Siasat Perusahaan Indonesia Hadapi Revolusi Industri 4.0

Siasat Perusahaan Indonesia Hadapi Revolusi Industri 4.0
Source: Wikipedia

Saat ini kita tengah berada di era Revolusi Industri keempat atau 4.0. Revolusi Industri yang pertama ditandai dengan penemuan mesin uap sekitar tahun 1784. Penemuan mesin uap pada masa itu menjadi cikal bakal berbagai penemuan lain serta meningkatkan cara bekerja mesin. Salah satu penerapan strategis dari penemuan mesin uap adalah lokomotif uap yang ditemukan pada tahun 1804. Jalur rel kereta api uap pertama kali dibuka di Belanda pada tahun 1839 dan perpanjangan rel ini merupakan salah satu penggerak industrialisasi. Mekanisasi pertanian pada waktu itu berujung pada pertumbuhan sejumlah pabrik-pabrik baru seperti pabrik gula, pabrik kentang, dan pabrik tepung.

Pertanian terus menjadi sektor perekonomian terbesar pada abad ke-19. Industrialisasi tidak hanya mendorong kemajuan di bidang pertanian tetapi juga industri tekstil, mesin, sepatu, dan tembakau. Pada saat itu perkembangan ini pun memunculkan kebutuhan akan keahlian baru yang dimiliki oleh para pekerja.

Konsekuensi Revolusi Industri pertama di Belanda tersebut adalah bisnis-bisnis berbasis kerajinan tangan pun tak mampu bersaing dengan produk pabrikan dan akhirnya tutup. Para pekerja kerajinan (termasuk wanita dan anak-anak) mencoba mencari pekerjaan pada pabrik-pabrik. Karena itu ketersediaan tenaga kerja melebihi kebutuhan yang berakibat rendahnya upah untuk jam kerja yang panjang. Inilah yang  menyebabkan semakin lebarnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

Revolusi Industri Kedua yang dimulai sekitar tahun 1870, juga dikenal sebagai Revolusi Teknologi, adalah periode dimana teknologi-teknologi baru membawa produksi secara massal dan industrialisasi yang cepat yang dibarengi dengan pengenalan perakitan dan elektrifikasi.

Lebih banyak pabrik dibangun pada masa itu dan pekerjaan-pekerjaan baru pun tercipta dimana orang-orang bekerja pada mesin. Beberapa pekerjaan lama pun tergantikan oleh jenis pekerjaan yang baru. Misalnya, mesin pertanian semakin banyak menggantikan pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh orang dan binatang.

Potret Revolusi Industri Kedua adalah gambar-gambar para pekerja pabrik yang bekerja pada alat-alat perakitan. Mereka bekerja rata-rata 10 jam per hari, enam hari per minggu, dengan kondisi bekerja yang seringkali tidak aman.

Revolusi Industri Ketiga dimulai pada tahun 1960-an dengan diperkenalkannya komputer mainframe, personal computing (1970-1980), dan internet. Revolusi ini mengubah interaksi antara manusia dengan perusahaan. Kemajuan teknologi menghadirkan tekanan kepada kelas menengah tradisional yang bekerja pada pekerjaan-pekerjaan yang bersifat transaksi. Contohnya, beberapa pekerjaan ini menurun antara tahun 1970-2010 karena otomasi: juru tulis/pramuniaga (clerk) menurun 37%, pekerjaan pembukuan menurun 43%, sekretaris menurun 59%, juru ketik menurun 80%, dan operator telepon menurun 86%.

Di sisi lain, beberapa pekerjaan yang bersifat non-transaksional dan non-production tercipta pada masa ini, seperti software developer, computer designers, pc network specialist, teknisi printer, dan konsultan TI.

Saat ini, kita tengah berada di awal Revolusi Industri Keempat. Era ini ditandai dengan munculnya yang disebut dengan “cyber-physical systems” yang melibatkan kemampuan yang sama sekali baru bagi manusia maupun mesin. Revolusi ini didorong oleh algoritma berbasis komputer, mobile internet, machine learning dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Revolusi Industri Keempat ini menjadi tema World Economic Forum (WEF) 2016 di Davos. Klaus Schwab, Founder & Executive Chairman WEF mengatakan, Revolusi Industri Keempat akan mempengaruhi setiap inti dari pengalaman kita sebagai manusia. Pengaruhnya meliputi aspek ekonomi, bisnis, nasional, masyarakat dan individual.

Beberapa megatrend yang sedang bergulir saat ini adalah: dari sisi Biologi adanya Genome dan Synthetic Biology. Dari sisi Physical misalnya Autonomous Vehicles, 3D Printing, Advanced Robotics, dan New Materials. Dan dari sisi Digital ada Internet of Things, Blockchain dan Platform. 

Siasat Pelaku Industri Indonesia

Tren ini tentu saja juga menjadi perhatian pelaku industri di Indonesia. Dalam acara Kongres Nasional Indonesia Kompeten yang diselenggarakan Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK) belum lama ini di Jakarta, beberapa perusahaan nasional mengemukakan perhatian serta siasat-siasat perusahaan dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0 ini.

