Strategi INKA Menembus Pasar Global, Wajib Ekspor Jika Tak Ingin Mati

Strategi INKA Menembus Pasar Global, Wajib Ekspor Jika Tak Ingin Mati
Budi Noviantoro dalam seminar BUMN Going Global

PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA tak punya banyak pilihan untuk bertahan hidup selain ekspansi ke luar negeri. Sebagai perusahaan manufaktur produsen kereta api di Indonesia, pelanggan utama INKA di dalam negeri adalah KAI.

Padahal, kebutuhan KAI juga terbatas dan dapat diprediksi. Jika KAI tidak memiliki proyek baru dan jumlah kereta tercukupi, KAI baru akan memesan kereta 30 tahun kemudian untuk menggantikan kereta lama.

"Saya 30 tahun di KAI, 2 tahun di INKA. Saya tahu betul kapan saatnya KAI harus pesan kereta. Kalau KAI sudah punya semua yang umurnya 30 tahun, ya INKA ga ada yang beli," terang Budi Noviantoro, Direktur Utama PT INKA saat memberikan seminar di Novotel, Cikini pada Selasa 10 Desember 2019.

Itulah kenapa, INKA harus putar otak mencari pasar baru. Salah satunya adalah mengekspor produknya ke negara lain.

Pada saat awal survei ke Afrika, Budi tidak mendapatkan proyek apapun. Bukan karena di negara tersebut kereta api tidak diperlukan, melainkan selain kereta api, mereka juga perlu sarana dan prasarana penunjang lainnya.

"Maka dari itu, dibuat konsorsium. Dari mulai desain, perencanaan, pembiayaan, konstruksi, dan pengawasan. Bahkan kalau perlu kalau operasionalnya,” ungkap Budi.

Konsorsium dibuat melibatkan beberapa BUMN lain dari berbagai bidang seperti konstruksi dan pertambangan. Untuk beberapa negara di Afrika misalnya, dibentuklah konsorsium yang bertajuk Indonesia Railways Development Incorporated for Africa (IRDIA). BUMN-BUMN yang tergabung dalam konsorsium tersebut yakni PT INKA Persero, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT LEN Industri (Persero), dan PT KAI (Persero).

Sementara itu, untuk proyek-proyek kereta api di Asia, dibentuk pula konsorsium yang beranggotakan 4 BUMN bernama Indonesia Railway Development Consortium (IRDC). Dalam konsorsium ini, masuk PT Waskita Karya (Persero) Tbk menggantikan posisi WIKA sedangkan anggota lain masih sama.

"Saya akhirnya belajar bahwa dalam kasus ini, jualan paket lebih diminati daripada jualan sendiri-sendiri," terang Budi.

Dengan konsorsium tersebut, selain mempermudah dalam penjualan, juga mengurangi risiko gagal bayar. Beberapa negara di Afrika dan Asia, meskipun kebutuhan ada, uang untuk membayar pengadaan kereta api belum tentu ada. Itulah mengapa BUMN tambang diajak bergabung.

“Jadi kalau Afrika tidak bisa bayar, mereka kan banyak tambang, makanya kita ajak PT Timah dan Aneka Tambang. Karena kalau Timah mendapat konsensi, mereka yang akan bayar kami,” ungkap Budi.

Salah satu proyek yang sedang berjalan saat ini adalah pembangunan rel untuk pengangkutan hasil tambang ke pelabuhan. Dalam pengerjaannya, IRDIA dan PT Timah Tbk berkolaborasi dengan perusahaan tambang Madagaskar untuk penambangan mineral berupa besi, emas dan krom.

Budi pun memaparkan bahwa untuk menjadi pemain global yang diperhitungkan, sebuah perusahaan harus sampai pada tahap transfer of technology (TOT). Dan itu bukan hal yang mudah.

“Saat ini INKA kalau diibaratkan di sekolah, nilainya masih C. Kalau kita mau cumloude atau mendapat nilai A, kita harus bisa ke tahap TOT. Nah itu yang mau kita raih sekarang,” Budi menjelaskan.

Ia melanjutkan bahwa salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan menjalin kemitraan dengan perusahaan lain di luar negeri yang sudah memiliki reputasi dan teknologi canggih.

Tahun ini, mimpi tersebut berhasil diwujudkan oleh INKA. Tak lama lagi, perusahaan patungan hasil kolaborasi INKA dengan salah satu perusahaan manufaktur kereta api asal Swiss, Stadler Rail Group, akan segera dibangun.

“Ini adalah salah satu terobosan yang kami lakukan untuk mendapatkan nilai A. Stadler ini perusahaan yang besar. Dengan membangun perusahaan bersama, otomatis orang-orang kita dibawa ke sana, terjadi sharing technology,” tandas Budi.

Hingga saat ini, INKA sudah mengirimkan produknya ke berbagai negara seperti Filipina, Bangladesh, Thailand, Malaysia, Singapura dan bahkan Australia. Saat ini, PR (pekerjaan rumah-red) INKA adalah terus memperbesar pangsa pasar di luar negeri yang saat ini masih didominasi produsen-produsen kereta di negara maju.

Baca juga: INKA Ekspor 2 Rangkaian Kereta DMU ke Filipina