Geliat APR, Si Pemain Baru yang Mampu Mewarnai Industri Tekstil Nasional

Geliat APR, Si Pemain Baru yang Mampu Mewarnai Industri Tekstil Nasional
APR menggelar Gala Dinner bersama stakeholder untuk menggairahkan industri tekstil nasional pada Maret 2019/Sumber: Inside RGE

Industri tekstil nasional sedang berada dalam kondisi buruk. Keterpurukan industri tekstil Indonesia tergambar dari data yang dipaparkan oleh Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (Ikatsi). Mereka menyoroti ketimpangan ekspor impor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT). Di tengah situasi sulit tersebut, grup Royal Golden Eagle (RGE) justru mendirikan Asia Pacific Rayon (APR). Belakangan si pemain baru itu terbukti mampu memberi warna tersendiri.

Ikatsi mencatat rata-rata pertumbuhan TPT nasional dalam kurun 10 tahun (2008-2018) hanya naik 3 persen. Sebaliknya nilai impor meningkat hingga 10,4 persen dalam kurun waktu yang sama. Tidak mengherankan neraca perdagangan terus tergerus. Menurut data  Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), jumlahnya turun dari surplus 6,08 miliar dolar AS pada 2017, menjadi hanya 3,2 miliar dolar AS pada 2018.

Padahal, sejatinya pasar untuk TPT sangatlah besar. Terdapat tren peningkatan yang terus terjadi hingga kini. Dikatakan oleh Sekretaris Jenderal APSyFI Redma Gita Wiraswasta, permintaan pada 2008 sebesar 5,23 kilogram per kapita. Namun, pada 2018, jumlah tersebut melonjak menjadi 8,13 persen. 

Kenaikan itu belum berhenti. Diprediksi tren terus berlanjut hingga konsumsi mencapai di atas 12 kg per kapita per tahun. Sebuah peluang besar yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Barangkali itu yang membuat Chairman RGE, Sukanto Tanoto, memutuskan untuk mendirikan APR. Ia melihat celah di tengah keterpurukan industri tekstil nasional. Maka, sejak 2016, APR mulai dirintis dengan peletakan batu pertama pembangunan fasilitas produksi di Pangkalan Kerinci, Riau. 

Butuh dua tahun bagi APR untuk menyelesaikan Line 1 pabriknya tersebut. Namun, hal itu membuat APR sudah bisa memproduksi bal serat viscose rayon pertamanya pada 1 Desember 2018. Tanggal itu pula yang menandai kelahiran resmi APR.

Sejak saat itu, APR langsung memberi kontribusi bagi industri tekstil Indonesia. Pada Januari 2019, mereka berhasil menyelesaikan Line 2 yang memungkinkan kapasitas produksi maksimal. APR akhirnya mampu memproduksi 240 ribu ton serat viscose rayon per tahun.

Jelas saja sektor TPT dalam negeri menikmati dampaknya. APR mampu meningkatkan ekspor dengan mengirim separuh hasil kapasitas produksinya ke pasar global. Sisanya mereka alokasikan untuk konsumsi domestik.

Efek keberadaan APR pun langsung terasa. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyoroti kinerja gemilang industri tekstil dan pakaian pada triwulan I tahun 2019. Sepanjang tiga bulan tersebut, pertumbuhannya mencapai 18,98 persen. Jumlahnya naik signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu di angka 7,46 persen. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pun menunjukkan hal serupa. Produksi industri manufaktur besar dan sedang pada kuartal I-2019 naik 4,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan tersebut ditopang oleh produksi sektor industri pakaian jadi yang naik hingga 29,19 persen karena order yang melimpah dari pasar ekspor.

Di sini kontribusi APR disorot nyata. Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Muhdori menyatakan pertumbuhan tinggi yang terjadi pada industri TPT tidak lepas dari investasi yang cukup besar di sektor hulu, terutama produsen rayon. Secara khusus, ia melihat dampak beroperasinya APR yang langsung mendongkrak kinerja.

