Mengintip Kesiapan MIND ID Memanfaatkan Larangan Ekspor Nikel

Mengintip Kesiapan MIND ID Memanfaatkan Larangan Ekspor Nikel
Potensi Nikel Indonesia Termasuk Salah Satu yang Terbesar di Dunia/Sumber: Vale Indonesia

Pemerintah Indonesia rupanya serius dalam menjalankan larangan ekspor nikel mentah. Penerapan dipercepat dari sebelumnya pada 1 Januari 2022 menjadi 1 Januari 2020. Jika bisa memanfaatkannya dengan baik, perubahan ini bisa menjadi peluang besar bagi MIND ID.

Keseriusan tergambar dari sikap atas reaksi asing terhadap aturan baru tersebut. Pemerintah bergeming atas protes yang dilakukan oleh Uni Eropa. Mereka menyatakan siap melayani tuntutan yang dilayangkan melalui World Trade Organization (WTO).

Sikap pemerintah didasari niat untuk mendorong hilirisasi industri di dalam negeri. Sebelumnya Presiden Joko Widodo tegas menyatakan hendak menekan ekspor produk mentah. Dikatakannya, semua komoditas yang dikirim ke luar negeri harus diolah dulu supaya memiliki nilai tambah.

Terkait nikel, pemerintah memang tidak main-main. Per 25 Desember 2019, mereka memutuskan menaikkan royalti komoditas bijih nikel yang diekspor. Sebaliknya, untuk mendorong hilirisasi, tarif royalti produk nikel olahan justru dipangkas. Aturan tersebut dikeluarkan melalui PP Nomor 81 Tahun 2019 yang sudah diteken sejak 25 November 2019.

Perubahan ini bisa menjadi peluang besar bagi MIND ID. Sebagai holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pertambangan, mereka seharusnya mampu memanfaatkan larangan ekspor nikel mentah menjadi kesempatan meningkatkan kinerja.

Nikel merupakan salah satu mineral paling berharga. Pemanfaatannya sangat dekat dengan keseharian. Sebagai contoh, nikel dipakai di lebih dari 300.000 produk untuk konsumen dalam bentuk 3.000 alloy (campuran), seperti stainless steel, campuran baja, pembuatan koin, campuran monel, hingga katalis industri.

Bukan itu saja, belakangan nilai nikel semakin berharga karena menjadi salah satu komponen penting untuk baterai mobil listrik. Nikel disebut menawarkan energy density yang lebih tinggi serta storage capacity yang lebih besar dengan ongkos lebih murah. Kelebihan ini membuatnya kian dicari. 

Kebetulan Indonesia juga memegang peran penting dalam pasar nikel di dunia. Berdasarkan laporan International Nickel Study Group (INSG) 2018, negara kita disebut sebagai eksportir tunggal terbesar charge nickel. Pada 2016, ekspor nikel Indonesia menyumbang 39% dari total ekspor global. Namun pada 2017, persentasenya melonjak ke angka 63%.

Hal itu tidak lepas dari cadangan nikel Indonesia yang terbilang besar. Potensinya bisa mencapai 23,7% dari total cadangan dunia dengan jumlah mencapai 9 miliar metrik ton. Alhasil, sangat masuk akal jika Pemerintah ingin memberi nilai tambah terhadap nikel sebelum diekspor.

Potensi besar yang muncul dari larangan ekspor nikel mentah disadari oleh MIND ID. Gerak cepat, mereka pun langsung melakukan persiapan untuk memanfaatkannya.

Langkah pertama ialah dengan menuntaskan proses ambil alih 20% saham divestasi PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Hal ini merupakan pelaksanaan kesepakatan yang ditandatangani dalam amendemen Kontrak Karya (KK) pada tahun 2014. Lewat Peraturan Pemerintah No. 77/2014 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Minerba, Vale Indonesia wajib melakukan divestasi saham setelah 5 tahun amandemen dilakukan. 

Gebrakan ini tidak sembarangan. Vale Indonesia merupakan salah satu pemain besar dalam pertambangan nikel di dunia. Mereka menambang nikel laterit untuk menghasilkan produk akhir berupa nikel dalam matte dengan rata-rata volume produksi nikel per tahun mencapai 75.000 metrik ton.

