Perjalanan 21 Tahun Bank Mandiri

Perjalanan 21 Tahun Bank Mandiri
Sumber: Bank Mandiri

Memasuki usia yang ke-21 di tahun 2019, Bank Mandiri terus memberikan kontribusi dalam dunia perbankan dan perekonomian Indonesia. Hal itu terbukti dari rekam jejak perusahaan dalam menjalankan kinerja dan perannya yang tak terpisahkan dalam pembangunan ekonomi tanah air.

Sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia, Bank Mandiri resmi berdiri pada 2 Oktober 1998. Tak lama setelah itu, tepatnya Juli 1999, Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan Indonesia dilebur menjadi Bank Mandiri.

Mulai saat itu, proses konsolidasi dan integrasi menyeluruh di segala bidang pun dilakukan oleh Bank Mandiri. Alhasil, perusahaan sukses membangun organisasi bank yang solid dan mengimplementasikan core banking system baru yang terintegrasi menggantikan core banking system dari keempat bank yang sebelumnya saling terpisah.

Keberhasilan membangun system ini akhirnya membuahkan hasil yang cukup menggembirakan untuk kinerja perusahaan. Di mana, sejak didirikan, kinerja Bank Mandiri senantiasa mengalami peningkatan laba. Tahun 2000, Bank Mandiri mencatatkan laba Rp1,18 triliun. Tiga tahun kemudian, tepatnya 14 Juli 2003, Bank Mandiri melakukan penawaran saham perdana sebesar 20% atau ekuivalen dengan 4 miliar lembar saham. Sedangkan tahun 2004, laba Bank Mandiri mencapai Rp5,3 triliun.

Sukses dengan pencapaian itu, Bank Mandiri memutuskan untuk menjadi bank yang unggul di regional (regional champion bank) di tahun 2005 melalui 4 (empat) strategi utama, yaitu: implementasi budaya, pengendalian tingkat NPL secara agresif, meningkatkan pertumbuhan bisnis yang melebihi rata-rata dan pengembangan dan pengelolaan program aliansi.

Bahkan, perjuangan untuk dapat meraih aspirasi menjadi Regional Champion Bank, Bank Mandiri melakukan transformasi secara bertahap melalui 3 (tiga) fase:

Tahap 1 (2006-2007). Back on Track: Fokus untuk merekonstruksi ulang fondasi Bank Mandiri untuk pertumbuhan di masa depan.

Tahap 2 (2008-2009) Outperform the Market: Fokus pada ekspansi bisnis untuk menjamin pertumbuhan yang signifikan di berbagai segmen dan mencapai level profit yang mampu melampaui target rata-rata pasar.

Tahap 3 (2010) Shaping the End Game: Bank Mandiri menargetkan diri untuk menjadi bank regional terdepan melalui konsolidasi dari bisnis jasa keuangan dan lebih mengutamakan peluang strategi pertumbuhan non-organik, termasuk memperkuat kinerja anak perusahaan dan akuisisi bank atau perusahaan keuangan lainnya yang dapat memberikan nilai tambah bagi Bank Mandiri.

Baca juga: Menebak Agenda RUPSLB 5 BUMN

Proses transformasi ini berhasil meningkatkan laba bersih Bank Mandiri dari Rp0,6 Triliun di tahun 2005 menjadi Rp9,2 Triliun di tahun 2010.

Untuk dapat mempertahankan dan terus meningkatkan kinerjanya, Bank Mandiri melaksanakan transformasi lanjutan tahun 2010-2014, yaitu dengan melakukan revitalisasi visinya untuk “Menjadi Lembaga Keuangan Indonesia yang paling dikagumi dan selalu progresif”.

Dengan visi tersebut, Bank Mandiri mencanangkan untuk mencapai milestone keuangan di tahun 2014, yaitu nilai kapitalisasi pasar mencapai di atas Rp225 triliun dengan pangsa pasar pendapatan mendekati 16%, ROA mencapai kisaran 2,5% dan ROE mendekati 25%, namun tetap menjaga kualitas aset yang direfleksikan dari rasio NPL gross di bawah 4%.

Masih di tahun yang sama, Bank Mandiri terus memperkuat peran sebagai lembaga intermediasi untuk mendorong perekonomian nasional. Hal itu ditunjukkan dengan pertumbuhan kredit sebesar 12,2% pada akhir 2014 menjadi Rp530 triliun dari Rp472,4 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya, dengan rasio NPL terjaga di level 2,15 %.

