Jadi Induk Holding BUMN Farmasi, Bio Farma Ingin Anggota Holding Jadi Global Player

Jadi Induk Holding BUMN Farmasi, Bio Farma Ingin Anggota Holding Jadi Global Player
Konferensi Pers Holding BUMN Farmasi.

PT Bio Farma (Persero) ditunjuk menjadi induk holding BUMN farmasi dengan anggota PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk. Penetapan secara resmi ditandai dengan keluarnya surat persetujuan dari Menteri BUMN selaku RUPS pada akhir Januari 2020. Dalam surat tersebut, Menteri BUMN menyetujui pengalihan seluruh saham seri B milik Negara Republik Indonesia pada Kimia Farma maupun Indofarma ke Bio Farma.

Bio Farma sendiri merupakan salah satu perusahaan farmasi yang fokus mengembangkan produk berupa vaksin. Tentunya, setelah menjadi holding, fokus bisnis yang sudah dirintis sejak 129 tahun lalu ini akan tetap berjalan.

“Bio Farma yang core bisnisnya adalah vaksin itu tidak bisa kita tingalkan. Ada manajemen tersendiri. Tapi di samping itu, Bio Farma akan menjalankan fungsinya sebagai orkestra sebagai induk holding farmasi,” terang Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir dalam Konferensi Pers yang digelar di Jakarta, Rabu, 5 Februari 2020.

Tujuan dari holding ini adalah menciptakan sinergi dengan melibatkan semua ekosistem healthcare yang ada di Indonesia. Baik itu pemerintah, investor dan juga konsumen yang menghadirkan demand dalam produk farmasi. Honesti menyampaikan bahwa kolaborasi akan memberikan hasil yang lebih besar daripada ketika perusahaan harus berjalan sendiri.

“Kalau kita semuanya bisa bersinergi ya, semua ekosistem, at least yang ada di pemerintah, ini akan bisa memberikan kontribusi yang luar biasa. Sehingga beban (pemerintah) nanti bisa kita kurangi, tapi layanan juga semakin bagus lagi ke masyarakatnya,” ujarnya.

Saat ini, industri farmasi di Indonesia, masih dihadapkan pada beberapa tantangan yang cukup signifikan. Salah satunya adalah ketergantungan impor bahan baku obat atau Active Pharmaceutical Ingredients (API). Kemudian tantangan lainnya adalah akses untuk mendapatkan produk farmasi yang cenderung sulit karena keterbatasan jalur distribusi. Akibatnya, harga obat menjadi relatf mahal.

“Dengan bergabungnya Bio Farma, Kimia Farma dan Indofarma dalam suatu holding BUMN Farmasi, diharapkan masing – masing dari perusahaan ini, akan memberikan kontribusi pada ketahanan farmasi nasional, sehingga harga produk farmasi bisa lebih murah,” ujar Honesti.

Lebih spesifik, dengan terbentuknya holding ini, Biofarma ingin mendorong anggota holding untuk menerapkan Produksi dan Quality Management System. Hal ini penting untuk mendapatkan Pre-Qualification WHO (PQ WHO).

Dengan PQ-WHO, diharapkan Kimia Farma dan Indofarma juga dapat menembus pasar global. Saat ini, produk Bio Farma sudah digunakan di lebih dari 140 negara di dunia dan menembus pasar di negara – negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Baca juga: Kemenristek Dukung Bio Farma Jadi Industri Bebasis Inovasi