Pasca Transformasi, KAI Tak Berhenti Lakukan Inovasi

Pasca Transformasi, KAI Tak Berhenti Lakukan Inovasi
Kereta api milik KAI melintas di antara persawahan (Sumber: dok. KAI)

Moda transportasi kereta api kini menjadi salah satu favorit para perantau ibu kota saat pulang kampung di musim lebaran atau liburan. Selain tidak macet, harganya pun terjangkau. Namun, perjalanan dengan menggunakan kereta api sesungguhnya pernah menjadi pengalaman yang kurang menyenangkan.

Setidaknya, hal itu terjadi hingga awal tahun 2011 atau sekitar 9 tahun lalu ketika PT Kereta Api Indonesia (Persero) belum bertransformasi. Asap rokok membaur dengan aroma toilet kotor dan ruang gerak yang sangat terbatas karena gerbong kereta selalu overload, menjadi suasana yang umum terjadi.

Beruntung mulai tahun 2011, transformasi besar-besaran yang dilakukan oleh Dirut KAI pada waktu itu, Ignasius Jonan bersama timnya membuahkan hasil. Penumpang tak lagi harus berebut tempat duduk. Satu kursi untuk satu penumpang sehingga tak ada lagi yang usil duduk di dalam toilet atau sandaran kursi.

“Memang kereta api ini harus banyak sekali dibenahi, karena sudah lama pelayanan publik di Indonesia, sering kali ditangani dengan tidak sungguh-sungguh,” ungkap Jonan dalam salah satu wawancara dengan NetTV di tahun 2014.

Setelah transformasi, wajah kereta api Indonesia benar-benar berubah. Stasiun-stasiun menjadi lebih tertata karena hanya calon penumpang saja yang boleh masuk peron. Antrean di depan mesin loket juga tidak mengular karena pemesanan tiket bisa dilakukan secara online.

Di sisi fasilitas kereta, AC sudah dipasang di semua gerbong kereta termasuk kelas ekonomi, juga toilet yang jauh lebih bersih dari sebelumnya. Satu lagi, kita tidak akan bertemu pedagang asongan di dalam kereta maupun di peron.

*) dirangkum dari Laporan Tahunan KAI 2011-2018

Pada tahun 2014, Ignasius Jonan ditunjuk menjadi Menteri Perhubungan oleh Presiden Joko Widodo. Posisinya sebagai Direktur Utama digantikan oleh Edi Sukmoro. Lulusan Teknik Sipil Insitut Teknologi Bandung ini bergabung dengan KAI pada tahun 2013.

Sebelumnya, pria kelahiran Semarang 60 tahun silam ini bekerja di PT PLN (Persero). Di BUMN penyedia energi listrik tersebut, ia telah berkarya selama 30 tahun dengan jabatan terakhir sebagai Vice President of Deputy Management.

Pasca transformasi besar-besaran yang dilakukan Jonan, tugas Edi Sukmoro adalah melanjutkan pembenahan dan perbaikan di berbagai aspek. Salah satu kemajuan yang terlihat di masa kepemimpinannya adalah KAI yang makin relevan dengan perkembangan zaman, utamanya teknologi.

KAI Melek Digitalisasi
Sejak diluncurkan di tahun 2014, KAI Access terus-menerus berevolusi. Fiturnya pun semakin lengkap dan memudahkan pelanggan KAI. Melalui aplikasi ini, calon penumpang tidak perlu lagi mencetak boarding pass seperti jika mereka memesan melalui channel penjualan tiket lain.

Dengan e-boarding pass tersebut, calon penumpang cukup memperlihatkan aplikasinya kepada petugas boarding gate. Begitu pula saat pengecekan tiket di atas kereta. Praktisnya lagi, dengan menggunakan aplikasi KAI Access, calon penumpang bisa membatalkan tiketnya tanpa perlu antre di loket stasiun.

KAI Access juga menjadi sebuah platform digital di mana perusahaan mengomunikasikan program-program promosi yang tengah dilakukan. Salah satu contohnya adalah ketika KAI meluncurkan rute KA baru yang diberi nama KA Pangandaran. Pembelian tiket melalui KAI Access mendapatkan harga promosi dengan cukup membayar 1 rupiah saja.

Reaktivasi Rel Mati
Pada 2 Januari 2019 KAI meluncurkan KA Pangandaran dengan rute Gambir – Bandung – Banjar PP. Kehadiran kereta tersebut kembali menghidupkan rel kereta api jalur Cibatu - Garut yang telah mati sejak 1983.

