Kisruh Harga Tiket Pesawat yang Tak Kunjung Turun

Kisruh Harga Tiket Pesawat yang Tak Kunjung Turun
Dokumentasi: Anita-Upperline

Kisruh harga tiket pesawat masih saja terasa hingga kini. Mendekati kuartal kedua tahun 2019, masalah tersebut tak kunjung usai. Malah kini kembali menjadi trending topic. Masalahnya cuma satu: posisi tiket pesawat seakan terus naik tajam ke angkasa.

Jika dirunut ke belakang, ribut-ribut soal harga tak wajar yang dinilai masyarakat ini sudah mulai dari penghujung tahun lalu. Pemerintah pun turun tangan. Avtur ditengarai sebagai biang keladi mahalnya tarif terbang. Pertamina sebagai satu-satunya pemain Avtur di tanah air jadi kambing hitam. Tak menunggu lama dari protes Presiden Joko Widodo, perusahaan migas pelat merah itu menurunkan harga avtur di medio Februari. Pertamina mengklaim harga Avtur yang dijual di Bandara Soekarno-Hatta saat itu masih lebih rendah 26% dibandingkan harga di Bandara Changi Singapura. 

Menyusul penyesuaian harga avtur, Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara di penghujung Februari memastikan pihaknya telah menurunkan harga tiket sebesar 20% di semua rute. Akibatnya juga sangat positif. Tingkat isian penumpang semakin membaik.

Tapi apa lacur, penyesuaian itu dirasa tak signifikan. Harga tiket bagaikan peribahasa "Yang sejengkal tidak jadi sedepa." Tarif terbang tetap mahal. Efeknya? Penerbangan masih sepi. Pemandangan di bandara sangat lengang, tak lagi semacam terminal bus seperti tahun-tahun belakangan ini. 

 

 

Keadaan berlarut-larut ini mendorong Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan angkat suara. Ia menanyakan komitmen maskapai untuk menurunkan harga tiket, meski pemerintah telah berupaya untuk menekan harga. Salah satunya dengan menurunkan pajak avtur.

Baca juga: Antara Pertamina, Avtur dan Harga Tiket Pesawat Domestik

"Kita hanya minta coba dilihat suasana market sekarang ini gimana. Kan harga banyak juga mau diturunkan, fuel di sana. Mereka bilang akan lakukan adjustment sana-sini sesuai dengan perhitungan perusahaan mereka," kata Luhut kepada media baru-baru ini.

Seakan segendang sepermainan, Kementerian Perhubungan segera menindaklanjuti masalah tersebut dengan menggodok dua aturan baru terkait tarif terbang. Aturan tersebut diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang banyak dikeluhkan masyarakat. Kedua aturan itu dirilis di penghujung Maret 2019 dan berlaku efektif mulai 1 April 2019.

Dalam aturan tersebut, pemerintah menaikkan tarif batas bawah kelas ekonomi menjadi 35% dari tarif batas atas. Ada kenaikan 5% dari aturan sebelumnya. Meski demikian, Kementerian Perhubungan amat yakin bahwa aturan tersebut akan dapat membantu menurunkan harga tiket pesawat.

"Kemenhub sangat peduli dengan kebutuhan masyarakat atau konsumen untuk melakukan perjalanan dengan pesawat udara. Di sisi lain, kami juga melindungi keberlangsungan Badan Usaha Angkutan Udara," jelas Direktur Jenderal Perhubungan Udara Polana B. Pramesti dalam keterangan resmi, 30 Maret 2019.

 

Sumber: Air Asia

Meski telah menelurkan aturan baru, katanya, Kementerian Perhubungan akan terus melakukan evaluasi terhadap besaran tarif secara berkala setiap 3 bulan. Namun ini bukan harga mati. Menurut Polana, terbuka kemungkinan evaluasi dapat dilakukan di luar jadwal tersebut jika terjadi perubahan signifikan yang memengaruhi keberlangsungan kegiatan badan usaha angkutan udara. 

Sebagai respons atas pemberlakuan aturan tersebut, Lion Air Group menurunkan harga tiketnya efektif per 30 Maret 2019. Meski demikian, besarannya sangat variatif, tergantung dari destinasinya, ujar Danang Mandala, Corporate Communications Strategic Lion Air Group.

Sementara Garuda belum jelas langkahnya. Namun sebelum aturan tersebut diberlakukan, maskapai penerbangan nasional ini  sudah berinisiatif untuk memberikan diskon tarif tiket penerbangan hingga 50% ke seluruh rute penerbangan domestik. Namun potongan harga itu dikemas sebagai bagian dari HUT BUMN, berlaku mulai 31 Maret hingga 13 Mei 2019 untuk channel penjualan Online Travel Agent (OTA), aplikasi mobile apps, Linkaja hingga website (www.garuda-indonesia.com).

Namun apakah aturan pemerintah tersebut sudah menjawab keresahan masyarakat untuk mendapatkan harga tiket pesawat murah? Lihat pengamatan Upperline ini

Pada Jumat, 29 Maret 2019, Upperline mencoba mengecek harga tiket dari Jakarta ke Surabaya untuk berbagai penerbangan pada tanggal 15 April 2019 di sebuah aplikasi pemesanan tiket online. Di situ dicantumkan harga tiket terbang beberapa maskapai dibanderol di kisaran 741.000 rupiah sampai 1,64 juta rupiah. Sementara pada Senin, 1 April 2019, alih-alih turun, harga tiket malah naik. Kisarannya di angka 749.800 rupiah hingga 1,64 juta rupiah untuk penerbangan langsung. 

Misalnya saja, ketika aplikasi tersebut dibuka pada Jumat lalu, Lion mematok harga 818.000 rupiah untuk penerbangan pukul 09.10 WIB, kini harganya malah naik ke 827.900 rupiah. Harga Citilink tak beranjak di angka 1,35 juta rupiah pada pukul 16.20 WIB. Sementara Batik Air dari angka 1,353 juta rupiah untuk penerbangan jam 15.45 WIB, melambung ke angka 1,37 juta. Beda lagi dengan maskapai Sriwijaya. Jika pekan lalu angkanya masih menunjukkan angka 1,23 juta rupiah pada pukul 10.40 WIB, kini harga tiketnya menjadi 1,447 juta rupiah.

Lalu bagaimana dengan Garuda Indonesia? Angkanya untuk penerbangan langsung tetap stagnan di angka 1,64 juta rupiah untuk berbagai jam penerbangan. Sementara di website AirAsia, pada tanggal yang sama, maskapai asal Malaysia tersebut tetap mematok angka yang tak berubah, yaitu 574.220-728.220 rupiah.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menengarai bahwa era tarif murah memang segera akan berakhir. Akibatnya konsumen akan menikmati tarif terbang berdasarkan tarif yang sebenarnya.

"Bukan tiket pesawat dengan tarif murah yang selama ini menjadi ajang perang tarif dan menjurus pada persaingan tidak sehat," jelas Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi kepada Upperline, 1 April 2019.

Meski demikian, ia berharap adanya kenaikan batas bawah tiket pesawat tersebut, maka maskapai bisa menurunkan tarif batas atasnya. Hingga pada akhirnya harga pesawat bisa turun pada batas yang wajar.

"Selain itu, YLKI juga mendesak Kemenhub untuk meningkatkan pengawasan atas implementasi aturan yang baru tersebut, sehingga antarmaskapai tidak saling banting harga," tukas Tulus.

Baca juga: Lion Air Ucapkan Selamat Tinggal pada Boeing 747-400