Pertumbuhan penyaluran kredit itu mendorong peningkatan aset menjadi Rp855 triliun dari Rp733,1 triliun pada Desember 2013. Sedangkan laba bersih pada 2014 tercatat tumbuh 9,2% menjadi Rp19,9 triliun atau naik Rp1,7 triliun jika dibandingkan akhir 2013 sebesar Rp18,2 triliun. Selain pertumbuhan kredit, laju kenaikan laba bersih juga ditopang oleh pertumbuhan fee based income yang mencapai Rp15,06 triliun pada tahun 2014.

Laju kenaikan laba juga ditopang pertumbuhan bunga bersih sebesar 15,7% menjadi Rp39,1 triliun dan kenaikan fee based income sebesar 3,9 % sehingga mencapai Rp15,06 triliun. Dari capaian laba tersebut, kontribusi anak perusahaan mencapai 9,1% % atau sebesar Rp1,81 triliun.

Sebagai implementasi fungsi intermediasi dalam mendukung perekonomian nasional, Bank Mandiri juga terus memacu pembiayaan ke sektor produktif. Hasilnya, pada akhir 2014, kredit ke sektor produktif tumbuh 13,9% mencapai Rp410,6 triliun. Pada tahun ini kredit investasi tumbuh 9,1 % dan kredit modal kerja tumbuh 16,7%.

Dilihat dari segmentasi, kenaikan penyaluran kredit terjadi di seluruh bisnis, dengan pertumbuhan tertinggi pada segmen mikro yang mencapai 33,2% menjadi Rp36 triliun pada Desember 2014.

Sementara itu, kredit yang tersalurkan untuk segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mencatat pertumbuhan sebesar 13,6% menjadi Rp73,4 triliun.

Bank Mandiri juga turut menyalurkan pembiayaan khusus dengan skema penjaminan pemerintah, yaitu melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga akhir 2014, jumlah nasabah KUR Bank Mandiri meningkat 34% yoy mencapai 396 ribu nasabah.

Kepercayaan masyarakat kepada Bank Mandiri juga terus tumbuh yang ditunjukkan dengan naiknya penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) menjadi Rp636,4 triliun pada akhir 2014 dari Rp556,4 triliun pada tahun sebelumnya. Dari pencapaian tersebut, total dana murah (giro dan tabungan) yang berhasil dikumpulkan Bank Mandiri mencapai Rp380,5 triliun, yang terutama didorong oleh pertumbuhan tabungan sebesar 6,7% atau Rp15,93 triliun hingga mencapai Rp252,4 triliun.

Capaian tersebut sangat menggembirakan, terutama jika mempertimbangkan tingkat persaingan likuiditas yang sangat ketat di industri.

Sebagai upaya untuk meningkatkan pengumpulan dana masyarakat melalui peningkatan kenyamanan bertransaksi, Bank Mandiri terus mengembangkan jaringan kantor cabang, jaringan elektronik, maupun jaringan layanan lainnya.

Tercatat, per Maret 2019 Bank Mandiri memiliki total 2.629 kantor cabang yang terdiri dari 139 kantor cabang, 2.323 kantor cabang pembantu (KCP) dan 167 kantor kas. Bank Mandiri juga memiliki 18,291 mesin ATM yang tersebar di seluruh Indonesia.

Atas kinerja baik tersebut, Bank Mandiri meraih sejumlah penghargaan antara lain sebagai bank terbaik di Indonesia dari tiga publikasi terkemuka di sektor keuangan, yaitu Finance Asia, Asiamoney dan The Banker.

Selain itu, Bank Mandiri juga berhasil mempertahankan predikat Best Bank in Service Excellence dari Marketing Research Indonesia (MRI) dan Majalah SWA selama tujuh tahun berturut-turut serta predikat Most Trusted Companies selama delapan tahun berturut-turut dari International Institute for Corporate Governance (IICG).

Dengan pencapaian positif dan segudang prestasi dan penghargaan, Bank Mandiri kemudian mencanangkan visi jangka panjangnya, yaitu “To be The Best Bank in ASEAN by 2020”, atau menjadi Bank terbaik di ASEAN tahun 2020.

Baca juga: Pemegang Saham Tunjuk Rionald Silaban Jadi Komisaris