Ibu Kota Pindah, Korporasi Mana Saja yang Tersenyum?

Ibu Kota Pindah, Korporasi Mana Saja yang Tersenyum?
Pelabuhan Penajam Banua Taka. Sumber: situs web Astra Infra

Setahun yang lalu, PT Astra International Tbk Astra International memutuskan untuk berinvestasi besar-besaran di Kalimantan Timur. Melalui anak usahanya Astra Infra mereka berinvestasi untuk mengembangkan Pelabuhan Penajam Banua Taka atau Astra Port Eastkal. Investasi ini dilakukan untuk mendukung rencana pembangunan Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan PT Pertamina (Persero). RDMP ini akan menambah kapasitas produksi minyak hingga 100.000 barel per hari.

Pada saat itu, Astra Port Eastkal sudah memiliki fasilitas yang cukup lengkap seperti jetty sepanjang 200 meter, mengantongi izin Badan Usaha Pelabuhan (BUP), sedang dalam proses hak konsesi maksimal 50 tahun, dan memiliki sertifikasi Kode Keamanan Internasional atas Fasilitas Pelabuhan atau ISPS Code. Dengan ISPS Code sebuah pelabuhan bisa disandari oleh kapal asing.

Astra memiliki lahan seluas 95 hektare dan kawasan yang berhubungan dengan laut 1 km. Jetty yang dimiliki pelabuhan tersebut dapat melayani kapal hingga 10.000 DWT. Astra Port Eastkal juga memiliki fasilitas Pusat Logistik Berikat (PLB) sehingga perusahaan tersebut bisa melayani perawatan rig.

Pada tanggal 26 Agustus 2019, Presiden Jokowi akhirnya telah mengumumkan lokasi ibu kota baru yang telah lama ditunggu-tunggu. Lokasi calon ibu kota tersebut terletak di Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara. Ketika mendengar pengumuman tersebut, ada pihak-pihak yang senang, ada juga yang kecewa. Mereka yang sudah berinvestasi di lokasi sekitar calon ibu kota, pastilah menjadi pihak yang tersenyum.

Para analis pasar menyebut beberapa perusahaan yang akan menuai untung dengan pindahnya ibu kota ke Kalimantan Timur. Yang pertama tentu saja mereka yang sudah memiliki tanah. Untuk mengurangi praktik spekulan tanah, pemerintah membatasi pembelian tanah di lokasi calon ibu kota baru. Yang kedua adalah mereka yang telah memiliki jaringan infrastruktur, seperti pelabuhan, fasilitas pergudangan, dan juga perusahaan yang telah memiliki pabrik. 

Sehari setelah pengumuman tersebut, setidaknya ada lima emiten properti di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mencatatkan kenaikan harga saham cukup signifikan pada penutupan sesi I, tanggal 27 Agustus 2019. Kelima korporasi tercatat tersebut adalah: PT PP Properti Tbk (PPRO), PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Capri Nusa Property Tbk (CPRI), dan PT Sitara Propertindo Tbk (TARA). 

PP Properti dalam paparan publik di Bursa Efek Indonesia tanggal 26 Agustus 2019 mengatakan mereka akan menggarap lahan seluas 500 hektare di sekitar Kalimantan Timur. Rupanya, anak perusahaan PT PP ini sudah melakukan riset sejak 4 bulan sebelum pengumuman tersebut, ketika wacana pemindahan ibu kota telah santer didengungkan. Pada saat itu ada sejumlah investor yang menawarkan pola joint venture untuk mengembangkan lahan di sekitar ibu kota baru. Tawaran ini pun disambut oleh PP Properti setelah melakukan sejumlah kajian. Perusahaan ini sebelumnya telah memiliki aset properti di Balikpapan, Kalimantan Timur yaitu mal Balikpapan Ocean Square dan hotel yang dioperasikan oleh Swiss-Belhotel.  