Dengan pengambilalihan 20 persen saham divestasi, MIND ID berarti punya akses ke Vale. Berkat itu, mereka mampu mengamankan pasokan bahan baku industri hilir berbasis nikel di Indonesia. Pada akhirnya, hal tersebut bisa mendukung program hilirisasi industri nikel domestik yang dicanangkan pemerintah. 

“Partisipasi MIND ID di perusahaan tambang kelas dunia, seperti Vale lndonesia merupakan bukti keberhasilan Indonesia dalam menjaga dan menarik investasi perusahaan global ke industri pertambangan nasional," ujar CEO MIND ID pada saat itu, Budi Gunadi Sadikin, dalam keterangan tertulis kepada pers pada Senin, 14 Oktober 2019. "Akses ini juga akan mempercepat program hilirisasi industri nikel domestik yang akan menghasilkan produk hilir dengan nilai ekonomis hingga 4-5 kali lipat lebih tinggi dari produk hulu.”

Direncanakan proses pengambilalihan tersebut akan tuntas pada Juni 2020 dengan nilai mencapai 500 juta dolar AS (sekitar Rp7 triliun). Setelah mengamankannya, MIND ID bisa mengambil langkah persiapan berikutnya.

SIAP PRODUKSI BATERAI LITIUM

Sesuai dengan mandat yang diberikan Pemerintah Indonesia, MIND ID juga harus memperkuat hilirisasi di sektor pertambangan. Di industri nikel ancang-ancang sudah dilakukan. Rencana besar untuk menjadi produsen baterai litium tengah dipersiapkan. Niat ini sejalan dengan tekad Indonesia untuk mengembangkan mobil listrik. 

Sebagai awal, MIND ID memastikan stok bahan baku terlebih dulu. Hal ini diyakini sudah berhasil. Pada 10 Desember 2019, Direktur Utama MIND ID, Orias Petrus Moedak, mengatakan pasokan nikel Indonesia sangat cukup untuk membangun industri baterai litium.

Sesudahnya langkah lanjutan dijalankan. MIND ID mencari investor yang tertarik untuk menanamkan modal di industri baterai litium yang akan dikembangkannya. Sejauh ini, produsen material baterai untuk kendaraan listrik terbesar di Cina, Zhejiang Huayou Cobalt Company Ltd,  sudah melakukan penjajakan. 

Dikatakan oleh Budi, Huayou siap berinvestasi hingga 1,83 miliar dolar AS (Rp25,6 triliun). Kini mereka disebutnya sedang mencari rekan lokal sebelum benar-benar mengucurkan dananya. 

Andai kesepakatan tercapai, kerja sama dengan Huayou sangat berarti penting. Mereka dikenal berpengalaman di industri hilirisasi tambang dan memiliki reputasi apik dalam berkolaborasi dengan berbagai perusahaan kelas dunia. Dengan demikian, bakal ada proses transfer ilmu yang didapati oleh MIND ID. 

Bukan hanya itu, melalui Inalum dan PT Antam, MIND ID juga berniat berkolaborasi dengan Huayou untuk membangun pabrik berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) dan Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF). Nanti kedua pabrik tersebut bisa mendorong hilirisasi nikel menjadi bahan baku baterai litium.

Jika berhasil merealisasikannya, MIND ID akan mendapat keuntungan besar. Saat ini baterai litium menjanjikan potensi besar seiring peningkatan laju penjualan mobil listrik. Menurut penelitian McKinsey, grafik penjualannya sejak tahun 2010 hingga 2017 terus meningkat. Bahkan, pada tahun 2017, pertumbuhan secara global telah mencapai 57%.

Bisa dibayangkan manfaat besar yang bisa didapat MIND ID jika sanggup memproduksi baterai litium. Bukan hanya dalam segi bisnis, mereka juga mampu menempatkan Indonesia sebagai negara dengan spesialisasi produk yang relevan dengan masa depan.
 

Baca juga: Ini Identitas Baru Holding 5 BUMN Pertambangan