Proyek Kilang Pertamina Tingkatkan Kapasitas Jadi 2 Juta Barel

Proyek Kilang Pertamina Tingkatkan Kapasitas Jadi 2 Juta Barel
Direktur Megaproyek Pengolahan & Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang . (Sumber: Pertamina)

Proyek modernisasi dan pembangunan kilang Pertamina atau dikenal dengan Refinery Development Master Plan (RDMP) dan Grass Root Refinery (GRR) akan meningkatkan kapasitas kilang hingga dua kali lipat dari saat ini 1 juta barel per hari menjadi 2 juta barel per hari. 

Direktur Megaproyek Pengolahan & Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang menegaskan, Pertamina menjadikan RDMP & GRR sebagai dua fokus inisiatif strategis dalam rangka menuju perusahaan migas kelas dunia.

"Sebagai agen utama pengembangan energi nasional di Indonesia, Pertamina bertujuan menjadi  perusahaan migas kelas dunia pada tahun 2025. Untuk mencapai standar kelas dunia ini, Pertamina akan meningkatkan kapasitas kilang melalui pembangunan 4 RDMP dan 2 GRR serta sekaligus mengintegrasikannya ke dalam pabrik petrokimia untuk mengembangkan bisnis baru dengan dukungan sumber daya manusia handal, teknologi terkini berkelas dunia serta mengedepankan aspek HSSE,” ujar Tallulembang baru-baru ini.

Baca juga: Menanti Indonesia Tak Lagi Impor Minyak Mentah dan BBM

Megaproyek RDMP dan GRR, lanjut Tallulembang, sekaligus akan meningkatkan kemampuan pengolahan minyak mentah dari sweet crude menjadi sour crude dengan kandungan sulfur sekitar 2 persen. Selain itu, peningkatan Yield of Valuable menjadi sekitar 95 persen dari sebelumnya 75 persen.

“Kilang Pertamina ini nantinya akan menghasilkan produk BBM yang ramah lingkungan standar Euro5 serta akan menghasilkan produk petrokimia berkisar 6.600 Kilotonnes Per Annum (KTPA) dari sebelumnya sebesar 600 KTPA, sehingga bisa mengurangi impor produk petrokimia secara signifikan,” imbuh Tallulembang.

Dengan hadirnya kedua proyek besar ini, lanjut Tallulembang, diharapkan bisa meningkatkan produksi minyak hingga 100 persen,  memenuhi kebutuhan energi nasional serta mendukung pertumbuhan industri petrokimia dan memperkuat bisnis hilir Pertamina.

Pertamina, imbuh Tallulembang, terus berupaya meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) karena proyek yang dijalankan memiliki kebutuhan material dan jasa dengan standar yang tinggi untuk megaproyek yang saat ini sedang dijalankan Pertamina. Karena itu, Pertamina juga membutuhkan produsen manufaktur dalam negeri agar dapat meningkatkan kinerjanya dalam berbagai aspek, seperti spesifikasi produk, ketepatan waktu hingga harga.

"RPW 2019 bagi kami merupakan ajang mencari partner yang tepat dalam menjalankan project-project yang kami miliki. Antusiasmenya sangat luar biasa, sehingga kami pun bisa memperoleh opsi dalam berbagai aspek pemilihan partner," ujarnya.

Baca juga: Pertamina Stop Impor Avtur dan Solar