Manuver Semen Indonesia Menjaga Pasar

Manuver Semen Indonesia Menjaga Pasar
Kinerja Semen Indonesia terpengaruh kelesuan pasar properti lokal/Sumber: Semen Indonesia
Manuver Semen Indonesia Menjaga Pasar

Para pelaku industri semen pasti ingin melewatkan tahun 2019 secepatnya. Saat ini, pasar tengah lesu. Situasi tersebut berdampak besar terhadap kinerja para pemainnya, termasuk PT Semen Indonesia yang dituntut melakukan manuver spesial demi menjaga pasar.

Industri semen memang sedang mengalami tantangan berat. Kelesuan pasar domestik menjadi penyebab. Menurut Asosiasi Semen Indonesia (ASI), konsumsi semen antara Januari hingga September 2019 terus menurun. Bahkan, pada kuartal III/2019, pasar di dalam negeri tumbuh negatif 2,2% dari realisasi periode yang sama tahun lalu. Sekarang hanya 45,75 juta ton semen yang terjual.

Penurunan permintaan semen di dalam negeri terkait erat dengan kelesuan sektor properti. Itu tergambar jelas dari laporan sejumlah emiten properti pada 2019 yang kurang memuaskan. Beberapa dari mereka meraih pertumbuhan pendapatan tipis pada Semester I 2019, dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bahkan, ada pula yang menurun.

PT Summarecon Agung Tbk misalnya. Pendapatannya hanya tumbuh 0,52 persen pada semester pertama tahun ini. Kondisi nyaris serupa juga ditunjukkan PT Pakuwon Jati Tbk yang cuma meraih kenaikan pendapatan 3,85 persen. 

Kondisi keduanya masih lebih baik jika dibandingkan PT Alam Sutera Realty Tbk. Pendapatan pada semester pertama 2019 turun 41,5 persen dibanding semester serupa tahun lalu. Pencapaian itu mirip dengan PT Agung Podomoro Land Tbk yang mengalami penurunan penghasilan 21,6 persen pada kurun waktu yang sama. 

Situasi tersebut diperparah oleh kondisi industri semen sendiri. ASI mencatat produksi semen saat ini sudah melebihi kapasitas pasar. Pada tahun 2019, tingkat produksi mencapai 101 juta ton. Padahal, penyerapan semen hanya 64 juta ton.

Kehadiran semen impor semakin menambah ketat persaingan. Akibatnya pelaku industri semen lokal kian terjepit karena melawan perusahaan semen asing yang menjual produk dengan harga sangat murah.

Semen Indonesia merasakan tekanan tersebut. Kinerjanya pada tahun 2019 tidak memuaskan. Volume penjualan domestik pada bulan Agustus hanya sebesar 2,5 juta ton. Jumlah ini turun 5,1% dibanding periode yang sama tahun lalu.  

Begitu pula halnya dengan volume penjualan Januari-Agustus 2019. Jumlahnya cuma mencapai 16 juta ton. Ini menurun 5,6% secara tahunan atau year on year (yoy).

Kondisi itu dipengaruhi oleh kelesuan pasar domestik akibat industri properti yang menurun. Menurut Sekretaris Perusahan PT Semen Indonesia Tbk, Agung Wiharto, sektor retail seperti properti menyumbang penjualan sebesar 70%. Sedangkan penjualan semen curah dari berbagai program pembangunan infrastruktur hanya 30% dari pasar dalam negeri.

Situasi ini membuat Semen Indonesia tidak bisa berpangku tangan. Sejumlah langkah dilakukan untuk mempertahankan pasar. Salah satu yang gencar dilakukan ialah dengan membuka keran pasar ekspor selebar-lebarnya.

FOKUS KE ASIA 

Di tengah kelesuan pasar dalam negeri, Semen Indonesia memilih untuk serius ke pasar luar negeri. Saat ini, mereka memfokuskan diri untuk menggarap pasar Asia yang dinilai punya prospek cerah. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan Semen Indonesia, Sigit Wahono.  

