Dwi Soetjipto: Berlabuhnya Best Asia CEO di SKK Migas

Dwi Soetjipto:  Berlabuhnya Best Asia CEO di SKK Migas
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto. Foto: Pertamina

Tiga bulan belakangan, isu pergantian orang nomor satu di tubuh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) sangat santer. Industri migas pun kasak-kusuk...penasaran, siapakah gerangan yang akan menggeser Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi? Apakah ia sosok yang paham industri padat modal ini?

Tak heran banyak orang mendadak jadi kepo akan isu tersebut. Pergantian pucuk pimpinan biasanya akan diikuti oleh sejumlah perubahan kebijakan dan juga rotasi jabatan. Jadi banyak yang berkepentingan dalam hal ini, termasuk juga investor migas karena telah menanamkan investasi jutaan dolar.

Nama Dwi Soetjipto mencuat. Ia digadang-gadang menggeser Amien. Dengan rekam jejak yang ber-raport biru, sudah barang tentu Pak Tjip -demikian ia biasa dipanggil- adalah kandidat potensial. Dan terbukti, ia berhasil melenggang ke Menara Mulia, menggeser sejumlah kandidat lainnya. Menara Mulia adalah lokasi kantor SKK Migas.

Baca juga: Dwi Soetjipto, dari Dirut Pertamina Menjadi Kepala SKK Migas

Tjip memang orang baru di dunia semi pemerintahan. Dengan bentuk Badan Hukum Milik Negara, SKK Migas adalah representasi pemerintah untuk mengawasi lekat-lekat proses eksplorasi dan eksploitasi setiap kontrak sesuai dengan ketentuan. Ini jelas berbeda dengan rekam jejaknya yang semuanya bernuansa bisnis dan profit oriented.

Kesuksesan pria kelahiran Surabaya berangkat dari sepak terjangnya di industri semen. Sejak 2003, penggemar olahraga pecak silat itu menduduki posisi puncak di PT Semen Padang. Kondisi keuangan perusahaan yang carut marut berhasil dibenahi oleh tangan dingin Tjip. Juni 2005, pemerintah menggesernya menjadi Direktur Utama PT Semen Gresik. Tujuannya hanya satu: menyukseskan rencana pemerintah untuk membentuk holding semen. 

Voila, setelah melewati jalan terjal serta penuh onak dan duri, Semen Gresik berhasil bertransformasi menjadi PT Semen Indonesia. Hal ini menjadikan Semen Indonesia sebagai perusahaan induk usaha semen nasional yang mengoperasikan pabrik terbesar di Asia Tenggara. Transformasi ini bukan jalan mudah, namun terjal serta penuh onak dan duri. 

Di bawah kepemimpinannya, Tjip berhasil mengalahkan raja semen Asia Tenggara, Siam Cement, dengan meningkatkan kapasitas produksi Semen Indonesia menjadi 26 juta ton per tahun. Tak hanya itu, korporasi juga melakukan ekspansi regional dengan membuka pabrik di Vietnam. Dengan sejumlah prestasi gemilang itu, tak aneh jika Tjip diganjar sebagai The Best CEO 2014 oleh suatu media besar. 

Dianggap sukses, pemerintah melirik jebolan Institut Teknologi Surabaya (ITS) itu untuk menjadi Direktur Utama PT Pertamina (Persero), menggantikan Karen Agustiawan. Karen mengundurkan diri pada 2014 sehingga terjadi kekosongan jabatan.

Industri migas memang hal baru baginya. Namun, di bawah kepemimpinannya, Tjip banyak melakukan gebrakan di Pertamina. Ia berani membubarkan Petral, anak perusahan trading Pertamina yang berkedudukan di Singapura pada tahun 2016. Petral selama ini memang berkonotasi negatif karena identik dengan sarang korupsi dalam proses tender minyak mentah dan BBM. 

Selain itu, Tjip juga meluncurkan BBM non-subsidi jenis baru, Pertalite, yang diharapkan dapat mengurangi penggunaan premium. Tjip pun juga berusaha merevitalisasi dan membangun kilang baru. Bahkan ia berhasil menggandeng perusahaan migas raksasa Timur Tengah, Saudi Aramco, untuk meningkatkan kapasitas kilang Cilacap. Investasi yang dibutuhkan diperkirakan mencapai 5 miliar dolar AS.

Meski ide-ide Tjip penuh dengan gebrakan, namun tangan dinginnya tak kuasa mengerek kondisi keuangan perusahaan plat merah tersebut. Pada 2015, pendapatan Pertamina anjlok 40,34 persen ke angka 41,76 miliar dolar AS dibandingkan periode 2014. Penyebabnya adalah melemahnya harga minyak. Meski demikian perseroan masih membukukan laba sebesar 1,42 miliar dolar AS, turun 1,82 persen dibandingkan tahun lalu. 

Baca juga: Dirut Pertamina Raih Posisi Advisory Board CSIS Asia Tenggara

Sementara di tahun 2016, laba Pertamina terkerek ke angka $3,14 miliar, meningkat 121,13 persen berkat efisiensi yang dilakukan perusahaan. Namun pendapatan perseroan turun 12,71 persen ke angka 36,45 miliar dolar AS, lagi-lagi karena lemahnya harga minyak dunia yang mempengaruhi sisi hulu migas perusahaan.

Sayangnya, sepak terjang Tjip di Pertamina terpaksa dihentikan pada tahun 2017. Saat itu pemerintah mencopot Tjip dan juga Wakil Direktur Pertamina Ahmad Bambang dengan alasan adanya dua matahari kembar di tubuh Pertamina yang menyebabkan dualisme kepemimpinan.

Namun setelah setahun lebih berlalu, kini Tjip kembali didapuk untuk memimpin SKK Migas. Sejumlah pekerjaan berat telah menantinya, di antaranya meningkatkan kegiatan eksplorasi untuk mengerek cadangan migas dan menambah produksi migas. Padahal isu-isu ini sebenarnya sudah kronis dan menahun, dan ujung pangkal sesungguhnya ada di tangan pemerintah.

"Untuk meningkatkan produksi ini harus ada investasi, tentu saja investasi tahun 2018 akan berdampak 2019. Demikian juga 2019 kalau ada investasi akan berdampak di 2020 itu peningkatan produksi. Jadi oleh karena itu nanti kendala-kendala yang berkaitan dengan upaya peningkatan produksi akan kami diskusikan dengan Pak Menteri," ujar Tjip sesaat setelah pelantikan.

Akankah kesuksesan Tjip di industri semen dapat diukirkan kembali di industri migas? Semoga saja....