Kisah Asian Agri, Manfaatkan Limbah untuk Energi Bersih

Kisah Asian Agri, Manfaatkan Limbah untuk Energi Bersih
Pembangkit listrik dengan memanfaatkan limbah produksi minyak kelapa sawit milik Asian Agri/Sumber: Asian Agri

Kebutuhan terhadap energi bersih yang ramah lingkungan sudah sedemikian besar. Bukan hanya sekadar perlu, hal itu sudah menjadi tuntutan seiring upaya besar dalam menahan laju pemanasan global yang sedemikian cepat.

Dunia sudah mulai bergerak. Keberadaan Paris Agreement pada 2015 menjadi salah satu contoh. Melalui perjanjian itu, negara-negara berkomitmen untuk melakukan berbagai upaya untuk mereduksi emisi.

Indonesia termasuk di antaranya. Untuk itu, langkah cepat segera diambil untuk memenuhi komitmen. Salah satunya dengan mematok target bauran energi. 

Pada tahun 2025, Pemerintah Indonesia menargetkan porsi energi baru dan terbarukan (EBT) sudah mencapai 23%. Niatan tersebut ambisius mengingat porsi EBT pada saat ini dalam bauran energi baru masih minoritas. 

Data dari SKK Migas menyebutkan, pada tahun 2017, sumber energi Indonesia masih didominasi oleh bahan bakar fosil, seperti minyak bumi (40%), gas (30%), batu bara (23%). Sedangkan porsi EBT baru tujuh persen. 

Namun, komposisi tersebut hendak diubah pada tahun 2025. Bauran energi yang ingin dicapai adalah batu bara 30%, minyak bumi 25%, EBT 23% dan gas 22%.

Dari target terbaru, terlihat jelas pekerjaan besar menanti di sektor EBT. Kenaikan yang diharapkan terjadi mencapai 15 persen. Mewujudkannya bukan perkara mudah karena waktu tinggal enam tahun lagi. Sudah begitu, hal-hal yang perlu disiapkan tidak sedikit.

Padahal, peran EBT sangat vital dalam ketahanan energi nasional. Dikarenakan energi fosil sudah akan habis, EBT akan menjadi masa depan.

Dalam situasi seperti ini, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Butuh uluran tangan dari berbagai pihak termasuk swasta. Tidak heran, pemerintah mendorong korporasi untuk ikut berperan serta dalam mencapai target bauran energi 2025. 

Beruntung, sebelum target dipatok, satu perusahaan sudah mengambil langkah. Asian Agri telah menunjukkan keseriusan dalam menghadirkan energi bersih sejak lama.

Asian Agri merupakan salah satu produsen minyak kelapa sawit terbesar di Asia. Per tahun, mereka mampu menggapai kapasitas produksi 1,2 juta metrik ton. Hal itu diperoleh dari pengelolaan lahan seluas 100 ribu hektare serta kolaborasi dengan petani plasma dan swadaya yang mencakup lahan seluas 101 ribu hektare.

Sejak 2015, Asian Agri sudah merintis EBT dengan mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg). Itu baru awal. Perusahaan di bawah naungan grup Royal Golden Eagle ini bertekad hendak membangun 20 PLTBg hingga tahun 2020. Nilai investasi yang dikucurkan mencapai 120 juta dolar Amerika Serikat (sekitar Rp1,68 triliun).

Langkah pertama sudah dimulai Asian Agri pada tahun tersebut. Lima PLTBg pertama dibangun di berbagai area di sekitar daerah operasionalnya di Sumatera Utara, Riau, dan Jambi. Kini jumlah tersebut sudah berkembang menjadi 10 PLTBg.

HASIL PEMANFAATAN LIMBAH

PLTBg yang dibangun Asian Agri merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan keberlanjutan dalam operasional perusahaan. Mereka berhasil memanfaatkan limbah organik dari proses produksi minyak sawit untuk memperoleh energi bersih dan terbarukan dalam PLTBg.