Apa yang mendorong KAI menghidupkan kembali rute tersebut? Menurut Edi Sukmoro, langkah tersebut diambil untuk menggerakkan roda perekonomian dan pariwisata di daerah-daerah yang dilintasi kereta api.

“Dioperasikannya KA Pangandaran ini, merupakan salah satu dukungan KAI terhadap program pariwisata Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia (WI-PI),” ungkap Edi ketika meresmikan KA Pangandaran.

KAI ingin berkontribusi dengan cara memberikan aksesibilitas masyarakat dari Jakarta, Bandung ke wilayah Garut, Tasikmalaya, Banjar dan Pangandaran.

Meski reaktivasi jalur memberikan dampak positif bagi masyarakat, KAI tetap harus berurusan dengan warga yang terlanjur memanfaatkan jalur kereta selama jalur tersebut non-aktif. Ada jalur yang sudah dijadikan rumah, bahkan dialihfungsikan sebagai jalan.  

Menghadapi hal tersebut, KAI memilih berdialog dengan warga dan bekerja sama dengan Pemprov Jawa Barat dan pemda-pemda setempat. Meski yang dibebaskan adalah lahan milik KAI, perseroan tetap memberikan sejumlah uang pembongkaran. KAI juga berterima kasih atas kerelaan para warga untuk menyerahkan kembali aset milik perusahaan yang sebelumnya mereka tempati.

Selain KA Pangandaran, di akhir bulan Desember 2018, KAI sudah lebih dahulu meluncurkan KA Galunggung dengan rute Kiaracondong – Tasikmalaya. Ke depannya, akan lebih banyak lagi jalur rel mati yang kembali dihidupkan.

Pemerintah sejauh ini telah merencanakan reaktivasi empat jalur mati yakni rute Cibatu-Garut-Cikajang (47,5 km), Rancaekek-Tanjungsari (11,5 km), Banjar-Pangandaran-Cijulang (82 km), dan Bandung-Ciwidey (37,8 km). Reaktivasi dilakukan utamanya untuk menggalakkan wisata-wisata potensial yang berlokasi tak jauh dari jalur tersebut.

Dekat dengan Gaya Hidup Jaman Now
Anda ingin perjalanan mewah dengan menggunakan kereta? Bisa! Untuk mengakomodasi gaya hidup masyarakat kelas menengah ke atas yang mengutamakan kenyamanan dan full service, KAI meluncurkan KA Luxury atau sleeper train pada tahun 2018.

Dalam satu gerbong kereta luxury, jumlah kursi penumpang hanya 28 saja. Jauh lebih lega dibanding kereta eksekutif dengan kurang lebih 50 kursi penumpang. Animo masyarakat terbilang tinggi hingga pada lebaran 2019 lalu, KAI kembali merilis luxury train generasi kedua.

Pembenahan KAI tidak hanya terbatas pada sarana berupa kereta tetapi juga stasiun. Kini, stasiun bukan hanya menjadi tempat naik atau turunnya penumpang KA, tetapi memiliki fungsi yang lain.

Beberapa stasiun telah menjelma sebagai “tempat nongkrong” yang nyaman. Bukan nongkrong di peron tentunya, tetapi stasiun dilengkapi dengan coffee shop, fasilitas wifi dan bahkan coworking space yang dikelola anak usaha KAI. Desain stasiun pun dibuat semenarik mungkin agar pengunjung tidak bosan ketika menunggu kereta.

Masih banyak inovasi yang dilakukan KAI misalnya saja peluncuran Rail Clinic yang dilengkapi perpustakaan. Juga hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah yang menempel dengan stasiun. Fungsinya tentu saja untuk mengurangi pengeluaran mereka untuk transportasi.

Terobosan - terobosan yang dilakukan KAI membawa perusahaan pada pertumbuhan penumpang maupun angkutan barang yang positif. Tentunya, keduanya berdampak pada laba yang diraup perusahaan.

Data Volume Penumpang dan Angkutan Barang KAI

*) Diolah dari Laporan Tahunan KAI Tahun 2008 - 2018

Tahun ini, KAI menargetkan pertumbuhan laba sebesar 26 persen. KAI yakin target tersebut bisa tercapai. Salah satu modal dasarnya ada di Sumber Daya Manusia (SDM) yang bertanggung jawab akan pelayanan KAI terhadap pelanggan.

“Dimulai dari internal KAI terlebih dahulu, mengubah yang dulunya product oriented menjadi service oriented,” demikian diungkapkan Edi Sukmoro ketika mengisi seminar di salah satu kampus di Yogyakarta tahun 2018 lalu.

Baca juga: 5 BUMN Indonesia Turut Bangun Infrastruktur Madagaskar