Perusahaan lain di bidang properti yang telah berinvestasi di Kalimantan Timur adalah Agung Podomoro Land. Sehari setelah pengumuman ibu kota baru, korporasi yang merupakan group Agung Podomoro yang telah berbisnis properti lebih dari 40 tahun itu dengan gesit menggencarkan promosi Borneo Bay City. Iklan superblok di Jalan Jenderal Sudirman Balikpapan ini sempat viral di media sosial. Borneo Bay City dibangun di atas lahan seluas 8,5 hektare, yang merupakan integrasi antara hunian, bisnis, dan perdagangan. Di dalam kawasan Borneo Bay City terdapat tiga mal, tujuh menara apartemen yang terdiri dari 1.220 unit, hotel bintang lima, nature park, dan gourmet tower

Korporasi lain yang memiliki lahan luas di sekitar ibu kota adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk dan Ciputra Development. Bumi Serpong Damai telah memiliki lahan seluas 515 hektare, terdiri dari 270 hektare di Balikpapan dan 245 hektare di Samarinda. Ciputra Development memiliki total lahan seluas 870 hektare di Kalimantan Timur. Dikutip dari Laporan Tahunan Ciputra Development tahun 2018 properti yang dimiliki Ciputra di Balikpapan adalah Citra Bukit Indah Balikpapan dan Citra City Balikpapan. Di Samarinda mereka memiliki CitraLand City Samarinda dan CitraGarden City Samarinda. Namun berbeda dengan BSD yang langsung melonjak nilai sahamnya sehari setelah pengumuman ibu kota baru, hal ini tidak terjadi pada saham Ciputra Development. 

Korporasi yang Memiliki Pabrik di Ibu Kota Baru

Korporasi lain yang sedang tersenyum adalah mereka yang telah membangun pabrik di lokasi calon ibu kota baru. Contohnya PT Semen Indonesia Tbk dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk yang telah memiliki pabrik semen di beberapa kota di Kalimantan. Contoh lain misalnya PT Waskita Beton Precast Tbk yang telah memiliki pabrik beton seluas 11,6 hektare. 

Dua hari setelah pengumuman ibu kota baru, Waskita Beton mempublikasikan siaran pers di situs web perusahaannya yang mengumumkan bahwa Waskita siap mendukung kemajuan infrastruktur di ibu kota baru. Pengumuman ibu kota baru tersebut disebut sebagai berita baik bagi perusahaan manufaktur beton precast dan readymix terbesar di Indonesia itu.

Hingga saat ini, Waskita Beton telah melakukan pembangunan Plant Penajam yang terletak di Penajam Paser Utara. Progres pembangunan plant sudah mencapai 70% di mana pembangunan plant ini ditargetkan selesai pada awal tahun 2020. Lokasi Plant Penajam ini berjarak sekitar 15 km ke Pusat Pemerintahan Kabupaten Penajam dan sekitar 120 km ke Kabupaten Kutai Kertanegara. 

Waskita Beton saat ini telah menyuplai produk untuk proyek RDMP RU V Balikpapan. Mereka sedang membidik proyek Jembatan Tol Teluk Balikpapan-Penajam, yang akan menghubungkan Balikpapan ke ibu kota baru. 

Pabrik beton seluas 11,6 ha yang dimiliki Waskita Beton memiliki kapasitas produksi sebesar 250 ribu ton per tahun, direncanakan akan memproduksi produk Box Girder, PCI Girder, CCSP, Square Pile, U Ditch, dan produk pre-tension. Nantinya, dengan fasilitas penunjang yang sudah ada berupa area produksi, area workshop dan area pengolah limbah, anak usaha PT Waskita Karya (Persero) Tbk ini berencana untuk melakukan ekspansi dengan memiliki dermaga sendiri. 

PT Wijaya Karya Beton atau WIKA Beton juga tidak ingin ketinggalan. Anak usaha PT Wijaya Karya (WIKA) Tbk ini juga sudah mengambil ancang-ancang menyambut ibu kota baru. Pemindahan ibu kota baru yang dipastikan akan mengakibatkan kebutuhan infrastruktur yang besar telah diantisipasi BUMN ini dengan membangun pabrik beton. Dengan investasi senilai Rp100 miliar WIKA Beton mempersiapkan pabrik baru di Kalimantan Timur. 

Sebagai pendukung infrastruktur ibu kota baru, PT Jasa Marga (Persero) Tbk sebelumnya telah membangun jalan tol Balikpapan-Samarinda yang ditargetkan selesai dalam waktu dekat ini. Jalan tol yang dibangun dengan investasi sebesar Rp9,9 triliun itu akan menjadi jalan tol pertama di Kalimantan, sekaligus jalan tol pertama di ibu kota baru. Jalan tol sepanjang 99,34 kilometer ini ditargetkan akan dilalui 10.000 kendaraan setiap harinya. 

Nantinya pada saat ibu kota baru sudah pindah, tentu saja tol baru tersebut akan semakin ramai. Maka BUMN yang bergerak di bidang jasa jalan tol yang didirikan tahun 1978 itu pun akan termasuk korporasi yang tersenyum dalam hal ini. Nah, bagaimana dengan korporasi Anda?