Secara garis besar, energi listrik yang dihasilkan PLTBg Asian Agri berasal dari biomassa sisa proses produksi yang dikenal dengan nama Palm Oil Mill Effluent (POME). Sebelumnya, POME lebih sering dimanfaatkan untuk pupuk cair dan menjaga kelembapan tanah untuk mencegah erosi tanah.

Di dalam PLTBg, POME ditempatkan di dalam tangki digester, yang diubah menjadi gas metana dengan menambahkan bakteri. Gas ini yang kemudian dikirim ke PLTBg guna menghasilkan tenaga listrik.

Upaya ini merupakan sebuah langkah penting dalam pelestarian lingkungan. Sedikit banyak, pemanfaatan limbah menjadi biogas mengurangi tingkat pencemaran. Namun, selain itu, listrik yang dihasilkan ternyata ramah lingkungan.

Hal itu tergambar dari emisi yang dihasilkan. Biogas memiliki tingkat emisi yang jauh lebih rendah dibanding sumber energi fosil seperti minyak bumi ataupun batu bara. Sesudah PLTBg beroperasi, Asian Agri mencatat penurunan emisi di pabrik kelapa sawitnya turun hingga 60 persen. Jumlah itu bisa akan lebih kecil lagi karena Asian Agri berencana memasang penangkap gas metana untuk semakin memperkecil emisi.

Pada awalnya, Asian Agri membangun PLTBg demi mendukung operasionalnya. Sebagai perusahaan sumber daya yang bergerak di sektor perkebunan, basis operasi banyak berada di area pedesaan yang terpencil. Di sana kelistrikan belum baik sehingga kebutuhan energi yang bisa diandalkan sangat vital. Itulah yang mendasari pendirian PLTBg.

Akhirnya, ketika sudah beroperasi, setiap PLTBg mampu menghasilkan daya sebesar 2,2 MW. Ternyata jumlah tersebut berlebih. Operasional pabrik hanya membutuhkan 700 KW. Dengan demikian ada sisa energi 1,5 MW.

Oleh Asian Agri, kelebihan pasokan listrik dimanfaatkan secara positif. Bekerja sama dengan Perusahaan Listrik Negara, mereka menyalurkannya ke masyarakat sekitar. Itu adalah para warga yang ada di area operasional Asian Agri, yakni 5 di daerah di Sumatera Utara (Asahan, Negeri Lama, Gunung Melayu, Aek Nabara, dan Tanjung Selamat), 3 di Riau (Air Hitam, Bukit Agung, dan  Langgam), 2 lagi di Jambi (Lubuk Bernai dan Tungkal Ulo) 

Banyak pihak yang sangat terbantu. Dengan asumsi satu rumah tangga membutuhkan 900 W, maka akan ada lebih dari 1.600 rumah yang akan terbantu. Alhasil, jika nanti 20 PLTBg Asian Agri sudah beroperasi semua, kelistrikan lebih 32 ribu rumah tangga telah terpenuhi. 

Dengan demikian, PLTBg Asian Agri sangat membantu pengadaan listrik pedesaan yang sering terlupakan. Langkah tersebut sejalan dengan prinsip kerja 5C yang dipegang oleh perusahaannya. Sebagai bagian dari grup RGE, Asian Agri diharuskan mampu berguna bagi masyarakat (Community), negara (Country), iklim (Climate), pelanggan (Customer), sehingga akan baik bagi perusahaan (Company).

Bukan itu saja, sedikit banyak Asian Agri membantu upaya dalam mencapai target bauran energi EBT sebesar 23 persen pada 2025. Selain itu, mereka juga mendukung upaya pencapaian kelistrikan nasional sebesar 35.000 MW yang pelaksanaannya ditunda hingga 2026.

Tidak aneh Pemerintah Indonesia mengapresiasi langkah Asian Agri. Ketika masih menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada 2018, Ignasius Jonan pernah berkata, “Kami berharap pada masa depan setiap perusahaan kelapa sawit memiliki pembangkit listrik seperti ini.”