Jejak Langkah Mendiang Ciputra, Sang Raja Properti Indonesia

Jejak Langkah Mendiang Ciputra, Sang Raja Properti Indonesia
Ciputra, Pendiri Ciputra Group (Sumber: IG @ciputra.group)

Indonesia kehilangan sosok pengusaha ulung, Ciputra, yang mangkat pada Rabu 27 November 2019. Dikenal sebagai Raja Properti Indonesia, ia mengembuskan napas terakhir pada usia 88 tahun di Singapura. Kepergiannya meninggalkan warisan berharga bagi dunia usaha.

Sebagai salah satu pebisnis tersukses di negeri ini, Ciputra memiliki definisi tersendiri mengenai sosok entrepreneur. Untuk menyandang predikat tersebut, di mata Ciputra, seseorang harus mampu mengubah kotoran menjadi emas. Dengan kata lain, wirausahawan mesti sanggup membuat hal mustahil menjadi kenyataan.

Ciputra sendiri mampu melakukannya. Sejumlah sentuhan tangannya sanggup menghadirkan “emas”. Contohnya ialah Taman Impian Jaya Ancol.

Mulai dikerjakan pada 1962, proyek Taman Impian Jaya Ancol sudah lama dirintis oleh Ciputra. Sebelumnya ia sadar bahwa Jakarta harus memiliki tempat rekreasi yang memadai. Hal itu mendorongnya bertemu dengan Ali Sadikin yang menjadi Gubernur DKI Jakarta untuk meminta masukan.

Pertemuan itu kemudian berlanjut dengan dukungan Presiden RI pertama, Soekarno yang menginginkan Taman Impian Jaya Ancol menjadi ikon Jakarta. Ini membuat Ciputra mulai melakukan berbagai persiapan dan studi kelayakan untuk mewujudkannya.

Singkat kata, kawasan Ancol akhirnya direklamasi. Padahal, waktu itu, area tersebut hanya rawa-rawa yang tidak produktif. Namun, Ciputra mampu menata lahan seluas 550 hektare tersebut menjadi kawasan rekreasi yang indah. 

Akhirnya pada 1966 Taman Impian Jaya Ancol resmi berdiri. Lalu pada 1985, Dunia Fantasi menyusul. Setelah itu, perkembangan Ancol kian pesat. Area ini tidak lagi hanya menjadi kawasan rekreasi, tetapi juga area perumahan dan bisnis yang maju. 

Kesuksesan Taman Impian Jaya Ancol memperlihatkan kelebihan sosok Ciputra. Ia merupakan pengusaha visioner. Hal itu yang membuatnya sanggup menghadirkan karya-karya besar.

Kemampuan itu dibenarkan oleh berbagai pihak. Senior Director Ciputra Group, Sutoto Yakobus, menilai pandangan Ciputra sukar ditandingi. ”Beliau visioner, melihat jauh ke depan, juga confident, dan berani. Ketika kami semua belum bisa membayangkan, Pak Ci (panggilan akrab Ciputra, Red.) sudah bisa melihat,” tutur Sutoto Yakobus.

Ketajaman visi Ciputra semakin terlihat ketika mengembangkan Bumi Serpong Damai (BSD) pada 1984 bersama Metropolitan Group yang juga didirikannya. Saat itu, kepadatan Jakarta belum seperti sekarang. Namun, Ciputra telah tahu ibu kota bakal berkembang pesat. Untuk itu, keberadaan kota satelit dibutuhkan. 

Itulah yang mendasari Ciputra mengembangkan BSD. Kota ini dirancang dengan cermat untuk mengantisipasi lonjakan jumlah penduduk. Ia pun menatanya menjadi kawasan yang rapi dan nyaman sebagai tempat tinggal. Hingga akhirnya BSD mampu berdiri sebagai kota mandiri yang bisa mengikuti perkembangan zaman seperti sekarang.

Oleh Ciputra, BSD didesain dengan konsep open-ended. Perencanaan kota seperti ini memberikan ruang bagi bagian-bagian tertentu dari sistem kota untuk bergerak secara spontan. Pemanfaatan lahan juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Namun, semuanya masih berada dalam koridor yang sudah dirancang. 

”Sebagai kota mandiri, konsep pembangunan BSD memang dibangun untuk memenuhi segala kebutuhan manusia mulai dari lahir hingga meninggal. Fasilitas yang dibangun di BSD bukan hanya perumahan, melainkan juga fasilitas perkantoran, pertokoan, sekolah, rumah sakit, sarana olahraga, dan industri. Bahkan, tempat pemakaman pun disediakan di sini,” ujar Ciputra pada ulang tahun BSD ke-8.

Keberhasilan BSD kian memperlihatkan kejeniusan Ciputra dalam menggarap properti. Proyek ini bahkan mendorong pengusaha-pengusaha lain di Indonesia untuk mengikuti jejaknya. Namun, Ciputra selalu saja mampu menghadirkan ide-ide baru. Itu yang membuatnya banyak melahirkan proyek monumental lain seperti pengembangan kawasan Pondok Indah, Citra Raya Tangerang, Pantai Indah Kapuk, Bintaro Jaya, hingga area Citra Maja.

MEMULAI SEJAK DINI
Sektor properti menjadi bisnis inti Ciputra bersama PT Ciputra Development Tbk yang didirikannya. Ia mampu unggul di bidang ini karena memang telah memulai sejak dini. 

