Jurus Bukit Asam di Tengah Penurunan Harga Batu Bara

Jurus Bukit Asam di Tengah Penurunan Harga Batu Bara
PTBA Terus Menggenjot Produksi Batu bara Selama 2019/Sumber: PT Bukit Asam

Masa-masa sulit tengah dialami oleh industri batu bara. Dalam situasi seperti ini, para pelakunya harus pintar bersiasat. Seperti yang dilakukan oleh PT Bukit Asam Tbk (PTBA), berbagai langkah diambil untuk mempertahankan performa bisnis.

Tahun 2019 pasti ingin dilewati oleh semua pihak di industri batu bara. Tren penurunan harga terus terjadi. Rerata Harga batu bara Acuan (HBA) dari Januari-Desember 2019 hanya mencapai 77,89 dolar Amerika Serikat (AS) per ton. Jumlah ini cenderung turun dibanding rata-rata HBA 2017 maupun 2018. 

Pada 2017, HBA masih sebesar 85,92 dolar AS per ton. Sedangkan HBA tahun 2018 mampu mencapai 98,96 dolar AS per ton. Namun, nilai itu tidak bisa diraih lagi pada 2019.

Sialnya, kondisi ke depan pun diprediksi tidak lebih baik. Lembaga pemeringkat utang global, Fitch Ratings, memberikan outlook negatif untuk sektor batu bara tanah air. Mereka memperkirakan harga batu bara pada tahun 2020 tetap akan turun. 

Untuk batu bara Qinghuangdao dengan kalori sebesar 5.500 kcal/kg akan dijual di harga 80 dolar AS per ton. Sebelumnya, pada tahun 2019, harganya bisa mencapai 86 dolar AS per ton. Sedangkan, batu bara Newcastle Australia dengan kalori 6.000 kcal/kg diperkirakan menyentuh harga 73 dolar AS  per ton. Nilai itu tidak berubah dibanding rerata tahun 2019.

Situasi sulit seperti ini jelas memberi dampak besar bagi industri batu bara. Performa bisnis menurun. Itu bisa tergambar dari pergerakan harga saham yang ikut-ikut melemah.

PTBA tidak bisa menghindari konsekuensi tersebut. Dalam satu tahun terakhir, nilai sahamnya terkoreksi 44,55 persen. Selama itu, kisaran harganya ada di rentang Rp2.110-Rp5.025 per saham. Itu terlihat nyata di harga saham pada 17 Desember 2019. Saat itu, saham Bukit Asam diperdagangkan di Rp2.640 per saham. 

Namun, di tengah kondisi kurang menguntungkan seperti ini, PTBA masih mampu membukukan profit. Pada April lalu, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan membagi dividen senilai Rp3,76 triliun dengan besaran per lembar saham senilai Rp326.

Dividen yang dibagikan setara dengan 75% total laba bersih pada 2018. Tahun itu, PTBA mampu meraup laba bersih sebesar Rp5,02 triliun. Jumlah tersebut naik 12% dari laba bersih tahun sebelumnya yang senilai Rp4,48 triliun.

Kemampuan itu tidak lepas dari sejumlah langkah khusus yang diambil PTBA dalam menyiasati kondisi sulit. Mereka melakukan beberapa upaya untuk tetap mempertahankan kinerja tetap baik. Hal itulah yang terus dilanjutkan pada tahun 2019 ini.

Langkah pertama ialah dengan meningkatkan produksi dan penjualan. Selama 2019, PTBA menargetkan total produksi mencapai 28,5 juta ton. Target tersebut tampaknya bisa diraih. Sampai Kuartal Ketiga 2019, produksi sudah menembus angka 21,3 juta ton. Jumlah ini naik 10 persen dibanding periode yang sama tahun 2018 sehingga membuat PTBA optimistis. 

Sementara itu, terkait penjualan, PTBA mematok target 27,8 juta ton. Hingga Kuartal Ketiga 2019, mereka telah mampu menjual 20,6 juta ton. Seperti halnya total produksi, ada peningkatan yang diraih. Dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, penjualan tumbuh 11 persen.

Di tengah penurunan harga batu bara, peningkatan produksi akan sangat menolong. Meski harganya terus menurun, sebenarnya ada kenaikan permintaan batu bara. Menurut Internasional Energy Agency (IEA), konsumsi batu bara global sudah naik 65 persen sejak tahun 2000. Mereka memprediksi permintaan tetap akan stabil hingga 2024.

