Nasib Industri Aviasi RI Pasca Garuda Kelola Sriwijaya

Nasib Industri Aviasi RI Pasca Garuda Kelola Sriwijaya
Source: Dokumentasi Garuda Indonesia

Selalu ada kejutan dari industri penerbangan nasional akhir-akhir ini. Mulai dari kabar duka jatuhnya Lion Air, akan kembali mengudaranya Merpati Airlines dan terakhir, kerjasama Garuda Indonesia dan Sriwijaya Group.

Khusus isu mengenai sinergi ini, hal tersebut bukanlah aksi korporasi belaka karena sedikit banyak diperkirakan akan berdampak pada percaturan industri aviasi di negeri ini. 

PT Garuda Indonesia Tbk melalui anak usahanya, PT Citilink Indonesia, telah menjalin kerjasama dengan Sriwijaya Group, yaitu Sriwijaya Air dan NAM Air. Kedua instansi tersebut menandatangani perjanjian kerjasama pada 9 November 2018 yang lalu. 

Kedua belah pihak sepakat untuk membentuk kerja sama operasi (KSO), termasuk di antaranya pengelolaan operasional dan finansial Sriwijaya di bawah kendali Citilink. Ke depannya, KSO ini juga berpeluang untuk melangkah ke level lebih tinggi, yakni akuisisi saham Sriwijaya Group oleh Citilink. 

Menurut Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara, sinergi kedua maskapai nasional tersebut diharapkan dapat memperluas pangsa pasar keduanya. Apabila digabungkan, lanjut Ari, pangsa pasar kedua perusahaan bisa mencapai 51 persen.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperkirakan jumlah penumpang udara akan terus meningkat. Pada tahun 2036 Indonesia diperkirakan akan menduduki posisi keempat terbesar dalam pasar penerbangan internasional dengan jumlah penumpang mencapai 355 juta orang.

Adapun posisi pertama diduduki oleh Negeri Tirai Bambu dengan angka 1,5 miliar orang. Posisi kedua ditempati Amerika Serikat dengan 1,1 miliar dan ketiga India 478 juta orang.

Data tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya bisnis penerbangan adalah bisnis yang sangat menggiurkan. Namun tanpa inovasi dan kejituan manajemen dalam menghadapi perubahan zaman, bisa saja pebisnis dalam bidang ini menghadapi kejatuhan. Hal ini pernah terjadi pada sejumlah maskapai nasional yang pernah menghiasi langit Indonesia, namun kandas di tengah jalan. 

Setelah Garuda Indonesia pertama kali mengudara pada 28 Desember 1949, sederet maskapai yang dimiliki pengusaha nasional mulai ikut take off. Sebut saja Bouraq Airlines, Mandala Airlines, Sempati Airlines, Merpati Nusantara Airlines, Adam Air, Batavia, Sriwijaya Air dan terakhir Lion Air. Namun tragisnya, sebagian besar dari nama-nama tersebut mengalami turbulensi yang hebat sehingga harus crash landing alias gulung tikar. Alasannya sangat beraneka ragam: baik karena pailit, bangkrut maupun dicabut izin terbangnya. Hingga kini yang tetap dapat mengudara hanyalah Garuda, Sriwijaya dan Lion Air.

Pengamat penerbangan Alvin Lie menilai banyak faktor yang menyebabkan maskapai menemui senjakalanya. Salah satu penyebabnya adalah, persaingan industri penerbangan yang makin ketat. 

Di sisi lain, maskapai nasional dinilai kurang melakukan efisiensi karena lebih fokus dalam menawarkan tiket murah namun lalai dalam melakukan efisiensi internal. Selain itu, lanjut Alvin, adanya mismanagement yang menyebabkan tidak meratanya distribusi subsidi silang antara rute gemuk dan rute-rute yang kurang diminati. 

Sriwijaya sendiri didirikan tahun 2003 oleh pengusaha nasional bernama keluarga Lie untuk menjawab kebutuhan alat transportasi udara. Memulai penerbangan perdananya ke sejumlah rute di Sumatera dan Kalimantan, Sriwijaya mulai mengepakkan sayapnya ke sejumlah rute yang semakin luas. Bahkan sejak 2014, Sriwijaya melakukan ekspansi dengan membuka rute penerbangan ke Tiongkok.

