Era Terus Berganti, Pos Indonesia Tak Ingin Terhenti

Era Terus Berganti, Pos Indonesia Tak Ingin Terhenti
sumber : twitter @PosIndonesia

PT Pos Indonesia (Persero) memiliki sejarah panjang yang tercatat sejak masa penjajahan Belanda. Pada tahun 1746, tepatnya pada tanggal 26 Agustus, Gubernur Jenderal G.W Baron van Imhoff mendirikan kantor pos pertama dengan tujuan untuk menjamin keamanan surat-surat penduduk, terutama bagi mereka yang berdagang dari kantor di luar Jawa dan mereka yang datang dan pergi ke Belanda.

Sejak saat itu, Pos Indonesia bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Setidaknya Pos Indonesia pernah berganti-ganti nama dari mulai POSTEN TELEGRAFDIENST di tahun 1875, Union Postale Universelle di 1877, dan setelah diubah statusnya menjadi perusahaan negara, Pos Indonesia bernama PN Pos dan Giro (1965), Perusahaan Umum Pos dan Giro (1978) dan akhirnya menjadi PT Pos Indonesia sejak tahun 1995.

Antara tahun 1980 - 1990an, PT Pos Indonesia adalah primadona karena orang-orang memerlukan jasanya. Mereka masih sering mengirimkan surat atau dokumen via pos, masih juga mengirimkan uang melalui wesel. Ditambah lagi, kompetitor juga terbilang sedikit kala itu.

Tahun 2000, geliat era digital mulai terlihat. Tingkah laku konsumen juga berubah. Komunikasi bisa dilakukan dengan lebih cepat dan murah tanpa perlu menulis surat. Penggunaan pesan singkat melalui telepon selular dan internet menggantikan peran surat pos individu. Demikian juga persaingan kiriman barang dengan para perusahaan kurir swasta membuat pangsa pasar PT Pos Indonesia (Persero) tergerus. PT Pos Indonesia mulai kelimpungan, terseok-seok mengejar ketertinggalan. Perseroan tersebut terus-terusan merugi. 

Dari berbagai sumber disebutkan bahwa laba PT Pos Indonesia dari tahun 2004 - 2008 berada di angka minus alias merugi sebesar 606,5 miliar rupiah. Di tengah kondisi yang kurang sehat tersebut, PT Pos tetap harus membayar gaji puluhan ribu karyawannya. I Ketut Mardjana, yang masuk pada Agustus 2018 sebagai deputi Direktur Utama sebelum akhirnya ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Pos Indonesia pada 2009 memiliki tugas yang berat kala itu, yakni melakukan transformasi agar PT Pos Indonesia bisa bertahan dan menghasilkan laba.  

Data Performa Keuangan Pt Pos Indonesia (sumber: Laporan Tahunan Pos Indonesia 2013)

Salah satu dobrakan yang dilakukan oleh Ketut Mardjana adalah modernisasi PT Pos Indonesia yakni dengan pemanfaatan teknologi. Hal itu dinilai menjadi salah satu solusi jitu untuk membuat pelayanan Pos Indonesia seperti paket, surat, logistik menjadi lebih cepat dan murah. Teknologi ini tidak hanya digunakan untuk percepatan pelayanan konsumen tetapi juga dipakai untuk membenahi sistem internal perusahaan, seperti sistem administrasi dan asesmen karyawan serta procurements. Selain teknologi, penyandang gelar doktorat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Monash University ini juga melakukan penyederhanaan birokrasi sehingga kantor - kantor di daerah tidak perlu menunggu persetujuan pusat untuk mengambil keputusan-keputusan tertentu.

Strategi tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 2009, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun mengalami kerugian, PT Pos Indonesia mencetak laba. Dari yang awalnya tahun 2008 menderita kerugian sekitar 54,7 miliar, pada tahun 2009 Pos Indonesia berhasil mencetak laba 81,8 miliar. Sejak itu hingga 2017, PT Pos Indonesia terus membukukan keuntungan.  

