Korporasi Sepekan: Charoen Pokphand Ambil Alih Bisnis 7-Eleven, Wuling Siap Masuk Indonesia

Korporasi Sepekan: Charoen Pokphand Ambil Alih Bisnis 7-Eleven, Wuling Siap Masuk Indonesia

Charoen Pokphand, perusahaan pakan ternak asal Indonesia, dikabarkan telah membeli bisnis 7-Eleven atau Sevel dari PT Modern Sevel Indonesia (MSI). Sementara Wuling Motors, perusahaan asal Tiongkok telah merampungkan pembangunan pabrik di Cikarang, Jawa Barat, dan siap untuk memproduksi kendaraan roda empat dengan merek Wuling. Di sisi lain, MRT Jakarta terus memperlihatkan perkembangannya dalam pembangunan moda transportasi di Jakarta.

Pada minggu ketiga di bulan Mei 2017, bisnis 7-Eleven atau Sevel dikabarkan telah berpindah kepemilikan dari PT Modern Sevel Indonesia (MSI) ke PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN). Di sisi lain, industri otomotif akan kedatangan pendatang baru asal Tiongkok, dengan merek Wuling. Sementara MRT Jakarta memperlihatkan progres pembangunannya.

PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) yang merupakan perusahaan pakan ternak dalam negeri, dikabarkan telah mengakuisisi 7-Eleven atau Sevel di Indonesia. CPIN melalui entitas anak usahanya, PT Charoen Pokphand Restu Indonesia (CPRI), membeli bisnis Sevel dari PT Modern Sevel Indonesia (MSI), dengan transaksi peralihan bisnis bernilai Rp1 triliun.

Presiden Direktur CPIN, Tjiu Thomas Effendy, seperti dikutip detik.com, Senin (15/5/2017), mengatakan, pihaknya hanya mengakusisi aset dalam hal ini franchise dari MSI, bukan membeli perusahaan tersebut.

“Kita beli franchise, bukan beli perusahaan. Kita tak beli perusahaan yang pegang frachise (MSI), kita hanya beli bisnisnya. Makanya judulnya business acquisition agreement,” kata Thomas.

Selain itu, pihaknya sendiri masih menunggu sejumlah kesepakatan dengan MSI dan induk pemegang merek Sevel yakni Seven & I Holding Co. Ltd.

“Jadi yang paling penting ada persetujuan dari Sevel internasionalnya, menyetujui atau sama-sama sepakat kalau kita (CPIN) jadi master franchise yang baru,” kata Thomas.

Diungkapkannya, pembelian franchise Sevel dari MSI baru bisa dilaksanakan sepenuhnya setelah semua term of condition sudah rampung seluruhnya.

“Mengenai Sevel memang kita sudah tandatangani pada tanggal 19 April. Baru conditional sales purchase agreement, nah tentu di dalam itu namanya conditional, ada kondisi yang harus dipenuhi. Kondisi itu antara lain tentu persetujuan daripada prinsipal, dan lagi kalau semua kondisi terjadi atau terpenuhi baru transaksi,” terang Thomas.

Sementara itu, PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors) telah merampungkan pembangunan pabrik di Cikarang, Jawa Barat, dan siap untuk beroperasi. Pabrik yang dibangun di lahan seluas 60 hektar tersebut terbagi menjadi dua area, 30 hektar untuk pabrik dan 30 hektar lainnya untuk Supplier Park.

Pembangunan Supplier Park ini merupakan bagian dari strategi lokalisasi Wuling. Saat ini Wuling telah membawa 15 pemasok komponen ternama untuk berproduksi di dalam Supplier Park. Selain itu, dengan strategi lokalisasi ini juga akan membantu memastikan proses produksi yang efisien di dalam pabrik.

Wuling Motors berkomitmen untuk mengembangkan bisnis jangka panjang di Indonesia. Strategi Perusahaan juga mencakup pembangunan pabrik kendaraan yang modern, penyediaan rantai pasokan, pembentukan jaringan penjualan dan layanan purnajual di Indonesia, serta penyediaan skema pembiayaan pembelian produk. Semua strategi ini dilakukan untuk memastikan produk dan layanan terbaik untuk masyarakat Indonesia.

“Kami berkomitmen untuk membangun bisnis jangka panjang di Indonesia. Kami juga akan menerapkan strategi lokalisasi. Saat ini, kami telah bermitra dengan sekitar 20 produsen komponen lokal Indonesia dan kami juga akan membawa sekitar 15 pemasok komponen terkenal untuk berproduksi di kawasan pabrik kami. Strategi ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Wuling Motors untuk terus berkontribusi di dunia industri otomotif Indonesia,” kata Presiden Wuling Motors Xu Feiyun, dalam keterangannya, Jumat (19/5/2017).

Sejauh ini, pembangunan sarana transportasi Mass Rapid Transportation (MRT) Jakarta sudah memperlihatkan hasil yang cukup maksimal. Pengerjaan proyek MRT fase I dari Lebak Bulus ke Bunderan Hotel Indonesia sepanjang 16 km terus dikebut. Proyek yang digarap oleh PT Mass Rapid Transportation (MRT) Jakarta saat ini sudah mencapai 71,39 persen.

Adapun untuk fase dua yang meliputi Bundaran HI-Kampung Bandan sepanjang 8 kilometer (km) akan dilakukan akhir 2018. Pembangunan MRT Jakarta fase dua tersebut menelan biaya investasi Rp22,5 triliun.

PT MRT Jakarta pun mengajukan pinjaman ke Jepang sebesar Rp25 triliun, di mana Rp2,56 triliun di antaranya untuk menambal biaya investasi MRT Jakarta fase satu.

“Total Rp25 triliun untuk fase dua itu terdiri dari komponen pertama nilai tambahan fase satu Rp2,56 triliun akibat sejumlah pekerjaan tidak direncanakan terjadi dan tidak cukup tambahan dana. Rp22,5 triliun berdasarkan feasibility study dibutuhkan bangun jalur fase dua,” ujar Direktur Utama PT MRT Jakarta William P Sabandar, dalam keterangannya yang dikutip detik.com, Rabu (17/5/2017).

Saat ini, proyek MRT Jakarta fase dua Bundaran HI-Kampung Bandan memasuki tahap basic engineering design. Trase MRT Jakarta fase dua ini nantinya perlu Peraturan Gubernur (Pergub) dan diperlukan persetujuan Menteri Perhubungan.

Melalui aksi akuisisi dan dengan adanya pendatang baru di dunia otomotif Indonesia, seolah mempertegas bahwa iklim ekonomi di Indonesia sudah mulai kondusif dan cukup menjanjikan. Hal ini merupakan salah satu kabar gembira bagi para calon investor yang ingin menginvestasikan bisnis mereka di Indonesia.

Sementara itu, untuk menambah efektivitas bisnis di Ibu Kota Jakarta, pembangunan moda transportasi yang menawarkan kecepatan dan efisiensi, sudah memperlihatkan perkembangan yang cukup signifikan. Tentunya, moda transportasi tersebut dapat memberikan sebuah harapan bagi terciptanya laju perekonomian ibu kota yang lebih efektiv dan efisien.(DD)