Desi Arryani, Kartini Tangguh dari Jasa Marga

Desi Arryani, Kartini Tangguh dari Jasa Marga
Sumber: Jasa Marga

"If you want something said, ask a man; if you want something done, ask a woman." -- Margaret Thatcher

Suasana jalan tol di Trans Jawa di pertengahan April 2019 sungguh panas terik dan berdebu, menciptakan bulir-bulir keringat di dahi. Namun toh serombongan orang berompi biru tak menghiraukan keadaan cuaca itu. Pantauan kesiapan jalan tol tetap dilakoni, bahkan mereka terus asyik berdiskusi. Sekilas tampak normal, tidak ada yang luar biasa. Namun jika diamati benar, ternyata ada pemandangan yang spesial saat itu. 

Di sana, terselip satu-satunya wanita di antara rombongan yang didominasi pria tersebut. Siapa sangka, kaum Hawa itu adalah "Kartini" yang duduk di pucuk pimpinan perusahaan pelat merah PT Jasa Marga (Persero).

Sang Kartini di era modern itu bernama Desi Arryani. Kala itu, ia memimpin rombongan untuk memantau kesiapan perseroan dalam menghadapi musim mudik Lebaran 2019. Maklum saja, pembangunan yang masih berlangsung di ruas Cikampek berpotensi menjadi biang macet dan menghambat kelancaran arus mudik. Jadi tentunya harus dilakukan sejumlah rekayasa untuk mengurai kemacetan, dan tentu saja mengurangi komentar negatif netizen.

Baca juga: Songsong Musim Lebaran, Jasa Marga Lakukan Ini

Desi Arryani bukanlah orang baru di Jasa Marga. Ia didapuk menjadi Direktur Utama perseroan tersebut sejak tahun 2016. Sejarah mencatat, Desi adalah wanita pertama yang menduduki jabatan tertinggi di perusahaan jasa layanan jalan tol pelat merah itu. Apa kiat-kiatnya?

“Yang paling penting, kalau wanita bekerja di lingkaran laki-laki itu tidak boleh cengeng dan jangan lebay. Kita juga jangan melupakan kodrat kita sebagai wanita," pesan Desi Arryani ketika menghadiri acara PUPR Goes To Campus 2018.

Desi memang tak pernah lebay, apalagi cengeng. Wanita berkerudung ini tak pernah canggung di dunia pria. Ia siap berkompetisi melawan pria-pria di lingkungan kerjanya. Pengalaman puluhan tahun bersinggungan dengan laki-laki membuatnya tangguh dan tak melempem dalam bersaing. 

Pengalaman itu diawali dari bangku kuliah di Teknik Sipil Universitas Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum, Teknik adalah jurusan yang maha sulit dan tentunya minim perempuan. Kalau pun ada wanita yang “nyasar” ke jurusan ini, sudah pasti ia perkasa dan berotak cemerlang.

Lulus dari UI, Desi memilih terjun di perusahaan infrastruktur PT Waskita Karya sejak 1987. Sebagai fresh graduate, ia ditempatkan sebagai Staf Anggaran Kantor Pusat Project. Dari situ, kariernya mulai perlahan menanjak dengan dipercaya menjadi Kepala Proyek Talud Benoa dan Kesempurnaan Irigasi Proyek Sabah Paket II di Buleleng. Puas dengan kinerjanya yang bagus, jabatan Desi terus merayap menjadi Kepala Pemasaran di Kantor Cabang IX Denpasar pada periode 1991-1997.

Setelah sukses menggarap Denpasar, Desi dipromosikan menjadi Kepala Cabang NTB selama 4 tahun, mulai 1997-2001. Karier Desi sungguh moncer. Dianggap berprestasi, ia dipindahtugaskan ke berbagai divisi, hingga akhirnya diangkat menjadi Direktur II Operasional PT Waskita Karya di tahun 2011-2012. Dari situ, posisinya melambung menjadi Direktur Operasi I di perusahaan tersebut pada periode 2013-2016. Dengan sederetan prestasi yang gemilang itulah, Menteri BUMN Rini Soemarno meliriknya untuk menduduki kursi nomor satu PT Jasa Marga.

 

Pekerjaan Rumah Desi tak mudah, apalagi Presiden Joko Widodo amat gencar dalam membangun proyek infrastruktur di seluruh penjuru negeri. Termasuk di antaranya pembangunan jalan tol sepanjang ribuan kilometer di sejumlah daerah. Tujuannya untuk meningkatkan konektivitas antarkota. Dan tugas Desi adalah merealisasikan mimpi sang presiden. Ia harus membangun sekitar 1.300 km hingga 2020. 

Di bawah pimpinannya, ruas baru yang dioperasikan Jasa Marga meningkat tajam dari angka 590 kilometer di tahun 2015 menjadi hampir 1.000 km di tahun 2019. Sepanjang 2018, korporasi tercatat telah menyelesaikan enam proyek jalan tol sepanjang 318 km. 

Di bawah tangan Desi pula, laba bersih Jasa Marga tumbuh 16,5% di tahun 2017 menjadi 2,2 triliun rupiah. Laba tersebut diraih dari pendapatan usaha di luar konstruksi yang tercatat sebesar 8,9 triliun rupiah atau meningkat dari tahun 2016. Total aset perusahaan pada saat itu juga naik 48% menjadi 79,2 triliun rupiah dengan beroperasinya ruas-ruas baru. 

Baca juga: Jasa Marga Targetkan Tol Balikpapan-Samarinda Beroperasi Mei 2019

Meski harus diakui, laba bersih perusahaan hanya tumbuh tipis 0,11% di tahun 2018 atau di angka 2,201 triliun rupiah. Sementara total pendapatan Jasa Marga naik sebesar 5,36% menjadi 36,97 triliun rupiah dibandingkan 2017.  

Kini, selain harus berusaha meningkatkan laba perusahaan, Desi juga harus menyelesaikan target korporasi tahun ini. Misalnya saja menggarap sembilan ruas jalan tol, termasuk di antaranya persiapan pembangunan jalan tol yang menghubungkan Probolinggo dan Banyuwangi. Dan tentu saja, konsekuensi logis dari pembangunan adalah mencari sumber pendanaan yang tentu saja tak mudah. 

Itulah sekelumit dari pekerjaan besar Desi. Pekerjaan yang bertujuan untuk memastikan roda bisnis Jasa Marga sejak 1978 ini tetap berputar di masa mendatang. Tampak sulit, namun yakinlah tangan dingin Desi akan membuat mimpi-mimpi indah menjadi kenyataan. Seperti yang diungkapkan Colin Powell: A dream doesn't become reality through magic. It takes sweat, determination and hard work.

Baca juga: Jasa Marga – Mandiri Investasi Kembali Luncurkan KIK-DINFRA