Potensi Di Balik Bisnis Transportasi Massal di Indonesia

Potensi Di Balik Bisnis Transportasi Massal di Indonesia
Penumpang memakai MRT Jakarta/Sumber: MRT Jakarta
Potensi Di Balik Bisnis Transportasi Massal di Indonesia

Kebutuhan terhadap sarana transportasi massal yang nyaman, aman, dan efisien di Indonesia sudah sangat mendesak. Seiring laju pertumbuhan jumlah kendaraan yang kencang, saat ini kondisi jalanan di kota-kota besar semakin parah. Kemacetan terjadi di sana-sini.

Kondisi tersebut sering menempatkan kota-kota di Indonesia ke dalam daftar kota termacet di dunia. Sebagai contoh hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB).

Pada awal Oktober 2019, ADB merilis 2019 Update of the Asian Development Outlook edisi September 2019. Di sana mereka mendaftar 20 kota dengan populasi di atas 5 juta orang yang paling macet di antara 45 negara anggotanya. Dalam daftar itu, Indonesia meraih “prestasi” dengan menempatkan tiga kota, yakni Bandung (peringkat ke-14),  Jakarta (17), dan Surabaya (20).
Hasil riset ADB hanya satu contoh. Masih banyak penelitian lain yang menunjukkan kemacetan tinggi di kota-kota besar di Indonesia. Padahal, kerugian yang dialami akibat macet sangat besar. 

Pada Maret 2019, Presiden RI, Joko Widodo, pernah menyebut, berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, kerugian material akibat kemacetan setiap tahun bisa mencapai Rp60 triliun. Bahkan, jumlah itu bisa melonjak hingga Rp100 triliun. 

Itu baru dari segi material. Kerugian nonmaterial seperti kelelahan, pemborosan waktu, dan tingkat stres yang tinggi masih ikut menyertai.

Semua pihak sebenarnya sudah menyadari dampak negatif kemacetan. Namun, upaya untuk menghadirkan sarana transportasi massal untuk melawannya belum banyak. Diyakini faktor keuntungan bisnis yang kurang menjanjikan menjadi alasan.

Akan tetapi, pemerintah akhirnya berupaya membuka jalan. Salah satunya dengan mendirikan PT Mass Rapid Transit Jakarta (PT MRT Jakarta) pada tanggal 17 Juni 2008. Saat itu, PT MRT Jakarta masih berada di bawah Pemda DKI Jakarta. Namun, pada 2005, Presiden RI meneken perubahan status MRT Jakarta sebagai proyek nasional.

Sejak saat itu, upaya untuk mewujudkan MRT Jakarta mulai dilakukan. Cara-cara pembiayaan dicari dan berbagai tender terkait konstruksi dan mekanik dijalankan. Hingga akhirnya, proses konstruksi MRT Jakarta benar-benar berjalan sejak Oktober 2013.

Kendati demikian, pilihan untuk merealisasikan MRT Jakarta lebih didasari oleh political will. Pada Maret 2019, Presiden Joko Widodo membenarkannya. Diakuinya, jika perhitungannya berdasar untung rugi, proyek MRT Jakarta tidak akan pernah bisa berjalan.

Peluang untuk meraih untung di sektor ini dinilai tipis. Pada Maret 2019, Menteri Keuangan Sri Mulyani sampai menyatakan bahwa, jika hanya berdasar hasil penjualan tiket, investasi senilai Rp16 triliun untuk MRT Jakarta tidak akan pernah bisa kembali.

Namun, seiring waktu, PT MRT Jakarta malah membalikkan semua prediksi. Hanya sembilan bulan beroperasi, mereka mampu meraih profit. Pada Rabu 27 November 2019, Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, menyatakan pihaknya bisa mendapatkan laba komprehensif di kisaran Rp60-70 miliar.

KIAT SUKSES PT MRT JAKARTA

William mengakui profit yang didapat masih sebatas proyeksi. Laporan keuangan resmi masih akan dirilis pada awal tahun 2020. Setelah itu pun akan ada proses audit sehingga hasil yang valid baru keluar pada Maret 2020. Kendati demikian, kondisi saat ini dapat memberi gambaran besar terhadap kinerja apik PT MRT Jakarta.

“Dengan konstruksi yang bagus, layanan pelanggan yang apik, pengembangan aspek komersialnya besar, sebenarnya ada potensi kalau perusahaan kereta itu bisa meraih laba di tahun pertama operasinya,” tutur William dalam Forum Jurnalis MRT Jakarta. 

Dari pernyataan William sebenarnya tersirat kiat sukses MRT Jakarta. Mereka jeli melihat celah lain dalam mencari pendapatan dengan cara memaksimalkan sektor komersial. 

Selama ini, bisnis transportasi massal hanya selalu mengandalkan pemasukan dari tiket. Terkait hal ini, MRT Jakarta sebenarnya juga membukukan kinerja yang baik. Sejak resmi beroperasi pada 24 Maret 2019 lalu, hingga 26 November 2019 kemarin, tercatat sekitar 19.990.959 orang telah menggunakan layanan MRT Jakarta. Hal tersebut membuat pemasukan dari tiket mencapai Rp180 miliar.

