Naik Tipis, Garuda Indonesia Kantongi Pendapatan US$3,21 Miliar

Naik Tipis, Garuda Indonesia Kantongi Pendapatan US$3,21 Miliar

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) berhasil mengantongi pendapatan hingga akhir September 2018 sebesar US$3,21 miliar atau meningkat tipis dari US$3,11 miliar tahun sebelumnya.

Namun, dalam keterangan yang dilansir Wartaekonomi.co.id, Senin (5/11/2018), beban usaha Perseroan tercatat naik menjadi US$3,35 miliar dari US$3,23 miliar. Sementara beban usaha lainnya juga naik menjadi US$61,90 juta dari US$14,92 juta.

Meski demikian, Perseroan hanya mencatatkan rugi usaha sebesar US$70,81 juta turun dari rugi usaha US$109,22 juta tahun sebelumnya. Rugi sebelum pajak pun tercatat turun menjadi US$132,18 juta dari rugi sebelum pajak US$168,93 juta tahun sebelumnya.

Kerugian Perseroan sepanjang sembilan bulan 2018 tercatat menyusut 48,61% menjadi sebesar US$114,08 juta dari rugi US$222,03 juta di periode sama tahun sebelumnya. Adapun total aset Perseroan tercatat mencapai US$4,11 miliar hingga 30 September 2018 naik dari total aset US$3,76 miliar hingga 31 Desember 2017.

Sebelumnya, seperti dikutip Kontan.co.id, Senin (5/11/2018), Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara, mengatakan bahwa saat ini pihaknya memang sedang fokus menekan kerugian menjadi di bawah US$50 juta pada akhir tahun ini. Dia pun optimistis target tersebut akan tercapai.

Adapun dari total pendapatan, penerbangan berjadwal masih memberikan kontribusi terbesar terhadap GIAA yakni US$2,56 miliar. Penerbangan tidak berjadwal menyumbang sekitar US$254,75 juta. Garuda Indonesia memperoleh pendapatan dari pendapatan lainnya sebesar US$397,96 juta.

Meski beban tercatat meningkat, untungnya, Persroan berhasil meraih keuntungan kurs hingga US$52,35 juta, meningkat 226% dari tahun lalu sebesar US$16,04 juta. Keuntungan kurs ini terjadi karena Perseroan melaporkan kinerja dalam mata uang dollar AS.

Sementara, Perseroan juga tercatat masih memiliki utang besar. Utang bank jangka pendek Garuda Indonesia mencapai US$965,02 juta, naik 11,13% dari akhir Desember 2017 yang sebesar US$868,38 juta. Sebagai informasi, utang bank jangka pendek merupakan utang bank yang jatuh tempo dalam waktu setahun ke depan.(DD)