(diolah dari Laporan Tahunan PT Pos Indonesia)

PT Pos Indonesia kini sudah tidak bisa lagi hanya mengandalkan jasa pengiriman surat untuk mendongkrak pendapatannya. Oleh karena itu, PT Pos Indonesia kemudian menciptakan beberapa anak perusahaan untuk lebih menunjang layanannya. Setelah membangun PT Bhakti Wasantara pada 2001, Pos Indonesia kembali membangun dua anak perusahaan antara lain PT Pos Logistik Indonesia (2012) dan PT Pos Properti Indonesia (2013).

PT Bhakti Wasantara difokuskan pada pelayanan internet provider yang bersifat Virtual Private Network (VPN), PT Pos Logistik ditargetkan pada pelanggan yang memerlukan jasa warehousing, transportasi, kargo dan agen inspeksi. Dan yang terakhir, PT Pos Properti menyasar pada pangsa pasar penyewaan gedung, lahan atau ruangan yang merupakan aset dari PT Pos Indonesia.

Ketiga anak perusahaan tersebut penting guna menopang layanan utama Pos Indonesia yakni kurir paket atau dokumen. Hingga saat ini, bisnis pengantaran surat, dokumen dan paket masih mendominasi sumber pendapatan PT Pos Indonesia hampir mencapai 60%. Besarnya kontribusi jasa kurir paket/dokumen terhadap total penghasilan PT Pos tidak lepas dari inisiatif perseroan tersebut untuk ikut andil dalam bisnis e-commerce. Sejak tahun 2013, Pos Indonesia sudah menjajaki bisnis e-commerce, bukan sebagai mitra, tetapi marketplace buatan sendiri yang bernama Plazapos. Situs belanja online tersebut menawarkan pembelanjaan barang-barang mewah dari luar negeri. 

Selanjutnya, pada tahun 2015, Pos Indonesia mulai bekerja sama dengan online shop besar di Indonesia sperti mataharimall.com. Di tahun berikutnya, beberapa online shop lain juga bekerja sama dengan Pos Indonesia seperti Zalora, Lazada, Blibli.com, Tokopedia, Shopee, Bukalapak, Blanja.com, dan berbagai e-commerce lainnya. Volume surat tiap tahun diprediksi akan berkurang sebanyak 10%, sedangkan bisnis e-commerce diprediksi naik sekitar 20-30%. Dengan angka tersebut, Pos Indonesia masih bisa mengalami kenaikan 10% jika performa bidang e-commerce ditingkatkan.

Pada tahun 2020, diprediksi nilai bisnis e-commerce akan meningkat 10 kali lipat menjadi sebesar 130 miliar dolar Amerika. Tentunya, Pos Indonesia tidak ingin ketinggalan momentum tersebut. Perseroan tersebut menyiapkan diri dengan memegang teguh tiga kunci sukses yakni agile (lincah), adaptable (mudah beradaptasi) dan speed (kecepatan).

Pendapatan Pos Indonesia tidak hanya ditopang oleh pengantaran surat dan paket. Satu lagi penopang yang juga signifikan adalah bisnis fintech atau financial technology. Dalam PT Pos Indonesia, realisasinya adalah dengan menyediakan layanan pengiriman uang baik dari luar negeri maupun domestik, juga pembayaran tagihan seperti listrik dan PDAM. Sejak tahun 2013, Pos Indonesia meluncurkan Pospay, sebuah aplikasi yang dapat diunduh melalui smatphone dan membantu penggunanya untuk melakukan pembayaran yang dapat dilayani oleh Pos Indonesia.

Pos Indonesia termasuk salah satu perusahaan yang cukup beruntung. Di luar Indonesia, tidak sedikit perusahaan di bidang yang sama tutup tergerus perkembangan zaman. Perseroan ini bangkit meski pemerintah sempat meragukan keberlanjutannya. Kini, Pos Indonesia bercita-cita untuk menjadi raksasa logistik dari timur. Sebuah optimisme yang dibangun dengan bekal titik layanan (Point of Sales) mencapai 58.700 titik dalam bentuk Kantorpos, Agenpos, Mobile Postal Service, dan bentuk-bentuk lainnya.