Namun, ternyata, tiket bukan menjadi pemasukan terbesar MRT Jakarta. Justru sektor komersial yang lebih menghasilkan. William menyebutkan pendapatan non-tiket yang diraup sampai sekarang sudah mencapai Rp225 miliar.

Jika diperinci, pendapatan non-tiket terbesar berasal dari periklanan. Jumlahnya mencapai 55 persen dari total pemasukan. Ini cukup luar biasa. MRT Jakarta mampu menarik para pengiklan. Tentu ada langkah-langkah khusus yang mereka lakukan seperti menjaga kualitas layanan dan mempertahankan ketepatan waktu demi memuaskan pelanggan.

Selain itu, putusan MRT Jakarta menjual hak penamaan stasiun juga menjadi langkah cerdas. Dari sini 33 persen pendapatan non-tiket berasal. Sisa penghasilan lain hadir dari telekomunikasi (2 persen) dan retail & UMKM (1 persen).

Keberhasilan ini tidak membuat MRT Jakarta puas. Mereka menilai masih potensi untuk menaikkan pendapatan non-tiket. Inilah yang hendak diraih pada tahun-tahun berikutnya.

“Ini yang harus dijaga oleh publik. Mari kita jaga perusahaan ini agar selalu sehat, bisa memberikan servis premium sehingga bisnis akan premium juga. Kami ingin pendapatan non-tiket makin besar melebihi pendapatan tiket. Kalau bisa dua hingga tiga kalinya,” ujar William.

Meski begitu, harus diakui MRT Jakarta masih mendapatkan subsidi dari pemerintah. Jumlahnya pun besar, mencapai Rp560 miliar. Namun, menurut William, subsidi diarahkan langsung ke penumpang. “Perlu diketahui bahwa subsidi ini bukan ke perusahaan, melainkan ke penumpang. Harga keekonomian tiket perjalanan yang seharusnya Rp30 ribu disubsidi sebesar Rp20 ribu oleh pemerintah,” katanya.

Melihat kinerja seperti ini, William optimistis MRT Jakarta akan terus meraih profit. Pada 2020, laba komprehensif diperkirakan bakal mencapai Rp200-250 miliar. Jumlah itu akan naik menjadi Rp300-350 miliar pada 2021.

Inilah yang membuat wacana penawaran saham perdana MRT Jakarta mulai muncul. Menilik kondisi sekarang, William menilai hal itu sudah mungkin dilakukan pada tahun 2022.

BISNIS MENGUNTUNGKAN
Kinerja apik yang diperlihatkan oleh MRT Jakarta memperlihatkan transportasi massal tetap menjanjikan untung. Kuncinya ialah kejelian untuk mendapatkan sumber pemasukan selain tiket.

Kisah sukses Mass Transit Railway (MTR) Corporation di Hong Kong menjadi bukti lain. Pada tahun 2018, mereka mampu meraup profit sebesar 11,26 miliar dolar Hong Kong (sekitar Rp20,3 triliun). Jumlah itu naik 7,1 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sama seperti MRT Jakarta, keberhasilan MTR Corporation tidak lepas dari kemampuan memaksimalkan pendapatan non-tiket. Mereka mengusung konsep Rail Plus Property yang memungkinkan perusahaan mengembangkan kawasan di sepanjang jalur kereta. Dari situ MTR Corporation bisa menjual tempat tinggal, membangun pusat komersial, dan aneka fasilitas lain seperti hotel dan pusat hiburan.

Berkat itu, pendapatan besar diraup. MTR Corporation meraih pemasukan dari penyewaan kepada tenant ataupun penjualan properti. Nilainya bahkan sangat dominan sehingga MTR Corporation mampu menjaga harga tiket tetap murah.

Fakta ini memperlihatkan potensi bisnis transportasi massal tetap menggiurkan. Khusus di Indonesia, peluang tetap besar. Saat ini, masyarakat masih belum menjadikan transportasi umum sebagai pilihan utama. Namun, tren menuju ke sana mulai terlihat.

Setidaknya itu tergambar dari situasi di Jakarta. Sejak 2017, terjadi peningkatan pemakaian transportasi umum. Contohnya sampai Oktober 2019, jumlah penumpang Transjakarta naik hampir 2 kali lipat hingga mencapai 640 ribu penumpang per hari. Kemudian, jumlah rata-rata penumpang MRT Jakarta mencapai 94.824 orang per hari pada Juli 2019. Sementara itu, uji coba LRT Jakarta telah melayani 798.000 penumpang hanya dalam jangka waktu 11 Juni hingga 13 Oktober 2019.

Kondisi itu bisa dilihat sebagai peluang besar. Tinggal bagaimana kejelian memanfaatkannya untuk mendulang profit. Transportasi massal di Indonesia masih menjanjikan.

Baca juga: MRT Jakarta Raih 2 Penghargaan di Top Digital Awards 2019