Perjalanan PLN Melistriki Nusantara

Perjalanan PLN Melistriki Nusantara
Sumber: PLN

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau yang akrab disapa PLN adalah korporasi yang saat ini sedang “trending” alias ramai dibicarakan oleh masyarakat. Pasalnya, dua hari yang lalu, hari Minggu tanggal 4 Agustus 2019 hampir seluruh pulau Jawa mengalami “mati lampu” alias padamnya listrik yang sangat mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari. Terlepas dari kejadian “incidental” tersebut sebenarnya PLN sebagai korporasi telah bekerja keras untuk terus memperbaiki kinerjanya dan menjalankan tugasnya sebagai perusahaan milik negara untuk melistriki Nusantara.

Upperline menelusuri data kinerja korporasi dan menemukan perbaikan kinerja korporasi dalam beberapa tahun belakangan, termasuk peningkatan pada rasio elektrifikasi dan perbaikan pada tingkat keandalan layanan. 

Tingkat keandalan pelayanan diukur dengan indeks SAIDI dan SAIFI. SAIDI (System Average Interruption Duration Index) adalah lamanya pelanggan mengalami gangguan dalam satuan menit per pelanggan per tahun. 

Sedangkan SAIFI (System Average Interruption Frequency Index) adalah banyaknya jumlah gangguan per pelanggan per tahun. 

Pada tahun 2018, indeks SAIDI PLN adalah 958,35 menit/pelanggan/tahun, turun 17,37% dibandingkan 1.159,82 menit/pelanggan/tahun pada tahun 2017. 

Sedangkan indeks SAIFI adalah 9,90 kali/ pelanggan/tahun, turun 21,74 % dibandingkan 12,65 kali/pelanggan/tahun pada tahun 2017. 

Sumber: Laporan Tahunan PLN 2018

Tabel di atas menunjukkan penurunan SAIDI dan SAIFI PLN dalam 3 tahun terakhir, hingga tahun 2019. Terkait insiden tanggal 4 Agustus kemarin, maka kita pun penasaran kira-kira bagaimana akibatnya pada indeks SAIDI dan SAIFI tahun 2019? Barangkali baru tahun depan kita bisa memperoleh data tersebut, namun sebelum sampai ke sana, mari kita simak perjalanan korporasi yang berdiri pada tanggal 1 Januari 1961 ini.

Baca Juga: “Blackout” 4 Agustus Yang Menodai Kinerja Kinclong PLN

Perjalanan PLN Menjadi Korporasi dengan Aset Besar

Seperti dikutip dari laporan tahunan PLN tahun 2018, industri ketenagalistrikan di Indonesia dimulai pada akhir abad ke-19, ketika beberapa perusahaan penggilingan gula dan perkebunan teh milik Belanda mulai membangun pembangkit listrik untuk keperluan sendiri. 

Kemudian di masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945, pembangkit listrik tersebut diambil alih dan dimanfaatkan oleh tentara pendudukan Jepang. Seiring dengan kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, di akhir tahun 1945, para pemuda dan buruh listrik yang tergabung dalam Delegasi Buruh/Pegawai Listrik dan Gas bersama-sama dengan Pimpinan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mendesak Presiden Soekarno untuk menasionalisasi perusahaan-perusahaan listrik tersebut. 

Pada tanggal 27 Oktober 1945, Presiden Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas, yang berada di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga untuk mengelola pembangkit listrik yang dimiliki saat itu dengan kapasitas total 157,5 MW. 

Pada tanggal 1 Januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas berubah nama menjadi BPUPLN (Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang usaha listrik, gas dan kokas. Pada tanggal 1 Januari 1965 BPUPLN dibubarkan dan Pemerintah membentuk dua perusahaan negara yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai pengelola tenaga listrik dan Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai pengelola gas. 

Pada tahun 1972, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17, PLN berubah status menjadi Perusahaan Umum Listrik Negara, yang bertindak sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK) dengan tugas menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan umum. 

Pada tahun 1994 Pemerintah membuka peluang bagi sektor swasta untuk bergerak dalam bisnis penyediaan listrik. PLN kemudian beralih menjadi Perusahaan (Persero) yang tetap sebagai PKUK dalam menyediakan listrik bagi kepentingan umum. 

Dengan terbitnya UU Nomor 30 Tahun 2009, PLN bukan lagi PKUK tetapi menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan tugas menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan umum. 

Kini PLN telah berkembang sebagai salah satu kelompok korporasi dengan aset terbesar di dunia. Total daya pembangkit milik sendiri pada akhir tahun 2018 mencapai 41.697 MW yang menghasilkan produksi listrik sebesar 178.194 GWh dan jumlah aset per 31 Desember 2018 mencapai Rp1.492 triliun.

