Hingga Akhir Tahun, Garuda Indonesia Bidik Laba Bersih Sebesar 10 Juta Dolar AS

Hingga Akhir Tahun, Garuda Indonesia Bidik Laba Bersih Sebesar 10 Juta Dolar AS

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) untuk akhir tahun 2018 ini menargetkan bisa mencetak laba bersih hingga 10 juta dolar AS, meski Perseroan ikut terkena dampak dari adanya pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Pahala N Mansury, mengatakan dengan pelemahan rupiah ditambah dengan harga bahan bakar yang meningkat membuat Perseroan merubah rencana produksinya.

“Kalau kita lihat jumlah produksi kita dalam 2 tahun ini dengan adanya fuel meningkat dan rupiah depresiasi, itu rencana produksi kita berubah,” kata Pahala, dalam keterangannya yang dilansir Tribunnews.com, Selasa (31/7/2018).

Pahala menjelaskan jika rupiah tidak melemah, seharusnya pendapatan Garuda Indonesia tahun 2018 ini bisa tumbuh 12%. Sedangkan Perseroan pada semester satu 2018 mencatatkan pendapatan operasional yang meningkat 5,9% menjadi menjadi 1,9 dolar AS yang dibandingkan semester I/2017 sebesar 1,8 dolar AS.

“Kalo kita keluarkan pengaruh rupiah, total revenue kita harusnya tumbuh sekitar 12%,” ungkap Pahala.

Garuda Indonesia pun memutuskan untuk menunda pengiriman pesawat baru sehingga jumlah pesawat hingga akhir tahun dipertahankan sebanyak 202 unit. Jika ada pesawat baru yang datang pesawat lama dikembalikan sehingga tidak membebankan biaya operasi.

“Kemudian kita sudah bersepakat utk melakukan penundaan pesawat, kita mungkin sampai akhir tahun ini jumlah pesawat kita tetap sama sekitar 202, jadi kalau Citilink ada nambah 3, sebenarnya dia balikin lagi 3, Garuda juga gitu,” ujar Pahala.

Sementara itu, Perseroan juga menargetkan untuk memperoleh pinjaman sebesar 500 juta dolar AS. Dana itu nantinya akan digunakan untuk membayar utang yang jatuh tempo di tahun ini.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia, Helmi Imam Satriyono, mengatakan pelemahan rupiah yang terjadi membuat Perseroan mengubah mata uang pinjaman yang sebelumnya rupiah kini menjadi dollar. “500 juta dolar AS itu berasal dari pinjaman sindikasi dan pinjaman bilateral,” katanya, seperti dikutip Kontan.co.id, Selasa (31/7/2018).

Helmi menyebut, GIAA masih dalam tahap diskusi dengan perbankan untuk dapat menyalurkan pendanaan sindikasi dengan target sebesar 300 juta dolar AS. Sementara sisanya sebesar 200 juta dolar AS diharapkan berasal dari pinjaman bilateral.

Saat ini, utang jangka pendek Perseroan yang jatuh tempo di tahun ini mencapai 65% dari total pinjaman GIAA. Selain refinancing, GIAA juga melakukan negosiasi untuk memperpanjang periode jatuh tempo.(DD)