Mengenal Strategi Kepemimpinan Ala Arief Yahya 

Mengenal Strategi Kepemimpinan Ala Arief Yahya 
Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam Gala Dinner Hari Pers Nasional (HPN) 2019 . Sumber: https://www.instagram.com/menpar.ariefyahya

Arief Yahya lahir dari keluarga sederhana di Banyuwangi. Ayahnya adalah seorang pedagang sedangkan ibunya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Dari merekalah Arief Yahya diajarkan menjadi sosok yang tekun dan sederhana.

Pada masa mudanya Arief hijrah ke kota Bandung untuk melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Seusai lulus, Arief memulai perjalanan kariernya di Telkom pada umur 25 tahun. Ketekunannya yang diasah sedari kecil, membawanya menjadi karyawan terbaik Telkom pada saat itu.

Ia pun memperoleh program pembinaan karyawan Telkom yang membukakan jalannya untuk dapat melanjutkan studi ke Surrey University, Inggris. Kembali dari Inggris, kemampuan Arief semakin terasah hingga bisa meraih berbagai jabatan di perusahaan pelat merah tersebut sampai pada titik Direktur Utama pada tahun 2012.

Dari IT ke Pariwisata: First Who Then What

Telah banyak prestasi yang diperoleh Arief semasa menjabat sebagai Dirut Telkom. Nama harumnya telah menarik perhatian Presiden Jokowi untuk mengangkatnya sebagai Menteri Pariwisata RI untuk periode 2014-2019. Arief pun mengambil kesempatan itu dan mengemban tanggung jawab untuk mendatangkan 20 juta wisatawan asing ke Indonesia.

Banyak yang bertanya, bagaimana bisa seseorang yang tidak memiliki latar belakang pariwisata dapat ditunjuk dan dipercayakan tanggung jawab sebesar itu? Ternyata, sejak dulu Arief memiliki filosofi “First Who Then What”. Apa itu?

Dalam wawancaranya di salah satu media Arief menjelaskan bahwa kutipan itu diambil dari Jim Collins dalam buku Good to Great. Buku itu menyebutkan, terdapat dua proses besar untuk membawa perubahan di dalam organisasi. Proses pertama adalah build up yang terdiri dari Level 5 Leadership, First Who Then What, dan Confront the Brutal Facts. Proses kedua adalah breakthrough yang terdiri dari: Hedgehog Concept, Culture of Discipline, dan Technology Accelerators.

Baca juga: Telkom Indonesia Raup Untung di Semester I/2019, Laba Bersih Tumbuh 27,4 Persen

“Khusus mengenai First Who Then What, mayoritas pemimpin saat ini memilih pendekatan First What Then Who. Mereka sering mengatakan tetapkan visi, misi, dan strategi, baru kemudian dipilih orang-orangnya,” katanya. Arief melanjutkan bahwa, jika mengambil pilihan First What Then Who itu artinya sebuah institusi masih menjalankan Kepemimpinan Level 4 (Level 4 Leadership). Sehingga untuk naik kelas mencapai Kepemimpinan Level 5 (Level 5 Executive) kita akan perlu mengubah mind-set menjadi First Who Then What.

Kerangka Kepemimpinan menurut teori Jim Collins.

 

Melalui mindset First Who Then What, Arief Yahya pun terbukti dapat menjalankan profesinya sebagai Menteri Pariwisata melalui capaiannya mendatangkan wisatawan maupun secara profesionalitas dengan menyandang gelar sebagai salah satu menteri terbaik di Kabinet Kerja Jokowi. Menurut data Badan Pusat Statistik, Kementerian Pariwisata di bawah masa pimpinan Arief Yahya berhasil mendatangkan wisatawan sebagai berikut: 

  • Tahun 2015 ada 10.230.775 wisman datang ke Indonesia dari target 10 juta wisman.

  • Tahun 2016 ada 11.519.275 wisman datang ke Indonesia dari target 12 juta wisman. 

  • Tahun 2017 ada 14.039.799 wisman datang ke Indonesia dari target 15 juta wisman. 

  • Tahun 2018 ada 15.806.191 wisman datang ke Indonesia dari target 17 juta wisman.

 

Pesan untuk Leaders Masa Depan

Seorang leader yang baik adalah leader yang dapat melahirkan leader-leader lain. Oleh karena itu, dalam kesempatan di malam Awarding Night Warta Ekonomi Indonesia Most Admired CEO 2015, Arief Yahya memberikan Keynote Speech di hadapan eksekutif C-Level di Indonesia mengenai pemimpin visioner.

Menurutnya untuk menjadi pemimpin visioner dibutuhkan harmonisasi antara strategi dan spirit karena dalam keseharian, kebanyakan orang masih menggunakan strategi (peran sebagai manajerial) namun lupa menggunakan mimpi/passion. Padahal justru spirit itulah yang akan menggerakan perusahaan hingga jangka panjang. Strategi kombinasi itu dibagi menjadi tiga jurus atau biasa disebut IFA.

Pertama, Imagine. Imagine adalah kesatuan antara visi dan mimpi. Visi itu kaku namun terukur, sedangkan mimpi itu tak berbatas tapi tidak terukur. Kombinasi antara visi dan mimpi perlu dilakukan agar kita bisa bermimpi tapi dalam keadaan sadar dan tahu batas. Karena batasan itulah yang akan menentukan awal kita melangkah, bukan capaian akhir.

Kedua, Focus. Ketika kita memiliki banyak mimpi dan harapan perlu untuk kita memprioritaskan yang penting. Karena kalau kita menginginkan semuanya maka kita akan kehilangan semuanya. Sederhananya misalnya per tahun 3 prioritas pekerjaan kita, bukan 30. Dengan prioritas, kita juga dapat mengalokasikan sumber daya yang ada.

Ketiga, Action. Rasanya percuma kita sudah melakukan dua langkah di atas tapi tidak ada action. Mewujudkan visi agar tidak hanya wacana itu ilusi, tetapi kita juga harus kuliti visi dari aksi tersebut. Jangan sampai kita hanya menjalankan suatu aksi tanpa adanya visi. Itu semua hanya akan menjadi sensasi. 

Baca juga: Telkom Ingin Jadikan Industri Halal Indonesia Mendunia