Strategi Pertamina Untuk Transisi Energi

Strategi Pertamina Untuk Transisi Energi
Heru Setiawan dari Pertamina, Massimo Trani dari ENI, dan Sandeep Biswas dari AT Kearney dalam salah satu sesi panel Pertamina Energy Forum 2019 yang dimoderatori oleh Kania Sutisnawinata.

Dalam acara Pertamina Energy Forum 2019 yang berlangsung 26-27 November yang lalu, Pertamina membeberkan sejumlah jurus dan strategi yang akan diambil perusahaan dalam rangka melakukan transisi energi menuju energi baru dan terbarukan. Dalam acara yang berlangsung di hotel Raffles Jakarta tersebut, Pertamina juga membebarkan roadmap perusahaan hingga tahun 2026, serta Pertamina Energy Outlook 2050.

Transisi energi menuju energi baru dan terbarukan (EBT) adalah sesuatu yang sedang berlangsung secara global. Secara khusus bagi Pertamina, EBT dianggap penting untuk bisnis Pertamina, antara lain karena semakin menurunnya produksi minyak dan gas.

Senior Vice President Research & Technology Center Pertamina Dadi Sugiana menjelaskan beberapa faktor yang membuat pengembangan EBT sangat penting untuk bisnis Pertamina. Faktor-faktor tersebut adalah: menurunnya produksi minyak dan gas, defisit pada neraca perdagangan, meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, isu lingkungan hidup, dan besarnya potensi EBT di Indonesia.

“Sejak tahun 2000 konsumsi minyak dalam negeri meningkat sementara produksi menurun. Sejak tahun 2004, Indonesia telah menjadi net oil importer,” ujar Dadi Sugiana dalam salah satu sesi Pertamina Energy Forum 2019.

Keseriusan Pertamina dalam mengembangkan energi baru dan terbarukan terlihat pada dana yang telah disiapkan oleh perusahaan. Heru Setiawan, Planning, Investment & Risk Management Director Pertamina menyampaikan, dalam rangka memenuhi permintaan untuk EBT, Pertamina mendedikasikan budget investasi pada periode 2020-2026 sepuluh kali lipat dari nilai investasi pada tahun 2017.

Pada tahun 2017, capex untuk EBT sejumlah 37 juta dolar AS (atau sekitar 521 miliar rupiah). Sedangkan untuk periode 2020-2026 Pertamina telah menyiapkan pengeluaran sebesar 428,57 juta dolar AS (atau sekitar 6 triliun rupiah). 

Dadi Sugiana menambahkan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar untuk EBT, antara lain berasal dari air (Hydro Power), tenaga surya (Solar Power), angin (Wind Power), bioenergi (Bioenergy to Power), panas bumi (Geothermal), dan laut (Ocean). Ia mengatakan bahwa Pertamina akan meningkatkan implementasi pengembangan EBT. 

“EBT sering dipersepsikan sebagai energi yang mahal. Tetapi tren menunjukkan bahwa harga EBT terus menurun dari tahun 2010 hingga tahun 2018. Sekarang EBT menjadi semakin kompetitif. Tentunya hal ini akan menjadi semakin murah lagi dengan semakin canggihnya teknologi,” kata Dadi Sugiana, 27 November 2019.

Dadi juga membeberkan rencana Pertamina di mana perusahaan akan membangun pabrik Solar PV di Indonesia. Untuk mendukung tren kendaraan listrik (di mana diperkirakan pada tahun 2025 kendaraan listrik akan mencapai porsi 20 persen dari total kendaraan), perusahaan juga akan membangun pabrik baterai. Menurut Dadi, baterai akan menjadi backbone dalam energi baru dan terbarukan.

“Indonesia adalah lokasi yang kompetitif untuk membangun industri baterai karena cadangan nikel yang sangat besar di Indonesia,” ungkap Dadi. Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia di mana nikel menjadi salah satu bahan utama dalam pembuatan baterai.

