Cegah Penyebaran Virus Polio di Angola, Bio Farma Ekspor mOPV2

Cegah Penyebaran Virus Polio di Angola, Bio Farma Ekspor mOPV2
Pelepasan ekspor produk terbaru Bio Farma berupa Monovalent Oral Polio Vaccine type 2 (mOPV2) ke Angola/Sumber: Bio Farma

Bio Farma kembali melepas ekspor produk terbaru berupa Monovalent Oral Polio Vaccine type 2 (mOPV2), sebanyak 3,4 juta dosis yang akan digunakan untuk pencegahan penyebaran virus polio liar type 2 ke Angola.

Pelepasan perdana ekspor ini dihadiri oleh Direktur Produksi Juliman, dan Direktur Pemasaran Sri Harsi Teteki, dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM) yang diwakilkan oleh Dra. Rita Endang, Apt., M.Kes, Direktur Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika dan Prekursor dan Direktur Politik Luar Negeri dan Kerjasama Pembangunan Internasional Kementerian PPN / Bappenas, Ir. Wisnu Utomo, M.Sc di Kantor Bio Farma, Bandung, 16 Juli 2019.

Sri Harsi Teteki mengatakan, total kontrak penyedian vaksin mOPV2 dengan UNICEF adalah sebanyak 60 juta dosis, dan untuk teknis pengiriman ke negara tujuan akan diatur oleh UNICEF.

Baca juga: Bio Farma Berikan Pelatihan Keterampilan Membuat Busana Muslim ke Kaum Difabel

“Bio Farma mendapatkan kepercayaan dari UNICEF pada Juni 2019 yang lalu, untuk penyediaan finished product vaksin mOPV2 sebanyak 60 juta dosis. Dari 60 juta dosis tersebut, sebanyak 3,4 juta dosis pertama akan kami kirimkan ke Angola dalam bentuk finished product, dan mOPV2 ini lebih diperuntukkan export, hal ini disebabkan Indonesia saat ini tidak memerlukan vaksin Polio tipe 2 salah satunya karena keberhasilan program Imunisasi dari Kemenkes RI khususnya Polio,” jelas Sri Harsi Teteki dalam keterangan resmi perusahaan,  baru-baru ini.

Menurut Sri Harsi Teteki, selain Angola, rencana pengiriman selanjutnya adalah Somalia dengan jumlah sebanyak 633 ribu dosis dan Ethiopia sebanyak 1.14 juta dosis. Saat ini Bio Farma sedang berkomunikasi secara intensif dengan UNICEF terkait jadwal pengirimannya.

“Selain 60 juta dosis finished product, Bio Farma juga diminta untuk menyediakan 350 juta dosis mOPV2 dalam bentuk bulk (konsetrat vaksin mOPV2). Penyediaan mOPV2 dalam bentuk bulk ini juga merupakan bagian dari the Global Bulk Stockpile sesuai permintaan GPEI-WHO melalui UNICEF sebagai procurement agency WHO,” tambahnya.

Menyikapi hal ini, Juliman mengatakan, dengan dipilihnya Bio Farma sebagai penyedia tunggal bulk mOPV2 ini, merupakan gambaran kepercayaan dunia kepada Bio Farma, yang selalu bisa mempertahankan kualitas produknya, yang sesuai dengan standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan BPOM, terutama sisi safety, quality, efficacy, dari setiap produk yang dihasilkan oleh Bio Farma.

“Vaksin yang akan digunakan untuk program imunisasi di negara yang berada di kawasan Afrika Tengah tersebut, merupakan vaksin terbaru buatan Bio Farma yang baru saja mendapatkan Pre-Qualification World Health Organization (PQ-WHO),” ungkapnya.

Juliman menambahkan keberhasilan produk mOPV2 Bio Farma dalam memperoleh PQ-WHO, tidak terlepas dari peran BPOM sebagai lembaga pemerintah yang melakukan fungsi pengawasan dan juga bimbingan kepada pelaku usaha, dalam hal ini produsen obat, senantiasa memberikan dukungan yang konkrit untuk pengembangan industri farmasi.

Peran yang tidak kalah pentingnya dilakukan oleh Indonesian National Authority for Containment (I-NAC) yang telah memberikan tanggapan positif atas hasil assessment yang dilakukan awal tahun 2019 yang memberikan persetujuannya untuk memproduksi mOPV2 ini.

Baca juga: Dukung Inovasi Riset Terapan, Bio Farma Teken LoI Dengan Majelis Senat Akademik PTNBH