Prahara Jiwasraya, Pelajaran Tentang Tata Kelola Perusahaan

Prahara Jiwasraya, Pelajaran Tentang Tata Kelola Perusahaan
Sumber: Annual Report Jiwasraya 2016

Prahara kembali melanda tubuh Asuransi Jiwasraya. Perusahaan asuransi jiwa tertua di Tanah Air ini pada tahun 2008 pernah insolvent, kemudian diselamatkan dan dinyatakan sehat oleh menteri BUMN Dahlan Iskan pada tahun 2013. 

Bulan Oktober 2018, asuransi milik negara ini mengalami masalah likuiditas sehingga gagal membayar tunggakan polis yang jumlahnya mencapai 802 miliar rupiah. Komisi VI DPR hari Senin (29/7) lalu mengatakan akan memanggil direksi lama PT Asuransi Jiwasraya untuk meminta keterangan tentang kebijakan investasi yang telah mengakibatkan perusahaan tersebut mengalami kesulitan likuiditas. 

Wakil Ketua Komisi VI DPR Azam Azman Natawijana mengungkapkan, kerugian dan kesulitan keuangan yang dialami Asuransi Jiwasraya sudah terjadi pada saat direksi lama menjabat. Sejak tahun 2016 sudah diindikasikan oleh BPK RI bahwa PT Asuransi Jiwasraya tidak berhati-hati dalam melaksanakan investasi, sehingga akhirnya perusahaan mengalami masalah likuiditas.

Sejak tahun 2008 asuransi jiwa tertua di tanah air ini telah mengalami masalah. Seperti dikutip dari Laporan Tahunan Jiwasraya pada tahun 2016, pada tahun 2008 Badan Pengelola Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menyatakan Jiwasraya “insolvent”, alias keadaan dimana perusahaan tidak mampu membayar hutang-hutangnya. 

Pada waktu itu manajemen perusahaan dan pemegang saham telah membuat Business Plan dalam rangka penyehatan perusahaan melalui mekanisme penambahan modal dan Zero Coupon Bond, namun skema penyehatan tersebut tidak dapat dilaksanakan karena kondisi pada saat itu tidak memungkinkan.

Pada akhirnya, manajemen Jiwasraya memiliki solusi sementara untuk penyelesaian masalah dengan cara reasuransi, yang di Indonesia belum pernah dilakukan dan solusi ini tidak membebani keuangan negara. Reasuransi ini dilakukan menggunakan cara kerjasama dengan perusahaan dari luar negeri.

Solusi reasuransi ini dilakukan oleh perusahaan mulai 31 Desember 2009 sampai dengan 31 Maret 2013. Penghentian metode reasuransi ini dilakukan karena perusahaan memiliki solusi lain dengan memanfaatkan kebijakan dan peraturan yang berlaku yaitu penerapan IFRS (International Financial Report Statement), dimana salah satu kebijakannya adalah perusahaan dapat melakukan revaluasi terhadap aset yang dimiliki. 

Dengan melakukan revaluasi aset ini, maka perusahaan terhindar dan keluar dari permasalahan Insolvent. Pada waktu itu tanggal 13 Agustus 2013, Bapak Dahlan Iskan selaku Menteri BUMN menyatakan bahwa “Jiwasraya sudah menjadi perusahaan yang sehat dan dapat kembali bersaing di industri asuransi jiwa”. 

Sebagai wujud syukur atas keberhasilan perusahaan menyelesaikan masalah Insolvency serta sebagai bukti semangat baru untuk kembali bersaing di industri asuransi jiwa, pada tanggal tersebut dilakukan penggantian logo perusahaan.

Namun, berbeda dengan publikasi resmi yang dikeluarkan oleh perusahaan, diduga perusahaan asuransi ini masih menyimpan berbagai masalah yang belum beres. Pada tahun 2017 terjadi keganjilan laporan keuangan dimana laporan keuangan perusahaan pada saat itu mencantumkan laba bersih Rp 2,4 triliun atau naik 37,64 persen dibanding tahun 2016. Laporan ini berbeda dengan hasil audit PricewaterhouseCoopers yang menunjukkan laba bersih Asuransi Jiwasraya hanya Rp 360 miliar.

Selain keganjilan pada laporan keuangan, hal lain yang mengkhawatirkan adalah rasio Risk Based Capital (RBC) asuransi Jiwasraya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mensyaratkan RBC perusahaan asuransi di atas 120 persen. Terdapat indikasi bahwa RBC asuransi Jiwasraya sejak tahun 2017 sudah jatuh di bawah angka minimal yang ditetapkan OJK tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa ratio solvabilitas Jiwasraya sudah sangat mengkhawatirkan. Langkah-langkah penyelamatan pun harus segera dilakukan, mengingat dampak sosial yang mungkin timbul apabila tidak diselamatkan.

Prahara yang melanda perusahaan asuransi yang berdiri sejak 1859 ini akan menorehkan catatan penting dalam pembelajaran tentang tata kelola perusahaan yang baik.

Baca Juga:

Mengulik Sejarah Panjang Asuransi Jiwasraya

Merunut Kisah Gagal Bayar Polis Jatuh Tempo Saving Plan Jiwasraya

Video: Dari mana Perusahaan Asuransi Mendapat Untung?