Rancang Lokomotif Biodiesel 100 Persen, KAI Gandeng Servo Railway dan Progress Rail

Rancang Lokomotif Biodiesel 100 Persen, KAI Gandeng Servo Railway dan Progress Rail
Ilustrasi Kereta Api Indonesia

PT Kereta Api Indonesia (Persero) akan merancang lokomotif berbahan bakar biodiesel 100 persen atau B100. Untuk mewujudkan rencana tersebut, perseroan menggandeng Servo Railway dan Progress Rail.

Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari arahan pemerintah untuk memanfaatkan minyak kelapa sawit pada moda transportasi dalam negeri. “Kita melihat arahan Presiden, kita mengarah ke B100 karena kita penghasil kelapa sawit yang luar biasa,” ungkap Edi Sukmoro, Direktur Utama KAI.

Ia menambahkan bahwa KAI mendahului dengan meneken MoU yang dilaksanakan bertepatan dengan HUT KAI ke-74 pada 28 September lalu. Selanjutnya, KAI bersama partner kerjanya akan mencoba rekayasa engineering atas aset yang ada untuk B100.

Baca juga: Sambut HUT ke-74, KAI Gelar Gowes dan Bagi Sembako

Founder Servo Railway, Widhi Hartono menjelaskan, tahap awal kerja sama akan dimulai dengan kajian kelayakan (feasibility study) pada aspek teknis dan keekonomian. Dalam tahap ini, KAI dan Servo Railway menggandeng Progress Rail, perusahaan infrastruktur rel kereta anak usaha Caterpillar asal Amerika.

Feasibility studies ditargetkan rampung dalam waktu satu tahun. Bila hasilnya memuaskan, kerja sama akan dilanjutkan pada pengadaan lokomotif.  

"Dimulai dengan penelitian kemudian jika feasible, maka akan dilakukan pengembangan dan pengadaan. Target waktu penelitian satu tahun. Untuk pengembangan dan pengadaan akan ditentukan kemudian tergantung hasil penelitian," sambung Widhi.

Proyek dengan KAI ini bukanlah portofolio pertama bagi Servo Railway. Saat ini, perusahaan memegang proyek jasa pengangkutan kereta api batu bara di Sumatera Selatan. Trayeknya dari Kabupaten Lahat menuju Kabupaten Ogan Ilir. Saat ini, proyek tersebut masih dalam proses persiapan konstruksi.

"Selain menyuplai KAI, Servo Railway sebagai pemegang izin perkeretaapian khusus juga akan menggunakan sendiri lokomotif B100 tersebut untuk mengangkut batu bara dari Lahat ke Ogan Ilir,” ujar Widhi.

Biodiesel merupakan minyak kelapa sawit atau fatty acid methyl ester (FAME) yang dicampurkan pada bahan bakar solar. Untuk B20, komposisi sawit tercatat sebesar 20 persen.

Sebelum proyek B100 ini, KAI telah mempergunakan teknologi biodiesel B20 dan tengah melakukan pengujian pada B30. Secara berjenjang, aset tersebut akan dikembangkan untuk dapat mengonsumsi hingga B100.

"Sekarang kan sudah B20 nanti diantisipasi akan ke B30, B40, B50, sampai B100. Armada kita 200 lebih, pembangkit kita itu kereta yang bangkitin AC (air conditioner) dan penerangan hanya sampai B30, makanya kita harus melakukan rekayasa teknologi untuk makan B100," tutur Edi.

Dalam proyek kajian ini, prosesnya akan dimonitor oleh ketiga pihak perusahaan yang terlibat. Fokus kajian adalah memastikan bahwa penggunaan minyak sawit sebagai bahan bakar tidak hanya efisien, tetapi juga tak merusak mesin.

Baca juga: Pasca Transformasi, KAI Tak Berhenti Lakukan Inovasi