Rasio Elektrifikasi

Salah satu tugas utama korporasi dengan moto “Listrik untuk Kehidupan yang Lebih Baik” ini adalah mendukung tercapainya target rasio elektrifikasi 100% pada tahun 2024. Rasio elektrifikasi adalah perbandingan rumah tangga yang telah menikmati listrik dengan jumlah keseluruhan rumah tangga di suatu wilayah atau negara. Pemerintah telah menargetkan peningkatan rasio elektrifikasi hingga ke daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Berdasarkan RUPTL PLN 2018-2027, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM dan PLN menargetkan rasio elektrifikasi untuk seluruh Indonesia mencapai 100% pada tahun 2024. 

Pada tahun 2018 rasio elektrifikasi nasional mencapai 97,5 persen di mana PLN ditargetkan menyumbang 93%. Hingga akhir tahun 2018 realisasi pencapaian rasio elektrifikasi nasional (pelanggan PLN dan non-PLN) telah mencapai 98,3 persen, melampaui target yang ditetapkan. PLN sendiri menyumbang 97,05 persen. Dari sisi desa yang berlistrik, penambahan desa berlistrik di tahun 2018 mencapai 3.359 desa, sehingga jumlah desa teraliri listrik di seluruh wilayah Indonesia adalah 79.041 desa atau 95,95%. 

Sumber: Laporan Tahunan PLN 2018

Dari Mana PLN Mendapatkan Listrik dan Pemakaiannya

PLN memenuhi kebutuhan listrik masyarakat melalui pembangkit-pembangkit listrik yang terdiri dari pembangkit milik PLN sendiri, pembangkit sewa dan pembelian tenaga listrik dari pembangkit milik swasta. 

Sampai akhir tahun 2018, kapasitas terpasang pembangkit secara nasional mencapai 57.822,47 MW, meningkat 3,4% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 55.925,97 MW. 

Komposisi kapasitas pembangkit terpasang pada tahun 2018 adalah 72,11% pembangkit milik PLN sendiri, 23,58% pembangkit swasta (Independent Power Producer/IPP), dan 4,31% pembangkit sewa. Pada tahun 2018, produksi listrik mencapai 267.085 GWh, meningkat 4,9% dari 254.660 GWh pada tahun 2017. 

Sedangkan dari sisi pemakaian listrik, segmen operasi Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara adalah segmen operasi yang paling tinggi dari sisi penjualan listrik perusahaan, yakni mencapai 75,29 persen. PLN sendiri membagi segmen operasi berdasarkan regionalisme. Terdapat 7 segmen operasi regional yaitu: Regional Sumatera, Regional Jawa Bagian Barat, Regional Jawa Bagian Tengah, Regional Jawa Bagian Timur, Bali & Nusa Tenggara, Regional Kalimantan, Regional Sulawesi, serta Regional Maluku & Papua.

Pada tahun 2017, PLN menorehkan jejak langkah yang penting dalam perjalanan korporasi yaitu tidak ada lagi sistem kelistrikan di Indonesia yang mengalami defisit. Ini berarti masalah pemadaman karena kurangnya pasokan daya listrik sudah terselesaikan.

Program 35.000 MW

Pada tahun 2015 pemerintah mencanangkan program percepatan pembangunan ketenagalistrikan 35.000 MW dalam periode 2015-2019 dan menugaskan PLN untuk merealisasikan program tersebut. Program 35.000 MW didukung oleh Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2017 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan. 

Dukungan finansial yang dibutuhkan untuk membangun pembangkit baru berkapasitas total 35.000 MW lengkap dengan jaringan transmisi dan distribusi (gardu induk) diperkirakan mencapai USD72,3 miliar. 

Karena besarnya dana yang dibutuhkan, selain menugaskan PLN untuk membangun pembangkit berikut sarana transmisi dan distribusi yang diperlukan melalui Engineering Procurement Contract (EPC), Pemerintah mengundang partisipasi maksimal investasi swasta dalam pembangunan pembangkit dengan mekanisme Independent Power Producers (IPP). 

Dari target 35.000 MW, Pemerintah menargetkan sekitar 25% dari kapasitas pembangkit dibangun oleh PLN, sementara sebesar sekitar 75% dibangun oleh IPP yang akan dibeli PLN melalui skema perjanjian pembelian listrik (Power Purchase Agreement/PPA).

Baca juga: Baru Dua Hari Diangkat Jadi Plt Dirut PLN, Sripeni Harus Hadapi Masalah Listrik Mati