Harapan Bumi Resources Minerals Mendulang Emas Pada 2020

Harapan Bumi Resources Minerals Mendulang Emas Pada 2020
Bumi Resources Minerals akan mulai mengoperasikan tambang emas Poboya pada 2020/Sumber: Bumi Resources

Tahun 2020 disambut oleh PT Bumi Resources Minerals (BRMS) dengan bergairah. Momentum apik baru saja diperoleh dengan raihan profit pada akhir tahun 2019. Momen itu ingin dilanjutkan dengan mendulang untung dari tambang emas yang siap beroperasi.

Tahun 2019 yang baru saja berlalu memang menghadirkan gairah tersendiri bagi BRMS. Perusahaan yang diambil alih oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada 2009 ini akhirnya meraup profit. 

Pada Kuartal III 2019, mereka tercatat memperoleh laba bersih sebesar 1,02 juta dolar AS. Pencapaian ini spesial karena pada kuartal yang sama tahun 2018, mereka mengalami kerugian. Saat itu BRMS tercatat defisit 93,98 juta dolar AS.

Perubahan situasi tidak lepas dari kenaikan pendapatan yang berhasil dikantongi oleh BRMS. Menurut Direktur dan Investor Relations BRMS Herwin Wahyu Hidayat, pertumbuhannya mencapai 193% menjadi 3,46 juta dolar AS. Adapun sumber utama pendapatan BRMS pada 2019 ialah jasa konsultansi pertambangan. Mereka tercatat memberikan konsultasi studi kelayakan dan akuisisi terhadap aset tambang di Indonesia kepada Bellridge Holdings Limited.

Hal itulah yang membuat kinerja keuangan BRMS terus positif. Sebagai gambaran antara Juli hingga September 2019, mereka mampu mendapatkan kenaikan pendapatan sebesar 600 ribu dolar AS, sehingga laba bersih juga baik sebesar 100 ribu dolar AS.

Momen baik ini tentu tidak ingin disia-siakan oleh BRMS. Kebetulan mereka bakal memiliki sumber pendapatan baru mulai 2020 ini. Selama ini BRMS memang tidak merancang jasa konsultasi pertambangan sebagai sumber pemasukan terbesar. Mereka mengincar usaha tambang, terkhusus emas, sebagai bidang usaha utama. 

Hal itu sudah mulai dilakukan mulai 2020 sejalan dengan kesiapan Tambang Poboya di Sulawesi Tengah. BRMS menyatakan proses konstruksi tambang yang dijalankan oleh anak usahanya, PT Citra Palu Minerals (CPM), telah rampung. Dengan demikian, Tambang Poboya siap beroperasi.

Ketika saat itu tiba, pendapatan BRMS sudah pasti naik. Tambang emas Poboya diklaim memiliki cadangan 3,9 juta bijih dan sumber daya 7,9 juta bijih. Pada tahun pertama operasionalnya, BRMS sudah akan bisa memproduksi 100 ribu ton bijih emas. Jumlah itu akan meningkat menjadi 180 ribu ton pada 2021 dan seterusnya.

BRMS berencana mengolah bijih emas menjadi dore bullion lewat fasilitas smelter milik PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di Pulogadung, Jakarta. Di sana bijih emas akan diproses menjadi emas batangan yang akan dijual ke berbagai pihak. BRMS berniat memasarkannya ke pelanggan dalam negeri seperti Antam, Pegadaian serta pihak lain di luar negeri lewat ekspor.

Sebagai persiapan, sejak Desember 2019, BRMS telah mengadakan beberapa tes uji untuk Tambang Poboya. Pada 9 hingga 21 Desember 2019, dry run sudah berhasil dilakukan. Sedangkan wet run juga telah dilaksanakan pada 23 Desember 2019.