Maskapai ini terus melakukan inovasi, bahkan sejak tahun 2007 tercatat sebagai salah satu maskapai yang memiliki standar keamanan kategori 1 di Indonesia. Selain itu, Sriwijaya juga terus melakukan penambahan armada untuk mengimbangi kemajuan teknologi dan kepuasan publik. Namun ternyata, bisnis tak semulus mimpi, Sriwijaya tercatat memiliki kewajiban terhadap Garuda yang tidak sedikit, yakni 24,31 juta dolar AS.

Menurut laporan keuangan Garuda per September 2018, Sriwijaya memiliki utang jangka panjang kepada perusahaan plat merah tersebut sebesar 9,33 juta dolar AS. Tak hanya itu, sebelumnya Sriwijaya juga memiliki utang sekitar 14,98 juta dolar AS. Namun utang terakhir ini akhirnya diambil alih oleh PT Bank Negara Indonesia melalui open account financing, yaitu fasilitas pembiayaan jangka pendek.

Sementara Garuda, meski masih merugi namun maskapai berwarna biru ini berhasil meraih sejumlah penghargaan, di antaranya Top 10 World's Best Airline dan TripAdvisor 2018 Travelers Choice Awards. Penghargaan tersebut tidak lantas membuat Garuda berpuas diri. Untuk mendongkrak kinerja keuangannya, korporasi terus melakukan ekspansi bisnis, di antaranya memasuki rute Tiongkok dan Jepang.

Sebagai catatan, sepanjang tahun 2018, Garuda memproyeksikan rugi bersihnya akan menyusut di bawah 100 juta dolar AS dibandingkan kerugian tahun 2017 sebesar 213,4 juta dolar AS. Kerugian tersebut terjadi karena sejumlah faktor, di antaranya kenaikan harga minyak dunia yang berimbas pada naiknya harga bahan bakar.

Melihat fenomena ini, Alvin Lie menilai Sriwijaya hanya memiliki dua alternatif jika ingin tetap eksis di dunia penerbangan. Pertama, melakukan perampingan usaha secara besar-besaran (downsizing) dan kedua, bergabung dengan industri besar agar tidak gugur dalam kancah peperangan.

"Ini konsekuensi dari kedewasaan pasar transportasi udara di Indonesia saat ini. Sriwijaya bisa dikatakan memilki bisnis yang nanggung, jadi tak banyak pilihan agar bisa berkiprah di industri penerbangan," ujar Alvin Lie dalam perbincangannya dengan Upperline, 15 November 2018.

Di sisi lain, Garuda juga diuntungkan dengan adanya aliansi ini, yakni dengan menggaet pangsa pasar yang lebih banyak. Terutama, pada rute-rute yang dimiliki Sriwijaya namun tak dipunyai Citilink, kata Alvin.

"Jangkauan Garuda akan semakin meluas. Dan ini akan merambah ke rute-rute yang dimiliki Lion Air. Akibatnya Garuda dan Lion akan seimbang menjangkau rute-rute yang selama ini belum dilalui oleh Citilink. Garuda terbang dengan Citilink, Sriwijaya dan NAM, sedangkan Lion dengan Batik Air dan Wings Airnya," kata Alvin.

Lion Air sendiri adalah maskapai swasta terbesar di Indonesia yang memiliki jaringan penerbangan yang sangat luas, baik domestik maupun internasional. 

Ujung-ujungnya, Alvin memproyeksikan, industri penerbangan nasional akan mengerucut pada dua pemain besar ini, yakni Garuda Indonesia dan Lion Air. Lion Air dinilai menunjukkan perbaikan dalam aspek keselamatan. Namun maskapai tersebut tetap harus memperbaiki layanan konsumennya.

Lalu bagaimana dengan Merpati Nusantara Airlines yang siap terbang tahun 2019? Alvin menilai rencana tersebut sangat tidak feasible secara bisnis.

"Bayangkan 6,4 triliun rupiah untuk menyuntik dana Merpati. Apa yang mau dibeli dari Merpati? Ini sangat tidak feasible. Kalaupun dijalankan saya khawatir ini ada kepentingan politik." ujarnya.

Jadi, tegas Alvin lagi, pada akhirnya hanya Garuda Indonesia dan Lion Air lah yang akan menjadi survivors di industri penerbangan nasional ini. Kita tunggu saja, apakah ramalan tersebut akan menjadi kenyataan?