Economy Outlook 2020 dan Antisipasi BCA Terhadap Bertumbuhnya Fintech

Economy Outlook 2020 dan Antisipasi BCA Terhadap Bertumbuhnya Fintech
Talkshow Economy Outlook 2020 Kafe BCA

Tahun 2020 nanti, Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen. Sementara itu, kondisi ekonomi global tengah melemah. Akankan target itu tercapai?

Dalam talkshow Kafe BCA bertajuk "Economy Outlook 2020" di Menara BCA, Direktur Riset CORE, Pieter Abdullah menyebutkan bahwa setidaknya akan ada 2 skenario, yakni base line dan yang kedua optimis. Secara base line atau jika Indonesia tidak melakukan terobosan apapun untuk merespon perlambatan ekonomi dunia, akan sulit target tersebut tercapai.

Di sisi lain, apabila pemerintah menerapkan strategi yang tepat, target tersebut sangat mungkin untuk tercapai. Menurutnya, situasi ekonomi global yang diwarnai oleh perang dagang antara Amerika dengan China, Brexit dan ketegangan geopolitik di negara-negara Timur Tengah masih memberikan peluang.

"Peluangnya adalah bank sentral di berbagai negara mengambil respons dengan melonggarkan kebijakan, salah satunya menurunkan suku bunga sehingga ada peluang untuk aliran dana masuk ke Indonesia. Hal ini membuat tekanan rupiah makin berkurang,"ungkap Pieter.

Dalam industri perbankan, perang dagang juga mempengaruhi pelemahan kredit perbankan di Indonesia. Menurut David Sumual, Ekonom BCA, kebijakan dari Bank Indonesia (BI) sudah longgar, hanya memang permintaannya sedikit. 

"Makanya sekarang distimulus,ada kebijakan makro prudensial juga dari Bank Indonesia. Itu dilakukan agar pertumbuhan kita tetap stabil di kisaran angka 5 persen tersebut", David Sumual,  menjelaskan.

Sementara itu, Kepala Kajian Makro LPEM UI, Febrio Nathan Kacaribu melihat bahwa pertumbuhan ekonomi digital diperkirakan akan naik hingga mencapai 100 miliar Dolar AS pada 2025. Hal ini tentunya memberikan angin segar untuk prospek ekonomi Indonesia di masa depan.

Industri keuangan sendiri tak akan bisa lepas dari ekonomi digital. Kehadiran teknologi digital dan internet telah mendorong lahirnya beragam Fintech (Financial Technology). Apakah BCA memiliki antisipasi terhadap situasi tersebut?

"Kita punya dua pilihan, yang pertama fight dan yang kedua collabs. Trennya, bank-bank nasional dan dunia itu collabs. Sehingga bisa tumbuh bersama-sama," ungkap David.

Ia menambahkan bahwa BCA sendiri telah menjalin kerja sama dengan beberapa fintek dan e-commerce, misalnya saja dalam hal top up atau pembayaran. BCA mengembangkan sistem API (Application Programming Interface) yang memungkinkan koneksi sambungan langsung antara sistem fintech dengan sistem bank sehingga proses transaksi menjadi lebih lancar.

"Bank sebenarnya sudah ada dari lama, dari tahun 1000-an. Jenis uang berubah dari mulai kertas, logam dan bahkan sekarang EDC. Semua teknologi kita ikuti jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan," tegas David.

Terkait dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara umum, BCA memprediksi bahwa besarannya mencapai 5 - 5,2 persen. Hal tersebut salah satunya dipicu oleh potensi domestik Indonesia yang cukup besar. Indonesia pun bukan tipe negara yang mengandalkan ekspor sebagai sumber pendapatan nasional.

Baca juga: Incar Milenial, BCA Luncurkan Aplikasi Wealth Management WELMA