Potensi Migas Indonesia Sangat Besar, Butuh Business Unusual

Potensi Migas Indonesia Sangat Besar, Butuh Business Unusual
dari kiri ke kanan: Posman Sianturi, Komite Komunikasi IPA, Direktur Eksekutif IPA Marjolijn Wajong, Nayesha Shafira, Wahju Wibowo, Devan Raj, dan Agus Suprijanto, Chairman IPA Convex 2020

Potensi minyak dan gas bumi Indonesia masih sangat besar dan industri hulu migas diyakini masih akan berkembang. Setidaknya hal itu yang dapat disimpulkan dari acara NEXTGen Forum yang diselenggarakan oleh Indonesian Petroleum Association (IPA) Selasa 25 Februari 2020. Acara diskusi terbatas yang mengundang para mahasiswa tersebut menghadirkan para pembicara dari berbagai kalangan yaitu dari regulator, industri, serta dari pekerja generasi milenial di industri migas. 

Kepala Divisi Perencanaan Eksploitasi SKK Migas Wahju Wibowo dalam acara tersebut memaparkan kondisi hulu migas Indonesia dan potensinya di masa depan. Menurut data, dari sebanyak 128 cekungan di Indonesia, masih ada 35 cekungan yang perlu dikembangkan dan 73 lainnya yang belum dieksplorasi. SKK Migas menyakini masih adanya potensi cadangan migas yang sangat besar. Kondisi tersebut memberikan harapan bahwa industri hulu migas di Indonesia masih dapat berkembang di masa mendatang. 

“Untuk memaksimalkan potensi yang ada tersebut, kita harus melakukan pekerjaan dengan cara yang berbeda atau Business Unusual,” ujar Wahju. Wahju menerangkan Business unusual yang ia maksud dengan tagar #massive, #aggressive, dan #efficient. Wahju menambahkan bahwa diperlukan perubahan “mindset” agar bisa secepat mungkin meng “unlock” potensi yang ada. 

Sementara itu, Managing Director Schlumberger Indonesia Devan Raj menjelaskan, ada banyak inovasi dalam hal teknologi pada proyek-proyek migas. Inovasi sangat dibutuhkan demi optimalisasi kinerja eksplorasi dan produksi migas nasional. Teknologi juga dapat membantu menemukan lapangan-lapangan baru dengan mengedepankan efisiensi dan efektivitas. Sebagai contoh, Devan mengungkapkan, sebelum adanya bantuan dari teknologi ada sebuah pekerjaan yang memerlukan waktu selama 18 bulan. Sekarang, setelah adanya teknologi, waktu yang dibutuhkan dapat dipersingkat menjadi 18 hari. 

“Tantangan yang kita semua hadapi adalah, bagaimana melakukan ini dengan lebih cepat, dan lebih baik,” ujar Devan yang banyak memberikan tips kepada para mahasiswa pada acara tersebut.

Pembicara ketiga, Nayesha Shafira adalah seorang Surveillance & Optimization Engineer di PT MedcoEnergi Indonesia. Nayesha hadir membagikan pengalaman dan inspirasinya sebagai salah seorang pekerja milenial di industri migas. 

Nayesha menceritakan bagaimana ia mengawali kariernya dimulai dari mimpinya saat masih duduk di bangku SMP. Ketika itu, dia bermimpi menjadi petroleum engineer. Namun, perjalanan tidak selalu berjalan mulus dan banyak kendala. Namun karena dia selalu berusaha berpikir positif dan terus belajar, suatu hari mimpinya pun menjadi kenyataan. Ia berhasil masuk di Medco E&P Indonesia dan bahkan mendapatkan penghargaan kategori Best Milenial Presenter dan Top 3 paper di Medco Awards 2019.

Menurut dia, ada tiga tips yang dapat membantu para mahasiswa atau fresh graduate yang baru masuk lapangan kerja, yaitu: memiliki pemikiran yang positif, terus belajar mengenai apapun dan siapa pun karena selalu ada nilai-nilai yang dapat diambil, dan mengetahui kelebihan diri sendiri agar lebih stand out dibandingkan dengan yang lain.  

Forum diskusi ini terselenggara atas kerja sama beberapa pihak, di antaranya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI, SKK Migas, IPA, dan Dyandra Promosindo. Acara ini merupakan bagian awal dari rangkaian acara pre-event Pameran dan Konvensi ke-44 IPA atau biasa disebut IPA Convex yang pada tahun ini merupakan acara ke-44 dan akan diselenggarakan pada 2–4 September 2020, di Jakarta Convention Center. 

Baca juga: IPA Convex ke-43, Gaungkan Optimisme Eksplorasi Migas di Indonesia