“Semen Indonesia sedang fokus menggarap pasar Asia Selatan dan Asia Tenggara, seperti Bangladesh, India, Sri Lanka, Maladewa, Filipina, dan Timor Leste,” katanya.

Meski begitu, area pemasaran baru juga tetap diburu. Salah satu yang tengah digarap adalah pasar Tiongkok. Tahun ini, Semen Indonesia mulai bisa menjual produk-produknya ke sana.

Ini jelas menjadi pencapaian tersendiri. Tiongkok merupakan pasar yang besar. Selain itu, di sana sedang terjadi kekurangan suplai semen. Hal tersebut terkait dengan pemberhentian produksi sejumlah produsen semen lokal terkait isu lingkungan.

“Pada tahun 2019 ini, perseroan berhasil memperluas jaringan ekspor di kawasan Asia Timur, salah satunya Tiongkok yang sedang mengalami kekurangan produksi semen,” ujar Sigit.

Pencapaian ini menjadi angin segar bagi kinerja ekspor Semen Indonesia. Pada periode Januari hingga Oktober 2019, mereka berhasil mencatatkan volume penjualan ekspor sebesar 3,38 juta ton dari fasilitas produksinya di Indonesia.

Jumlah ini meningkat dari pencapaian hingga September 2019 yang mencapai 2,9 juta ton. Saat itu, kinerja tersebut naik 7 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Akan tetapi, tantangan besar masih dihadapi oleh Semen Indonesia. Mencari pasar ekspor tidak semudah membalikkan telapak tangan. Memperoleh harga bagus yang memungkinkan perusahaan meraih profit juga bukan perkara gampang. Banyak pesaing yang menyulitkan upaya penetrasi pasar.

Sebagai contoh upaya menembus pasar di Asia Selatan seperti Bangladesh dan Sri Lanka. Di sana persaingan ketat hadir dari produsen asal Vietnam dan India. Secara khusus, kompetitor asal India patut diwaspadai. Pasalnya, meski pasar dalam negerinya masih kurang, banyak yang memilih untuk mengekspor ke negara tetangganya tersebut karena jaraknya dirasa lebih dekat dibanding kawasan lain di India.

Kondisi itu harus disiasati oleh Semen Indonesia. Beberapa langkah pun diambil. Saat ini, mereka berupaya mengoptimalkan seluruh fasilitas distribusi baik kegunaan maupun kapasitas untuk mendukung pengiriman produk ke kawasan regional. 

Bukan hanya itu, Semen Indonesia aktif mengikuti berbagai forum pameran dan misi dagang. Ini penting untuk memperkuat jaringan ekspor di negara-negara tujuan dan menjajaki pasar baru di kawasan regional.

BELUM MENCAPAI TARGET

Penetrasi pasar asing yang dijalankan oleh Semen Indonesia memang mulai membuahkan hasil. Namun, pencapaian sejauh ini masih di bawah target. Pada awal tahun 2019, perusahaan menargetkan bisa mengekspor 5 juta ton. Jumlah itu naik 67% dari total ekspor tahun lalu yang mencapai tiga juta ton.

Pencapaian pada Oktober 2019 masih kurang 1,1 juta ton di bawah target. Namun, Semen Indonesia tetap optimistis. Langkah akuisisi saham mayoritas PT Holcim Indonesia Tbk yang berubah nama menjadi Solusi Bangun Indonesia diyakini bakal membantu untuk meraih target.

Selain itu, Semen Indonesia akan terus mengedepankan sinergi di berbagai fungsi antar anggota grup untuk terus dapat meningkatkan profitabilitas. Upaya tersebut dilakukan dengan mengedepankan efisiensi biaya melalui berbagai inisiatif cost transformation dan pengembangan bisnis bahan bangunan yang bernilai tambah.

Langkah tersebut diharapkan bakal membuahkan hasil yang positif. Ketika pasar dalam negeri sedang lesu, sudah selayaknya Semen Indonesia membuka pasar baru ke luar negeri melalui ekspor.

Baca juga: Hingga Oktober 2019, Semen Indonesia Catatkan Penjualan 3,38 Juta Ton Semen