Dalam kondisi ini, penjualan akan sangat menentukan. PTBA mengambil langkah khusus. Mereka kian serius menggarap pasar ekspor. Pada tahun ini, 40% volume penjualan ditargetkan berasal dari luar negeri dengan jumlah mencapai 12 juta ton. 

Pilihan tersebut berada di trek yang tepat. Per September 2019, komposisi penjualan terbagi menjadi 59 persen untuk pasar lokal dan 41 persen untuk konsumsi ekspor. Hal ini diharapkan bisa membantu PTBA dalam menjaga performa bisnisnya.

BERBAGAI LANGKAH LAIN

Selain peningkatan produksi dan penjualan, PTBA masih mengambil langkah-langkah lain demi mempertahankan kinerja positif. Saat ini mereka tengah menyeriusi upaya efisiensi angkutan. Ini adalah lanjutan dari kerja sama bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) sejak Oktober 2018.

Buah kolaborasi tersebut mulai menunjukkan hasil pada tahun 2019. Pengembangan proyek angkutan batu bara jalur kereta api Tanjung Enim-Kertapati dengan kapasitas 5 juta ton/tahun dan fasilitas Dermaga Kertapati telah selesai. Begitu pula halnya proyek angkutan kereta api arah Tanjung Enim-Tarahan (Tarahan First Line). Proyek ini mampu mengangkut 20,3 juta ton per tahun dan akan meningkat menjadi 25 juta ton per tahun pada 2020. 

Melalui kerja sama ini, PTBA ingin meraih sasaran strategis berupa peningkatan total kapasitas angkut batu bara menjadi 60 juta ton per tahun. Hal itu akan diyakini akan mendorong efisiensi biaya operasional. Terlebih lagi ketika semuanya sudah beroperasi secara penuh mulai tahun 2023. 

Bukan hanya itu, PTBA juga melakukan sejumlah proyek pengembangan lain. Saat ini mereka menjalankan proyek pembangkit listrik, hilirisasi, dan renewable energy.

Dalam pelaksanaan, PTBA menggandeng pihak lain. Misalnya bekerja sama dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) guna membangun PLTD dan PLTU di Halmahera Timur, Maluku Utara. Kerja sama ini memungkinkan PTBA menghadirkan energi untuk smelter ANTM.

Hal itu dilengkapi dengan pembangunan PLTU mulut tambang Sumsel 8 di Muara Enim, Sumatera Selatan. Nanti PLTU itu akan menjadi yang terbesar di Indonesia dengan kapasitas 2x620 MW. 

Sementara itu, meski fokus di batu bara, PTBA tidak mau ketinggalan dalam sektor energi terbarukan. Sekarang mereka tengah membangun beberapa PLTS, yakni PLTS PT Angkasa Pura II, PLTS Terapung Dam Sigura-gura Inalum, dan PLTS Ombilin. Langkah ini diharapkan tetap akan menjaga PTBA bisa meraih visi menjadi perusahaan energi yang ramah lingkungan.

Terkait hilirisasi, PTBA sedang menjajaki kerja sama dengan berbagai pihak. Sebagai contoh pada November lalu, mereka mendekati Pemerintah Taiwan dan Formosa Plastics Group (FPG) serta Taiwan Power Company (TPC) dalam pengembangan hilirisasi batu bara (Coal to Chemical).

Beragam jurus ini diharapkan bisa mempertahankan kinerja PTBA selama 2019. Terlihat pendapatan PTBA pada paruh pertama 2019 naik 1,17% dari periode serupa tahun sebelumnya dengan jumlah sebesar Rp10,64 triliun.

Hal itu menjadi angin segar di tengah penurunan laba yang dialami. Pada semester I-2019, PTBA membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp2,01 triliun. Jumlah ini turun 24,4% dari laba periode berjalan tahun lalu yang mencapai Rp2,65 triliun. 

Meski begitu, dengan berbagai langkah yang diambil, PTBA berharap masih bisa sukses menjaga performa seperti tahun 2018 lalu. Kita tunggu saja hasilnya.

Baca juga: PTBA Cetak Laba di Atas Rp 2 Triliun