Dry run merupakan uji coba peralatan secara terpisah sebelum beroperasi. Sedangkan pengujian wet run adalah uji coba atas seluruh peralatan dalam fasilitas produksi secara bersamaan dengan menggunakan air, bahan kimia, dan bijih emas. Kedua tes ini biasa dilakukan di pertambangan sebelum sistem dan operasional dimulai. 

BRMS merencanakan proses produksi percobaan dilakukan sejak Januari 2020. Mulai saat itu, mereka akan memaksimal tambang emas yang ditaksir memiliki valuasi kotor senilai 1,47 miliar dolar AS tersebut. Diproyeksikan tambang emas Poboya akan bisa dieksplorasi selama delapan tahun.

RENCANA EKSPLORASI LAIN

Tambang emas Poboya untuk sementara akan menjadi sumber pemasukan utama BRMS. Namun, mereka juga bersiap menghadirkan tambahan pendapatan lain dari dua tambang lain yang tengah disiapkan.

Pertama, saat ini BRMS sedang membangun tambang seng dan timah hitam Dairi di Sumatera Utara. Adapun prosesnya tengah memasuki pembangunan konstruksi di situs Anjing Hitam dan Lae Jahe. Adapun tambang Dairi akan dioperasikan oleh PT Dairi Prima Mineral. 

Proyek dengan konsesi lahan seluas 24.636 hektare ini ditaksir memiliki sumber daya bijih sekitar 25 juta ton. Valuasi kotornya mencapai 5,75 miliar dolar AS. BRMS menyebut seng yang dihasilkan di Tambang Dairi termasuk salah satu deposit seng dengan grade (kualitas) tertinggi di dunia yakni sebesar 11,5% Zn.    

Diproyeksikan BRMS akan mulai bisa melakukan produksi dari Tambang Dairi sejak 2021 dengan masa eksplorasi selama 15 tahun. Dari sini BRMS akan menambang 250 ribu ton bijih per tahun. Namun, memasuki tahun kedua, produksi naik dua kali lipat menjadi 500 ribu ton dalam kurun waktu yang sama.

Meski begitu, BRMS memiliki target produksi yang konsisten sebesar 1 juta bijih ton per tahun. Direncanakan hal itu bisa diraih pada tahun ketiga operasional Tambang Dairi. 

Selanjutnya BRMS juga sedang mempersiapkan tambang emas dan tembaga di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Proyek ini dilakukan dari konsesi kontrak karya seluas 24.995 hektare dengan cadangan bijih sebanyak 100 juta ton. Adapun operasionalnya dilakukan oleh PT Gorontalo Minerals. 

Saat ini BRMS sedang mengupayakan untuk memproses bijih tembaga jenis oxide menjadi tembaga (copper cathode) dengan menggunakan metode sulphuric acid leaching. Secara garis besar, bijih tembaga akan dihancurkan menjadi serbuk untuk dilarutkan dalam cairan sulphuric acid. Setelah itu, bijih tembaga akan bertransformasi menjadi copper cathode yang bisa langsung dijual ke pasar ekspor.

BRMS melakukannya agar dapat menghemat biaya produksi. Pasalnya, pembangunan fasilitas smelter dinilai cukup mahal. Diharapkan langkah itu bisa mengembalikan nilai kotor (gross value) dari proyek Gorontalo Minerals yang mencapai 3,85 miliar dolar AS.

Sementara itu, terkait emas di tambang Gorontalo, BRMS bersiap membangun fasilitas pengolahan emas sendiri. Untuk melakukannya, mereka menjajaki kerja sama dengan PT Freeport Indonesia (PTFI) dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Jika kesepakatan ditemui, mereka akan membangunnya di salah satu tempat antara Kalimantan, Sulawesi, atau Sumbawa. 

Kalau semua tambang itu sudah beroperasi, sumber pemasukan BRMS jelas semakin bertambah. Kinerjanya tentu akan semakin baik seiring pendapatan dari Tambang Poboya yang siap diperoleh.

Baca juga: Geliat APR, Si Pemain Baru yang Mampu Mewarnai Industri Tekstil Nasional