MRT Jakarta: Oase di Tengah Macet dan Polusinya Ibukota

MRT Jakarta: Oase di Tengah Macet dan Polusinya Ibukota
Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar (Dok: Niza Pratiwi dan Anita-Upperline)

Kejamnya ibu tiri tak sekejam ibu kota. Film komedian Ateng dan Ishak di tahun 1980an itu masih relevan dengan kondisi saat ini. Kekejaman Jakarta tak hanya terasa bagi pendatangnya, melainkan juga warganya. Kok bisa? Tengok saja wajah ibu kota di jam-jam sibuk. Niscaya pemandangan kemacetan yang mengular akan terpampang dengan jelas dan nyata.

Kondisi ini menjadikan Jakarta masuk dalam salah satu dari 12 kota di dunia yang dinobatkan sebagai kota termacet di tahun 2017 oleh lembaga pemeringkat lalu lintas dunia, Inrix. Kemacetan terparah terjadi pada jam-jam orang pergi dan pulang kantor, yaitu 07.00-08.00 WIB dan 17.00-18.00 WIB, menurut TomTom Traffic Index.

Kekejaman itu tak berhenti sampai di situ. Kemacetan ini berimbas ke tingkat polusi. AirVisual dan Greenpeace baru saja merilis data mengenai hal tersebut. Jakarta dan Hanoi dicatat sebagai dua kota dengan kualitas udara terburuk di Asia Tenggara. Tingkat pencemaran di Jakarta hanya 12% lebih rendah daripada Beijing, China. Padahal Beijing terkenal cukup parah kondisi udaranya dengan masifnya penggunaan batu bara untuk menggerakkan pembangkit di negara tersebut.

Studi AirVisual dan Greenpeace juga menjelaskan betapa parahnya polusi di ibu kota. Indeks konsentrasi rata-rata tahunan particulate matter (PM) 2,5 tahun 2018 mencapai 45,3 mikrogram per meter kubik. Padahal PP No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara menyebutkan batas aman sebesar 15 mikrogram per meter kubik. Sementara, ambang batas aman partikel ini versi World Health Organization (WHO) adalah maksimal 10 mikrogram per meter kubik.

 

 

Di tengah carut marutnya kondisi kemacetan dan polusi ibu kota, PT Mass Rapid Transit Jakarta (MRT Jakarta) tiba-tiba hadir bagaikan oase di gurun pasir. Perusahaan patungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PD Pasar Jaya itu punya cita-cita mulia: memberikan alternatif moda transportasi seperti layaknya kota-kota besar, seperti Singapura ataupun Kuala Lumpur, yaitu MRT (Mass Rapid Transit). Jarak tempuh bisa dipangkas secara signifikan. Belantara kemacetan Jakarta bisa ditembus dalam hitungan menit! 

Ambisi ini sebenarnya sudah lahir sejak tahun 1985 ketika mantan Presiden RI B.J. Habibie menjabat sebagai Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Habibie kala itu menimbang perlunya transportasi massal untuk mengakomodir pertumbuhan kendaraan di ibu kota. Namun ambisi tinggal menjadi obsesi. Proyek mulia ini belum dikategorikan sebagai proyek nasional, sehingga mandek tiada tentu rimbanya. Nah, baru pada tahun 2006-lah penandatanganan persetujuan pembiayaan untuk proyek ini diteken. 

"Berangkat dari kejelasan tersebut, maka Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai bergerak dan saling berbagi tanggung jawab," jelas MRT Jakarta dalam laman resminya.

Luasnya wilayah Jakarta membuat MRT membagi pembangunan kereta cepat ini menjadi empat fase. Setiap fase kelak akan terintegrasi dengan moda transportasi lainnya. Nah di fase pertama, MRT membangun rel sepanjang 16 kilometer yang menghubungkan Terminal Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia. 

 

Fase 1 ini, menurut Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar, akan memiliki 13 stasiun, terdiri dari 7 stasiun layang dan  6 stasiun bawah tanah. Pusat ke Selatan Jakarta itu dapat ditempuh hanya dalam waktu 30 menit. Maklum saja, kecepatan kereta ini cukup luar biasa, yaitu sekitar 80-100 kilometer per jam.

"Secara teknis, MRT siap beroperasi. Kita masuk pada fase full trial hingga komersial di akhir Maret nanti," ujar pria yang akrab dipanggil Willy itu kepada Upperline pada pertengahan Februari 2019.

Keseriusan MRT Jakarta untuk ikut menuntaskan kemacetan di ibukota ini tak main-main. Investasi yang dikucurkan pun cukup besar, yakni mencapai 16 triliun rupiah. Dan untuk itu, Japan International Cooperation Agency (JICA) turut menyokong proyek ini dengan memberikan pinjaman sebesar 125,2 miliar yen. 

Pada tahap komersial pada nantinya, MRT Jakarta akan mengoperasikan 16 rangkaian kereta yang diberi nama Ratangga. Nama ini diadopsi dari Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular. 

