Forum Energizing Indonesia: Ketahanan Energi Indonesia Butuh Riset dan Inovasi soal EBT

Forum Energizing Indonesia: Ketahanan Energi Indonesia Butuh Riset dan Inovasi soal EBT
Bambang Brodjonegoro, Menristek dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional

Keberlanjutan (sustainability) merupakan salah satu kunci dari ketahanan energi nasional. Berdasarkan pertimbangan tersebut, Forum Energizing Indonesia (FEI) mengambil tema "Sustainable Energy for Indonesia" untuk seminar nasional ke-9 yang dihelat di Hotel Grand Sahid, pada 4 Maret 2020. Acara tersebut terselenggara atas kerja sama antara FEI dan PGD UI 2020.

FEI sendiri merupakan wadah diskusi tentang isu energi dan hasil diskusi kerap kali dijadikan masukan bagi pemerintah. Forum ini dibentuk oleh Ikatan Alumni Departemen Teknik Gas Petro Kimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia (ILUNI DTGPK FT UI).  

Diskusi dibuka oleh Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro. Dalam paparannya, ia menyampaikan bahwa peranan energi baru dan terbarukan (EBT) sangat penting untuk ketahanan energi Indonesia di masa depan. Hanya saja, saat ini Indonesia masih menghadapi tantangan di mana renewable energy belum berbanding lurus dengan affordable energy.

"Tantangannya bukan hanya mencari sumber energi, tetapi setelah sumber ketemu, pertanyaan selanjutnya adalah bisakah yang renewable tadi menjadi affordable. Jadi kita bicara efisiensi dari pemakaian energi itu sendiri," terang Bambang saat menjadi pembicara di Seminar FEI, 4 Maret 2020 di Jakarta.

Di tengah tren produksi minyak dan gas bumi yang semakin menurun, Indonesia sebetulnya masih memiliki potensi yang besar pada energi baru dan terbarukan. Sebagai contoh, Bambang menyebut bahwa potensi energi panas bumi di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia. Ia pun menyarankan agar riset EBT di Indonesia difokuskan pada panas bumi dan bio energi.

"Bio energi ini sesuatu yang agak dilupakan padahal potensinya luar biasa," ungkapnya.

Dalam sesi diskusi panel I, para panelis yang hadir menekankan bahwa Indonesia telah berupaya untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan memaksimalkan EBT. Ini sejalan dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) Indonesia yang menargetkan penggunaan EBT sebesar 23% dari total energi yang dibutuhkan pada 2025 dan 31% di tahun 2030.

Salah satu upaya tersebut adalah penggunaan bahan bakar biodiesel atau biofuel. Bentuk konkretnya di Indonesia adalah implementasi B20 dan B30. Kedua bahan bakar ini dibuat dengan mencampurkan minyak nabati yang berasal dari minyak sawit (CPO) yang sudah ditambah katalisator dengan bahan bakar solar.

Menurut Paulus Tjakrawan, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), pemakaian biodiesel selain dapat mempertahankan ketahanan energi, juga bahan bakunya masih potensial di Indonesia.

"Sampai dengan tahun 2030, saya tidak khawatir dengan bahan baku (feedstock) dari kelapa sawit," ungkapnya.

Pemanfaatan CPO menjadi biodiesel juga memiliki multiplier efect yakni meningkatkan kesejahteraan petani sawit dan menciptakan lapangan kerja.

Energi fosil memang masih berperan penting dalam ketahanan energi indonesia di masa datang. Riset dan inovasi tentang EBT bukan semata-mata untuk menggantikan penggunaan fosil. Akan tetapi, setidaknya Indonesia akan siap jika sewaktu-waktu energi tak terbaharukan tersebut semakin sulit ditemukan.

Baca juga: Forum Energizing Indonesia Selenggarakan Seminar Nasional ke-9