Pada tahun 2026 berikut adalah aspirasi Pertamina dalam hal energi baru dan terbarukan: Membangun pabrik bio-refinery, mengembangkan kapasitas manufaktur baterai, meningkatkan kapasitas solar PV, membangun kapasitas pabrik DME, mengembangkan pabrik biogas dan biomass, dan mengembangkan bioethanol generasi pertama dan kedua.

Dadi mengatakan bahwa Pertamina telah bertransformasi dari perusahaan minyak dan gas menjadi perusahaan energi kelas dunia. Hal ini kembali ditegaskan oleh Dharmawan Samsu, Upstream Director Pertamina.

“Pertamina berkomitmen untuk menguatkan posisinya sebagai perusahaan kelas dunia dan berkompetisi secara global, untuk mencapai KPI yang telah dimandatkan oleh para pemegang saham, dan menjadi perusahaan Fortune 100 pada tahun 2026,” ujar Dharmawan Samsu ketika menutup Pertamina Energy Forum 2019.

3 Skenario dalam Mengantisipasi Perkembangan Energi Global

Heru Setiawan mengatakan, dalam menyusun roadmap Pertamina 2026, perusahaan mempertimbangkan enam tren global di sektor energi yaitu: Decarbonization, Customerization, Electrification, Decentralization, Digitalization, dan Integration.

Untuk mengantisipasi perkembangan energi global dan trade balance energi di masa depan, Pertamina memiliki 3 (tiga) opsi “scenario planning”.

Pertama, skenario Business as Usual (BAU) alias tidak melakukan perubahan. Skenario kedua adalah Market as Drivers (MAD) alias mengikuti permintaan pasar, dan skenario ketiga adalah Green as Possible (GAP). 

Dalam skenario GAP akan muncul banyak kebijakan dan perbaikan di bidang teknologi yang mengarah pada adopsi yang signifikan terhadap energi terbarukan. Terobosan-terobosan dalam teknologi kendaraan akan menurunkan permintaan bahan bakar minyak dan meningkatkan penggunaan kendaraan listrik.

Heru mengatakan bahwa perkembangan industri energi secara global pada akhirnya akan mengarah pada skenario GAP. Namun untuk saat ini Pertamina memilih skenario Market as Drivers yang dianggap sebagai langkah transisi ke arah GAP.

“Kecepatan transisi dari BAU ke GAP akan menyesuaikan dengan kebijakan atau regulasi Pemerintah dan kesiapan market. Untuk Indonesia, Skenario MAD merupakan langkah transisi ke arah GAP, di mana demand energi masih akan dipenuhi oleh minyak bumi dengan porsi yang dominan, namun mulai ada substitusi ke gas bumi secara masif dan EBT secara bertahap,” ujar Heru Setiawan, 27 November 2019 di Jakarta.

Heru menambahkan bahwa pemanfaatan EBT di Indonesia saat ini belum sangat agresif mengingat beberapa faktor, antara lain model bisnis EBT belum mendukung pada terciptanya ekosistem bisnis yang atraktif. Selain itu pemanfaatan teknologi yang masih terbatas untuk mendukung proses pengembangan EBT secara efektif dan efisien.

“Dalam melakukan investasi harus dipastikan ada market. Jangan sampai investasi menjadi tidak relevan di kemudian hari,” pungkas Heru. 

Pemerintah telah menetapkan target bauran energi pada tahun 2025 di mana porsi EBT mencapai 23 persen. Apakah hal ini mungkin tercapai, mengingat porsi energi saat ini masih dominan dari bahan bakar fosil dan porsi EBT hanya sekitar 7 persen? Semua pihak harus bekerja keras mengejar target tersebut. Lalu yang masih menjadi pertanyaan adalah, apakah mungkin sepuluh tahun lagi kita tidak perlu lagi mengimpor minyak dan digantikan oleh EBT?

Baca juga: Target Bauran Energi 2025 dan Dukungan Korporasi