Aloysius Budi Santoso, Chief Corporate Human Capital Astra International mengatakan, 33 persen dari pekerjaan yang ada saat ini akan hilang. Ia mencontohkan beberapa jenis pekerjaan barun yang muncul pada era Revolusi Industri 4.0 ini misalnya: Solution Architect, Network Wireless Specialist, Cloud Support Engineer, Data Architect, Data Scientist, dan Computer Vision Engineer. 

“Contohnya pada saat ini posisi yang paling banyak dicari adalah Data Scientist, beberapa tahun yang lalu belum ada,” ujar Aloysius Budi Santoso pada acara Kongres Nasional Indonesia Kompeten, 21 November 2018.

Untuk menyiasati hal ini Astra memiliki program digitalisasi dan bahkan telah dibentuk team khusus untuk membahas future of work dan pengaruhnya pada organisasi. 

Menurut pria yang akrab disapa Budi itu, ada tiga hal yang perlu dilakukan oleh korporasi menghadapi Revolusi Industri 4.0: 

1.    Menata kembali strategi bisnis dan strategi SDM Lanskap bisnis dan kompetisi di era revolusi industri 4.0 menuntut strategi bisnis dan strategi SDM yang baru. Tidak bisa lagi business as usual, mengutip Aloysius Budi Santoso.

2.    Memperkuat jajaran pemimpin atas Kepemimpinan adalah faktor penentu dalam menghadapi kondisi lingkungan yang dikenal dengan istilah VUCA (volatility, uncertainty, complexity and ambiguity). Menyiapkan kepemimpinan yang kuat tak pernah sepenting saat ini.

3.    Merombak Fungsi HR Dengan kecepatan perubahan saat ini, dibutuhkan model pengembangan keahlian dan manajemen talenta yang baru yang proaktif dan inovatif.

Sementara dari sisi keahlian yang perlu dikembangkan dalam menghadapi future of work adalah keahlian yang termasuk dalam kelompok STEAM: Science, Technology, Art, Engineering, Math. Selain itu diperlukan juga data dan digital literacy. Dari sisi Soft Skill dibutuhkan Kreativitas, Keahlian Analitis dan Problem Solving, Communication & networking, Entrepreneurship, dan kemampuan adaptif.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) juga sudah lama menyadari hal ini. Perusahaan yang mempunyai visi Be the King of Digital in the Region ini telah memiliki program-program digitalisasi untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0.

Menurut Dharma Syahputra, VP CH Strategic Management Telkom, ada 65% pekerjaan yang akan dibutuhkan di masa depan yang saat ini sama sekali belum ada. Ia mencontohkan misalnya: Human-Machine Teaming Manager, Drone Manager, Augmented Reality Journey Builder, dan Garbage Designer.

Untuk itu Telkom telah merancang cara-cara baru dalam merekrut, misalnya dalam menarik orang-orang yang tepat, perusahaan perlu membangun budaya yang menyenangkan. Telkom merancang lingkungan pekerjaan yang Dynamic, Creative dan Fun, yang menjadi Employer Value Proposition perusahaan.

Mengutip Alex Sinaga, CEO Telkom Group, mesin utama saat ini bukan lagi teknologi, tetapi Great People. Karena itulah Telkom sangat mengutamakan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menyiasati era perubahan yang cepat ini. Dimulai dari cara merekrut, program pengembangan leader, serta mengembangkan dan memperkuat budaya perusahaan. Untuk mendorong budaya digital Telkom juga menawarkan flexible working, knowledge management system untuk mendorong kolaborasi dan inovasi, serta merancang ruangan-ruangan kerja yang memicu kreativitas.

Lain lagi yang dilakukan di Sinarmas. Menurut Arief Setiawan, HRIS & Data Analytics Head Sinarmas Mining, pihaknya mendorong karyawan untuk terus memperoleh keahlian baru. Saat ini ada beberapa situs internet yang menawarkan program sertifikasi dari universitas ternama. 

Industri agriculture (pertanian) ternyata juga tak luput dari disrupsi. Jane Fransisca, Head of Corporate Service PT Great Giant Pineapple (GGP) mengatakan, saat ini bisnis agriculture di seluruh dunia sedang mengalami perubahan. Masuknya berbagai teknologi di bidang itu adalah salah satu pendorongnya. Teknologi seperti farm management software, precision agriculture dan predictive analytics, robotics dan drones, teknologi di bidang data tanaman atau hewan ternak, serta teknologi di bidang  sensor maupun smart irrigation.

Di GGP sendiri telah dilakukan berbagai langkah untuk beradaptasi terhadap Revolusi 4.0. Di antaranya penggunaan artificial intelligence dalam penghitungan penanaman nanas, monitoring tanaman pisang dengan menggunakan RFID, Real Time Locating System untuk pallets tracking, penggunaan sensor/internet of things untuk cuaca sehingga memberikan ramalan cuaca yang lebih tepat, serta absensi pegawai plantation menggunakan mobile face recognition