Pemerintah Perlonggar PPnBM, Ciputra Development Lirik Bangun Hunian Mewah

Pemerintah Perlonggar PPnBM, Ciputra Development Lirik Bangun Hunian Mewah
RUPS PT Ciputra Development Tbk., 26 Juni 2019/Foto: Deddy H. Pakpahan

PT Ciputra Development Tbk. menyambut baik langkah pemerintah yang mengubah ketentuan batas nilai hunian mewah yang dikenakan pada Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Upaya ini dilakukan untuk mendorong penjualan properti pada segmen tersebut. Bila memang demand cukup tinggi, pihak perseroan mengaku akan kembali melirik pasar hunian untuk kalangan atas (upper class). 

Direktur PT Ciputra Development Tbk. Tulus Santoso mengatakan upaya pemerintah merelaksasi aturan PPnBM itu memberikan celah baru bagi pengusaha untuk mendulang keuntungan. "Ya, mestinya kalau ada demand kenapa tidak dibangun. Kalau demand hunian kelas atas tinggi, kami akan bangun," katanya usai RUPS PT Ciputra Development Tbk. di Jakarta pekan lalu.

Menurut dia, selama ini Ciputra memiliki sejumlah produk yang menyasar kalangan atas. Di antaranya Raffles Residence. Namun, ketatnya aturan perpajakan a.l. PPnBM dan PPh Pasal 22, membuat orang berpikir ulang untuk membeli hunian tersebut. "PPnBM 20% dan PPh Pasal 22 sebesar 5% dibebankan kepada konsumen properti. Jelas sangat memberatkan," kata Tulus.

Baca juga: Developer Berharap Milenial Bisa Beli Hunian Buat Kerek Penjualan

Sebelumnya pada 11 Juni 2019 lalu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah menandatangani Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 86/PMK.010/2019 tentang Perubahan atas PMK Nomor 35/PMK.010/2017 tentang Jenis Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah Selain Kendaraan Bermotor Yang Dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

Dalam Lampiran I PMK baru disebutkan, daftar jenis barang kena pajak yang tergolong mewah selain kendaraan bermotor yang dikenai PPnBM dengan tarif sebesar 20%. "Kelompok hunian mewah seperti rumah mewah, apartemen, kondominium, town house, dan sejenisnya dengan harga jual sebesar Rp30 miliar atau lebih," demikian bunyi Lampiran I PMK tersebut.

Sedangkan pada PMK Nomor 35/PMK.010/2017 disebutkan, hunian yang dikenai PPnBM dengan tarif 20%, yakni: 1. Rumah dan town house dari jenis non stratatitle dengan harga jual sebesar Rp20 miliar atau lebih; 2. Apartemen, kondominium, town house dari jenis stratatitle, dan sejenisnya dengan harga jual sebesar Rp10 miliar atau lebih.

Sementara itu menyinggung target penjualan properti selama 2019, Tulus mengatakan Ciputra Development menargetkan mampu meraih marketing sales sebesar Rp6 triliun. Selain mengandalkan proyek-proyek yang telah existing, perusahaan berencana meluncurkan empat produk residensial terbaru pada semester kedua tahun ini.

Beberapa proyek Ciputra Development teranyar yang akan dil-launch adalah perumahan di Puri, Jakarta Barat di atas lahan seluas 18,2 hektar. Hunian yang akan dibanderol serentang harga Rp900 juta hingga Rp2 miliar ini menyasar segmen kelas menengah atas. Masih pada properti residensial, Ciputra juga merencanakan membangun residensial skala kota di Sentul, Citra Sentul Raya. Dari total lahan seluas 1.000 hektar, untuk tahap pertama akan dikembangkan seluas 114 hektar. Hunian yang ditujukan bagi masyarakat kelas menengah bawah ini akan dibanderol sekitar Rp600 juta hingga Rp1,6 miliar dan target pra penjualan yang bisa diperoleh mencapai Rp200 miliar.

Baca juga: PGN dan DPP REI Teken MoU

Ciputra Development juga akan membangun satu proyek apartemen di Ciracas, Jakarta Timur. Untuk tahap pertama akan dikembangkan di atas lahan 2 hektar dari total 7 hektar lahan. Harga yang dipatok mulai dari Rp320 juta hingga Rp800 juta. Ceruk pasar yang diincar adalah masyarakat kelas menengah ke bawah dengan target penjualan Rp250 miliar.

Sementara proyek yang keempat adalah mixed use residential di Driyorejo, Gresik, Ciputra merencanakan membangun 12 hekar untuk hunian segmen menengah dan menengah bawah dengan kisaran harga Rp680 juta hingga Rp1,6 miliar. Selain proyek baru, Ciputra Development juga terus menggenjot sejumlah proyek yang telah diluncurkan seperti CitraLand Surabaya, CitraRaya Tangerang, Citra Maja Raya, Citra Indah City Jonggol, dan CitraPlaza Nagoya Batam.

Pertumbuhan harga rumah mewah

Tahun lalu pertumbuhan harga rumah mewah Jakarta melorot ke posisi 26 dunia. Padahal empat atau lima tahun lalu pertumbuhan harga rumah mewah selalu berada di posisi nomor satu. Riset Prime Global Cities Index 2018 yang dipublikasikan konsultan properti global Knight Frank mengungkapkan harga rumah mewah di ibu kota Indonesia ini tercatat stagnan. Tak ada pertumbuhan selama kuartal I-2018, dan hanya bergeser 0,4% sejak September 2017 hingga Maret 2018 atau dalam periode enam bulan.

Sementara, secara tahunan, Prime Global Cities Index melaporkan pertumbuhan harga rumah mewah di Jakarta hanya 1,2%. Fakta ini jauh berbeda bila dibandingkan catatan pada 2013 dan 2014. Saat itu, Jakarta berada pada peringkat pertama, mengungguli 32 kota dunia lainnya dengan pertumbuhan harga 27,3% per tahun. Sebagai gambaran saja, apartemen Le Parc yang berada di kompleks pengembangan Thamrin Nine saat ini dibanderol dengan harga Rp75 juta per m2 (tidak termasuk PPN).