Kirim 40 Kontainer Per Hari, GGP Raih Subkontrak Fasiltas Berikat

Kirim 40 Kontainer  Per Hari, GGP Raih Subkontrak Fasiltas Berikat
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ketika mengunjungi PT. Great Giant Pineapple di Lampung Tengah, Jumat (23/11/2018) (Foto: Kemenperin).

PT Great Giant Pineapple (GGP) di Lampung Tengah, yang merupakan perusahaan penghasil produk nanas dalam kaleng ketiga terbesar di dunia, mendapatkan fasilitas subkontrak kawasan berikat yang baru diberikan pertama kali oleh pemerintah.

Pemberian fasilitas tersebut, diharapkan mampu menekan faktor biaya produksi menjadi lebih efisien sehingga mendorong peningkatan hasil panen kelompok tani utamanya produk pisang segar di Kabupaten Tanggamus, Lampung Timur. 

“Ini salah satu industri yang berbasis ekspor dan semua bahan bakunya dari lokal. Industri hortikultura ini harus terus didorong karena dapat meningkatkan nilai tambah tinggi dan menyerap tenaga kerja besar. Industri ini yang juga mempunyai daya saing kuat,”  ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto dalam siaran persnya, Senin, 26 November 2018.

Saat ini, PT GGP memiliki kapasitas produksi nanas dalam kaleng sebesar 200.000 ton per tahun, dengan nilai investasi sudah mencapai 500 miliar rupiah dan menyerap tenaga kerja sebanyak 20.000 orang. PT GGP  diklaim telah menerapkan manajemen zero waste production dan membentuk ekosistem rantai pasok yang terintegrasi dari hulu ke hilir di seluruh rantai nilai usahanya.

Produk yang dihasilkan PT GGP meliputi nanas dalam kaleng, jus serta konsentrat nanas yang telah dipasarkan ke lebih dari 60 negara tujuan ekspor. Dengan nilai ekspor sudah menembus hingga 300 juta dolar Amerika Serikat per tahun. 

Pemerintah memberikan apresiasi kepada PT GGP karena melakukan pengembangan lahan pertanian yang mencapai 33 ribu hektare untuk mendukung bahan baku yang digunakan di pabrik Terbanggi, Lampung Tengah. “Sehingga bahan baku lokal dapat diolah menjadi produk bernilai tambah untuk pasar ekspor,” katanya. 

Direktur Marketing PT GGP Yosep Lay menegaskan, petani jadi subkontrak perusahaan. Para petai, bisa menikmati kualitas pupuk dari perusahaantanpa membayar biaya depot. "Perusahaan harus panen nanas sebanyak 1800-2000 ton per hari untuk ekspor, atau sekitar 40 kontainer per hari” ujarnya.   Ia menegaskan,  ekspor buah segar PT GGP merambah negara-negara di Timur Tengah, Jepang, Korea Selatan, Singapura dan Malaysia. "Dengan jumlah total sekitar 4.000 kontainer tiap tahunnya," katanya. 

Data Kementerian Perindustrian, Industri makanan dan minuman mampu menunjukkan kinerja dengan pertumbuhan sebesar 9,74 persen pada periode Januari-September tahun 2018. Capaian itu jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,17 persen di periode yang sama. Selain itu, berkontribusi sebesar 35,73 persen terhadap PDB industri nonmigas.

Pada semester I tahun 2018, investasi untuk PMDN sektor industri makanan mencapai Rp20,1 triliun dan industri minuman sebesar 1,3 triliun rupiah. Sedangkan, nilai investasi PMA sektor industri makanan mencapai 498,07 juta dolar Amerika Serikat dan sektor industri minuman sebesar 62,52 juta dolar Amerika Serikat.