“Itu yang menyebabkan peningkatan dari sisi ekspor. Selain itu, suplai dari hulu yang meningkat juga mendorong kinerja ke industri hilir dan antara. Akibatnya, secara kumulatif, industri semakin bergairah. Ini ditandai dengan ekspor TPT yang naik 1,1 persen pada triwulan I tahun ini,” paparnya di situs resmi Kemenperin pada Minggu (12/05/2019).

Meski pemain baru, APR bisa langsung memberi dampak besar. Hal itu tidak lepas dari dukungan kuat sesama perusahaan yang ada di bawah naungan RGE. Untuk produksi serat viscose rayon, RGE telah memiliki Sateri yang berbasis di Tiongkok. Sateri dikenal sebagai produsen viscose fibre terbesar di dunia yang telah berpengalaman lebih dari dua dekade. Sedikit banyak, pengalaman Sateri ditularkan ke APR.

Bukan hanya itu, RGE juga menaungi APRIL Group di Pangkalan Kerinci. Mereka adalah satu produsen pulp dan kertas terbesar di Asia. Hal itu memungkinkan APR mendapat dukungan suplai bahan baku dengan lebih mudah.

Investasi senilai Rp11 triliun yang dikucurkan untuk membangun fasilitas produksi juga kian memudahkan APR. Mereka kini tercatat sebagai produsen serat viscose rayon yang terintegrasi pertama di Asia.

MENAWARKAN FASHION BERKELANJUTAN

Berbagai dukungan tersebut memudahkan APR untuk langsung ngebut. Namun, secara khusus, mereka juga berhasil menghadirkan penawaran menarik. Sadar bahwa industri fashion terus berkembang, mereka memilih terjun ke sana. Mereka menawarkan konsep sustainable fashion di tengah kepedulian pasar terhadap produk ramah lingkungan yang kian meningkat.

APR menghadirkan viscose rayon yang bisa menjadi bahan baku kain alami. Bahan tersebut terbuat dari kayu selulosa yang tidak mengandung plastik sama sekali dan mudah terurai secara natural di tanah. Bahan kayu pun dapat diperoleh dengan perkebunan yang dikelola secara berkelanjutan.

Meski alami, sejumlah karakter yang disukai desainer fashion dimiliki. Serat tekstilnya dapat diaplikasikan ke berbagai produk. Kelembutannya pun setara dengan kain katun dan kehalusannya tidak kalah dengan sutra. Kelebihan tersebut ditambah dengan kemudahan menyerap keringat dan tidak panas.

Pada akhirnya, konsumen bisa bermain-main dengan produknya. Tekstilnya mudah diwarnai dengan hasil pewarnaan yang cerah. Ini membuat kreativitas mereka tidak akan terkendala dengan bahan baku.

Produk textile fibre APR bisa dipakai sebagai bahan baku knitted fabrics, woven fabrics, dan home textiles. Wujud nyatanya beragam. Knitted fabric dapat digunakan untuk produksi high-end knitted innerwear, dresses, hingga t-shirts. Sementara itu, woven fabrics dimanfaatkan untuk gaun, berbagai jenis denim, kemeja, kain batik, dan aneka pakaian kasual. Lalu home textiles cocok dipakai sebagai handuk, bedding, tablecloths, napkins, dan decorative fabrics.

Agar semakin menjamin keberlanjutan produknya, APR meluncurkan sistem keterlacakan produk yang diakses dengan mudah di Followourfibre.com. Memanfaatkan teknologi blockchain, sistem ini mampu memastikan asal bahan baku. Konsumen bisa dengan mudah menemukan detail produk mulai asal perkebunan, waktu produksi, hingga pengiriman hanya dengan melihat di ponsel.

“Dari perkebunan ke fashion, kami percaya bahwa APR dapat membangkitkan industri tekstil di Indonesia. Saat kami katakan dari plantation ke fashion, hal ini menjadi kenyataan,” ujar Ben Poon, Deputy Head APR di situs resmi perusahaan.

Menarik untuk melihat geliat APR ke depan. Hanya setahun beroperasi, kontribusinya untuk industri tekstil nasional sudah terasa.

Baca juga: Kiprah APRIL Group di Pasar Kertas Internasional