Listrik Padam, Ratangga Tak Bisa Jalan. MRT Jakarta Alami Kerugian 507 Juta Rupiah

Listrik Padam, Ratangga Tak Bisa Jalan. MRT Jakarta Alami Kerugian 507 Juta Rupiah
Situasi evakuasi saat listrik padam (Sumber: dok. MRT Jakarta)

Ketika listrik di Jakarta padam pada Minggu lalu (4/8), salah satu moda transportasi andalan bebas macet ibukota tak luput terkena imbasnya. Saat koneksi listrik terputus, kereta-kereta MRT Jakarta yang tengah melayani penumpang ikutan berhenti berjalan. Bagaimana kronologinya?

Selama ini, MRT (Mass Rapid Transit) Jakarta mengandalkan pasokan listrik dari dua jalur dan dua-duanya dikelola PLN. Kedua jalur atau subsistem tersebut masing-masing bertegangan 150kV. Seperti dikutip dari keterangan resmi perusahaan, kedua subsistem tersebut adalah Subsistem Gandul - Muara Karang melalui Gardu Induk PLN Pondok Indah dan Subsistem Cawang-Bekasi melalui Gardu Induk PLN CSW.

Karena belum tersedia subsistem ketiga, maka ketika kedua subsistem tersebut mengalami kegagalan (failure), pasokan listrik ke Ratangga terganggu. Sebagai informasi, MRT Jakarta menggunakan pasokan listrik dari PLN dengan kontrak Layanan Premium. Tentunya, putusnya pasokan listrik yang sempat terjadi akhir pekan lalu sangat disayangkan.

Terkait subsistem ketiga, PLN juga telah berkomitmen untuk mendukung keandalan listrik PT MRT Jakarta dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas tambahan di Jakarta. Hanya saja, jalur tersebut belum siap dipakai.

Sebetulnya MRT Jakarta mempunyai pembangkit listrik cadangan (Generator Set/Genset). Namun, peggunaan genset adalah untuk proses evakuasi dan bukan untuk operasional Ratangga.

“Genset hanya memberikan pasokan listrik untuk kebutuhan keselamatan dan evakuasi di fasilitas stasiun dan di terowongan,” ungkap Muhamad Kamaludin, Sekretaris Perusahaan PT Mass Rapid Transit (MRT), dalam rilis resmi perusahaan (6/8).

Kapasitas back up power MRT Jakarta tersebut sudah cukup dan berfungsi dengan baik pada saat pasokan listrik terputus. Oleh karena itu, evakuasi dapat dilakukan dengan aman.

Baca juga: MRT Jakarta dan ITDP Indonesia Teken Nota Kesepahaman Studi Integrasi untuk Pesepeda dan Pejalan Kaki

Pihak perusahaan juga menyebut bahwa desain pasokan listrik MRT Jakarta telah sejalan dengan sistem kelistrikan MRT di berbagai negara lain. Bahkan, kasus serupa juga pernah menimpa MRT-MRT lain di luar negeri. Contohnya New York Subway. Pada 5 Juli lalu, terjadi pemadaman listrik selama 5 jam di New York. Dampaknya, sepertiga rute New York Subway lumpuh. Penumpang tertahan di bawah tanah selama 75 menit sebelum akhirnya berhasil dievakuasi.

Sistem operasi kereta MRT Jakarta menggunakan persinyalan CBTC (Communication Based Train Control) yang menganut tingkat standar safety yang tinggi. Sistem yang sama juga dipakai oleh Delhi Metro dan Beijing Subway Line 15. Sistem tersebut mengimplementasikan ATO (Automatic Train Operation) yang mengharuskan kereta melakukan emergency break (pengereman darurat) ketika terjadi power off (terputusnya pasokan listrik).  

Hal ini bertujuan untuk memitigasi potensi bencana yang kemungkinan terjadi di jalur depan kereta. Oleh karena itu, pengereman darurat dan evakuasi merupakan cara terbaik yang dilakukan untuk menghadapi kejadian ini.

Akibat dari terputusnya aliran listrik Minggu lalu, PT MRT Jakarta mengalami kerugian yang tidak sedikit. Dari sisi finansial, kerugian yang diderita diperkirakan mencapai 507 juta rupiah. Angka tersebut dihitung dari potensi hilangnya penumpang sebanyak 52. 898 orang pada hari tersebut.

Sementara itu, pada hari Senin (7/8) lalu, penumpang MRT Jakarta berkurang sekitar 16,43 persen. Merosotnya jumlah penumpang tersebut diduga karena mereka khawatir bahwa pemutusan listrik akan terjadi lagi.

Saat ini, PT MRT Jakarta juga tengah menyempurnakan kembali SOP Evakuasi Keadaan Darurat untuk mengantisipasi situasi pemadaman listrik oleh PLN dan memastikan evakuasi berjalan dengan lancar dan aman.

Baca juga: MRT Jakarta Raih Marketeers Omni Brands of the Year 2019