dalam merancang wajah baru Sarinah, tidak terlepas dari master mind Sarinah, yaitu Proklamator RI Bung Karno. Presiden Soekarno sendiri yang memberi nama Sarinah dan meresmikan department store pertama di Indonesia itu pada tanggal 17 Agustus 1962. Sarinah didirikan dengan maksud menjadi etalase produk Indonesia, menjadi pioneer bisnis retail yang memasarkan produk-produk Indonesia di dalam negeri maupun di manca negara.

“Misi awal tersebutlah yang kita tetap emban hingga saat ini. Ini sudah 58 tahun Sarinah hadir, sebagai peritel pertama di Indonesia, juga pencakar langit pertama di Indonesia,” ujar Ngurah. 

Ngurah membeberkan empat pilar bisnis Sarinah, yaitu retail, trading, digital, dan building management. Di masa PSBB dimana toko Sarinah tidak dapat beroperasi, maka Sarinah bersyukur memiliki portofolio yang lain. Ngurah mengakui saat ini penyumbang revenue terbesar adalah dari trading (impor dan eskpor) serta building management

Di dalam wajah baru Sarinah yang saat ini sedang disiapkan, konsep department store akan diubah menjadi specialty store untuk UMKM Indonesia dan brand lokal serta Duty Free store. 

Sarinah juga mengusung konsep “Experience Zone” yang memadukan unsur budaya, turisme, sejarah, games, dan kuliner dengan model kekinian dengan menggunakan teknologi-teknologi terkini.

“Dalam waktu dekat kami akan membangun trading house. Trading house ini akan menjadi one stop solution, yang menghubungkan UMKM dengan pembeli, serta pemerintah dan mitra-mitra pendukung,” jelas Ngurah.

Di sisi Retail, Sarinah mempersiapkan smart retail ecosystem dengan konsep O2O dan Omni-channel fulfillment solution. Dalam konsep ini Sarinah akan memperkuat e-commerce-nya sendiri serta bekerjasama dengan platform-platform marketplace dalam negeri maupun manca negara. 

Ngurah menjanjikan bahwa Sarinah harus tampil kekinian, mengutip pernyataan Menteri BUMN Erick Thohir. 

“Setelah Covid berakhir, kita akan melihat wajah baru Sarinah,” pungkasnya. 

Baca juga: Direnovasi, Seperti Apa Wajah Mall Sarinah ke Depannya?