Ciputra menamatkan perkuliahan jurusan Arsitektur di Institut Teknologi Bandung pada 1960. Semasa kuliah, Ciputra bersama rekan-rekannya sudah mendirikan jasa konsultan arsitek. Berkantor di sebuah garasi, pekerjaan itu mengantar Ciputra fokus ke sektor properti. Hingga akhirnya sesudah lulus ia bergabung dengan Jaya Grup milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Di sana Ciputra berperan besar dalam pembangunan Proyek Pasar Senen. Seperti ditulis dalam buku The Passion of My Life yang ditulis oleh Alberthiene Endah, ia gigih mengajukan konsep perombakan Pasar Senen ke Gubernur DKI Jakarta, Soemarno. Padahal, saat itu ia masih seorang arsitek muda.

Namun, kegigihan itu berbuah manis. Oleh Soemarno, Ciputra dipertemukan dengan Presiden Soekarno yang memberi dukungan. Alhasil, Pasar Senen jadi ditata menjadi pusat perbelanjaan modern pertama di Indonesia yang masih eksis hingga sekarang. 

Sepintas, jejak karier Ciputra terlihat mulus. Namun, di baliknya ada perjuangan keras yang dilakukan. Terlahir dengan nama Tjie Tjin Hoan, Ciputra hidup di tengah keluarga yang sederhana. Bahkan, jalan hidupnya terbilang berat.

Pada masa penjajahan Jepang, Ciputra sudah harus kehilangan ayahnya yang ditangkap penguasa karena dituduh sebagai mata-mata. Sejak saat itu ia harus membantu mengelola toko keluarganya. "Tangan saya ketika merangkak telah memegang kardus dagangan. Bangun pagi, mata melek sudah melihat terigu, telur, sembako untuk dijual. Pukul 06.00 WIB, tugas saya membuka toko supaya pembeli datang," cerita Ciputra.

Namun, hal itu malah menjadi pelajaran berharga bagi Ciputra. Jiwa pengusaha sudah dimilikinya sejak kecil. Pada akhirnya itu mempermudah kiprahnya di dunia bisnis. 

Kariernya terus melesat setelah mendirikan PT Citra Habitat Indonesia pada 1981. Seiring waktu, pada 1990, ia mengubah namanya menjadi PT Ciputra Development yang berhasil melakukan Penawaran Umum Perdana pada Bursa Efek Jakarta pada 1994.

Sesudahnya kiprah Ciputra kian benderang hingga dijuluki sebagai Raja Properti Indonesia. Kesuksesannya menjadikannya sebagai salah satu orang terkaya di negeri ini. Per Mei 2019. Forbes menaksir kekayaannya mencapai 1,1 miliar dolar Amerika Serikat (sekitar Rp15,52 triliun).

FILOSOFI BISNIS
Sukses sebagai pengusaha andal tidak hadir begitu saja. Ciputra ketat dalam memegang sejumlah prinsip hidup yang mendukung kariernya. Satu hal yang sangat ditekankan ialah kejujuran.

Bagi Ciputra, integritas nomor satu. Dalam bisnis, hal itu diwujudkan dengan beragam cara seperti komitmen pemenuhan janji dan menghindari langkah yang merugikan pihak lain.  

Di mata anak-anaknya, sikap Ciputra menjadi teladan. Ada empat prinsip dalam hidup maupun bisnis yang dicontohkannya. "Kami mengenang ayah kami sebagai seorang yang sederhana, bekerja keras, tidak pernah mengeluh, dan selalu jujur," ungkap putri sekaligus Managing Director Ciputra Group, Rina Ciputra Sastrawinata.

Kemapanan juga dinilai Ciputra sebagai bahaya besar. Diceritakan dalam buku berjudul Sisi Lain Ciputra: Reportase yang Belum Terungkap karya Yery Vlorida Ariyanto, Ciputra pernah menolak duduk di sofa yang disediakan pada acara Kanisius Education Fair pada September 2010. Ia hanya mau duduk sesudah kursi tersebut diganti dengan kursi besi lipat tanpa alas empuk.

"Kalian siswa, masih muda. Kursi sofa empuk itu menyimbolkan kemewahan. Kalau sudah duduk di sofa, orang enggan beranjak, malah nanti tidur pulas," ucap Ciputra yang bermaksud memberi contoh.

Pola pikir seperti itu yang membuat Ciputra tetap energik hingga akhir hayat. Di usia senja, ia masih saja mampu memberikan masukan berharga bagi dunia bisnis.

Sebagai contoh, saat industri properti lesu pada 2004, ia mendorong pengusaha lain untuk mengerem proyek pengembangan karena dinilai sudah kelebihan pasokan. Ajakannya didengarkan hingga membuat sektor properti Indonesia bangkit kembali dan menikmati masa keemasan pada 2013.

Sumbangan pikiran seperti itu memang tidak akan bisa diberikan lagi oleh Ciputra. Namun, jejak langkah dan kiprahnya masih dapat dijadikan contoh dan inspirasi bagi berbagai pihak lain untuk meraih sukses. 

Selamat jalan Pak Ci.

BIODATA
Nama                         : Dr. (HC) Ir. Ciputra
Tempat tanggal lahir  : Parigi, 24 Agustus 1931
Meninggal                  : Singapura, 27 November 2019
Pendidikan                 : 

  • Sekolah Menengah Pertama Frater Don Bosco Manado
  • Sekolah Menengah Atas Frater Don Bosco Manado
  • Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung

Karier:

  • Direktur Jaya Group.
  • Founder Metropolitan Group.
  • Founder & Chairman Ciputra Group.

Penghargaan:

  • Satya Lencana Pembangunan dari Presiden RI pada 1995. 
  • Lifetime Achievement Luminary Award dari Channel News Asia pada 2013. 
  • The BrandLaureate Hall of Fame-Lifetime Achievement Brand Icon Leadership 2018. 
  • The BrandLaureate Book of World Records 2018 sebagai "The First Property Developer of Indonesia."