Masa Depan BUMN di Genggaman Milenial

Masa Depan BUMN di Genggaman Milenial
ilustrasi milenial

Jika Anda saat ini berusia sekurang-kurangnya 22 tahun dan tidak lebih dari 37 tahun, maka Anda termasuk generasi milenial. Itulah kategori yang disematkan oleh Pew Research Center untuk mendefinisikan siapa milenial.

Mereka adalah orang-orang yang terlahir di antara tahun 1981 hingga 1996. Hanya  saja, perkara tahun lahir ini tidaklah saklek karena literatur lain menyebutkan angka yang lain meski tak jauh dari rentang waktu tersebut. Secara lebih mudahnya, titel milenial diberikan pada orang-orang yang lahir antara tahun 80-an hingga 90-an.

Generasi ini dinilai memiliki karakter yang unik yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Salah satu yang paling menonjol tentunya kedekatannya dengan teknologi. Generasi ini adalah generasi yang tumbuh berkembang dengan teknologi di sekitar mereka. Konsekuensinya, mereka menjadi lebih cepat dalam mengadopsi teknologi dibanding dengan generasi sebelumnya.

Selain akrab dengan teknologi, milenial juga dikatakan generasi yang sosial. Bersosialisasi menjadi satu bagian penting bagi generasi milenial, baik itu di dunia maya maupun dunia nyata. Sosialisasi ini kerap kali berujung menjadi sebuah organisasi atau komunitas. Hal ini sesuai dengan karakter mereka selanjutnya yakni suka berkolaborasi. Bagi mereka, semboyan "we can do it together" adalah sangat sakral. Ciri-ciri lain yang bisa kita temui pada generasi milenial misalnya suka dengan petualangan dan menghargai nilai (passionate about value).

Generasi milenial kini sudah sangat siap untuk memasuki dunia kerja. Bahkan, posisi mereka sudah cukup berpengaruh sehingga bisa menentukan masa depan sebuah organisasi, termasuk di dalamnya BUMN.

Pimpinan Kementerian BUMN, Rini Sumarno, percaya bahwa masa depan BUMN ada di tangan generasi milenial. "BUMN harus benar-benar mempersiapkan generasi milenial untuk menjadi pemimpin-pemimpin masa depan karena saya ingin BUMN dapat bertahan hingga 100 tahun ke depan," ujarnya seperti dikutip dari laman bisnis.com.

Untuk itulah ia selalu menghimbau agar BUMN melibatkan generasi milenial dalam menentukan strategi bisnis. Di sisi lain, ia pun berharap agar milenial bisa berperan aktif dan kreatif dalam memberikan solusi inovatif ke BUMN.

Salah satu acara yang belum lama ini diselenggarakan oleh Kementerian BUMN untuk generasi muda bertajuk Spirit of Millennials. Acara yang bertempat di Museum Kapal Surabaya ini diadakan tepat pada peringatan hari pahlawan 10 November. Kartika Wirjoatmojo, Direktur Bank Mandiri yang ditunjuk sebagai ketua menjelaskan bahwa Spirit of Milennials ini bertujuan untuk mengajak generasi muda menjadi pahlawan masa kini dengan berkontribusi positif di semua bidang sesuai dengan passion-nya.

Kegiatan ini juga mendorong generasi milenial untuk memiliki kepercayaan diri, super kreatif dan pekerja keras, menjadi pejuang zaman now untuk menciptakan Indonesia yang lebih maju di masa depan. Setidaknya, hal-hal itulah yang menjadi jiwa Spirit of millennials yang kemudian dijadikan sebagai sebuah gerakan yang dideklarasikan bersama. Saat itu, hadir pula Menteri Rini Sumarno dalam deklarasi yang menjadi puncak acara Spirit of Millenials.

Spirit of Millennials sendiri sebetulnya sudah diadakan sejak bulan Oktober 2018, melalui Content Creation Festival (Cocofest) 2018. Untuk menarik minat generasi milenial di seluruh Indonesia, dihadirkan rangkaian kegiatan menarik seperti workshop, showcase karya, flash mob dan seminar dengan pembicara konten kreator terkemuka. Acara tersebut juga berhasil menjaring lebih dari 5000 konten kreatif baik dalam bentuk foto maupun video.

Dominasi pasar tenaga kerja oleh milenials membuat BUMN berlomba – lomba untuk mendapatkan talenta terbaik dari kalangan ini. Di antaranya, sebut saja Bank Mandiri Tbk (Mandiri), dan Indonesia Port Corporation (IPC).