"Artinya kira-kira berarti kereta kuda yang kuat dan dinamis," kata Willy.

 

Nah kembali lagi ke soal kereta. Menurut Willy, satu rangkaian kereta akan terdiri dari 6 gerbong dengan total panjang 120 meter. Jadi untuk sekali angkut, MRT mampu membawa 1.800 penumpang. Sementara jarak antara satu kereta dengan kereta lain ini berkisar sekitar 10 menit. 

Kemampuan pengangkutan Ratangga ini membuat MRT pede untuk mematok target 65.000 penumpang untuk sekali angkut pada tahap awal pengoperasiannya.

"Kita asumsikan saat MRT beroperasi target 65.000 penumpang di tahun pertama. Nanti pelan-pelan kita menuju ke 130.000 penumpang," katanya.

Rasanya tak berlebihan target MRT itu. Seakan tak mau kalah dengan luar negeri, perusahan berusaha tampil prima dalam melayani masyarakat. Saat Upperline berkesempatan meninjau Stasiun Bundaran Hotel Indonesia, terlihat bagaimana rapi dan ramahnya para petugas di sana. Mereka dilengkapi dengan jas, tak kalah menterengnya dengan pramugari dan pramugara. Tak hanya itu, seluruh ruangannya pun dilengkapi dengan pendingin udara. Tersedia pula musala, toilet bagian penyandang disabilitas serta ruangan menyusui.

Menurut Direktur Konstruksi MRT Jakarta Silvia Halim, pihaknya terus memberikan pelayanan demi kenyamanan terhadap penumpang, misalnya menyediakan park & ride pada area stasiun MRT Lebak Bulus dan Fatmawati, pengelolaan kawasan bebas PKL dan parkir liar.

"Kita pastikan untuk memberikan layanan prima, nyaman dan pasti tepat waktu. Kedua, memastikan integrasi dengan Trans Jakarta, KRL dan kereta bandara. Kita terus lakukan sosialisasi agar masyarakat lebih menggunakan transportasi publik," tambah Willy.

 

Setelah fase 1 selesai, MRT Jakarta akan terus fokus untuk kembali merajut Jakarta melalui kereta cepat. Setidaknya hingga kini perseroan berencana untuk melanjutkan ke fase 2, 3 dan 4. Fase 2 nantinya akan menyambungkan Bundaran HI dengan Kampung Bandan. Sedangkan fase 3 dan 4 akan menghubungkan Barat dan Timur Jakarta, yaitu Balaraja-Cikarang. 

"Saat ini kita masih melakukan studi untuk fase 2, kita sudah mulai sebenarnya. Kita berharap tahun 2024 bisa mulai beroperasi karena dibutuhkan waktu 4-5 tahun untuk menyelesaikan setiap fase," ujar Willy. 

Menurut blue print MRT, lanjutnya, Jakarta akan terintegrasi dengan MRT pada tahun 2030. Panjang keempat fase itu mencapai 300 km, di mana 200 km di antaranya hanya berada di wilayah Jakarta.

"Setelah fase 1 ini full operation, kita akan fokus pada pembangunan fase 2 dan 3. Target kita 2030 sudah terbangun 300 km MRT," tegas Willy.

Lalu bagaimana pengaruh keberadaan MRT dengan polusi Jakarta? Aktivis Gerakan Bensin Tanpa Timbal Ahmad Syarifuddin menilai cukup efektif, meskipun tidak terlalu signifikan jika hanya memiliki satu jalur.

Dalam studi Komite Penghapusan Bensin Bertimbal, sumbangan emisi karbon dioksida dari kendaraan bermotor di jalur yang dilintasi MRT mencapai 411.264 ton per tahun. Dengan asumsi emisi MRT hanya 85.660 ton per tahun, maka pengoperasian kereta cepat itu diharapkan mampu menurunkan emisi karbon dioksida sebanyak 325.580 ton per tahun. Angka itu diambil berdasarkan asumsi kapasitas angkut sebesar 420.000 trip per hari.

"Tapi terus terang, kalau hanya satu jalur HI-Lebak Bulus, tentunya kurang efektif. Pastinya orang akan tetap menggunakan angkutan lainnya. Idealnya orang mau beralih jika jaringan sudah terintegasi semua sehingga efektif," jelas Ahmad kepada Upperline.

Ahmad juga mengingatkan kurang efektifnya transportasi kereta ringan cepat (light rail transit) di Palembang yang sepi penumpang. Menurutnya kurang masifnya pembangunan jaringan LRT di Kota Pempek itu membuat masyarakat di sana tidak beralih ke moda transportasi massal ini.

"Jangan sampai ini terjadi di MRT. Kita bisa belajar dari Singapura, Hong Kong atau kota-kota besar lain yang jalur transportasinya terintegrasi," tegas Ahmad.

Nah, bagaimana Pak Willy? Apakah pembangunan fase 2, 3 dan 4 harus dipercepat?

Baca juga: Catat: Akhir Maret, MRT Jakarta Beroperasi Komersial