Bank Mandiri tahun ini masuk dalam jajaran 200 perusahaan terbaik untuk bekerja atau The World’s Best Employers versi Majalah Forbes. Bahkan, BUMN ini bertengger di posisi sebelas tepat di bawah raksasa manufaktur otomotif dunia, BMW Group. Mengelola 38.307 karyawan, Mandiri masih bisa membuat karyawan yang lebih dari separuhnya adalah milenial tersebut merasa “nyaman”.

Menurut penuturan Agus Dwi Handaya, Direktur Kepatuhan Bank Mandiri yang membawahi Sumber Daya Manusia, seperti dikutip dari Kontan.co.id, untuk menciptakan inovasi di perusahaan, fokus utama Bank Mandiri adalah pengelolaan sumber daya manusia. Dengan komposisi karyawan yang sebagian besar adalah milenial, ia mengaku merasa diuntungkan. Milenial dianggap sebagai generasi yang memiliki karakter kreatif, borderless, tech savvy, dan tidak sungkan dalam berpendapat.

Selanjutnya, untuk membuat mereka betah, BUMN yang didirikan tahun 1998 ini menerapkan berbagai strategi. Pertama, Mandiri menekankan pada peran pemimpin sebagai role model dan menjaga komunikasi. Maksud komunikasi adalah hubungan baik yang terjadi dua arah antara atasan dan bawahan. Dengan begitu sebuah keterbukaan akan terbentuk. Salah satu caranya adalah dengan adanya happy hour, employee gathering, mandiri karnaval dan Mandiri Volunteer.

Kedua, Mandiri membidik fasilitas dan simbol dalam hal tempat kerja karyawan. Mandiri menyediakan tempat yang kekinian dan sesuai selera milenial. Bahkan, mereka mempunyai Mandiri Club sebagai wadah untuk mengorganisir komunitas atau hobi. Bagi ibu-ibu yang menyusui, Mandiri juga menyediakan ruang laktasi.

Selanjutnya, untuk meningkatkan kapabilitas karyawan, Mandiri juga menyediakan training sesuai dengan kebutuhan. Training ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas teknis tetapi juga soft skill dan leadership. Terakhir, Mandiri juga memastikan bahwa penilaian karyawan adalah berdasarkan performa. Sehingga tercipta sebuah metode yang adil dan dapat meningkatkan motivasi karyawan dalam bekerja.

Contoh lain dari banyaknya proporsi milenial di tempat kerja ada di BUMN yang bergerak di bidang pelabuhan, IPC. Dalam sebuah CEO Talk dalam acara internal IPC, Direktur Utama IPC, Elvyn G. Masassya, menyampaikan, “Generasi Y (milenial) di IPC mencapai 70%. Relatif tertinggi dibanding BUMN lain. Berdasarkan survey internal, 80% dari mereka menginginkan perubahan ke arah yg lebih baik. Ini menggembirakan.” 

Perusahaan yang sebelum bertransformasi disebut sebagai PT Pelindo II ini juga memiliki cara jitu untuk menarik hati milenial.

IPC cukup rajin melakukan kunjungan ke kampus-kampus untuk memperkenalkan diri. Belakangan BUMN tersebut bertandang ke Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh sebelum nantinya akan berkunjung ke 7 universitas di 7 kota besar seperti Pontianak, Palembang, Tanjung Pandan, Cirebon, Lampung dan Semarang hingga Desember ini.  Tak hanya berkenalan, IPC juga ingin memberikan gambaran tentang pelabuhan Indonesia kepada generasi muda Indonesia sehingga mereka memiliki ketertarikan untuk ikut menjaga atau mengembangkannya.

Selain berkunjung ke kampus-kampus, IPC juga menyelenggarakan rekrutmen dengan cara paperless atau sudah dilakukan dengan cara online. Hal ini tentunya lebih mempermudah generasi milenial di wilayah mana pun di Indonesia untuk mengakses dan berkesempatan yang sama untuk dapat menjadi karyawan IPC. Hal ini sejalan dengan karakter milenial yang lebih digital savvy. Tak lupa, IPC juga menjadikan rekrutmen sebagai bagian dari CSR. Perusahaan tersebut merekrut tamatan SMK/SMA yang kurang mampu dan tinggal di daerah pelabuhan untuk bergabung menjadi karyawan.

Tentunya kita juga tidak lupa bahwa IPC membangun Corporate University di bawah naungan PT Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia yang bertujuan sebagai pusat pengembangan kompetensi unggul yang melahirkan pegawai dan kader pemimpin yang profesional di bidang kepelabuhanan, maritim, logistik, manajemen, dan kepemimpinan. Dari situ terlihat komitmen IPC untuk mengembangkan Sumber Daya Manusia termasuk di dalamnya milenial.

Milenial memang bukan tanpa kekurangan, tetapi jika dikelola dengan benar, maka Indonesia akan mendapatkan keuntungan dari bonus demografi pada tahun 2020 – 2030.