Cegah Pelemahan Ekonomi, 12 BUMN Siapkan 8 T Untuk Buyback Saham

Cegah Pelemahan Ekonomi, 12 BUMN Siapkan 8 T Untuk Buyback Saham
Gedung BRI

Merebaknya wabah virus Corona di dunia dan juga di Indonesia mulai memperlihatkan dampaknya pada kondisi pasar keuangan. Setidaknya kemarin, Senin 9 Maret 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melorot hingga 6,5% ke angka 5.136,81. 

Hal ini direspons cepat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang kemudian mengeluarkan stimulus untuk mengizinkan perusahaan melakukan buyback tanpa perlu melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) terlebih dahulu. 

Melalui siaran pers OJK tanggal 9 Maret 2020 OJK mengumumkan mengizinkan semua emiten atau perusahaan publik melakukan pembelian kembali (buyback) saham sebagai upaya memberikan stimulus perekonomian dan mengurangi dampak pasar yang berfluktuasi secara signifikan. 

“Mencermati kondisi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia sejak awal tahun 2020 sampai dengan hari ini 9 Maret 2020 terus mengalami tekanan signifikan yang diindikasikan dari penurunan IHSG sebesar 18,46%. Hal ini terjadi seiring dengan pelambatan dan tekanan perekonomian baik global, regional maupun nasional sebagai akibat dari wabah COVID-19 dan melemahnya harga minyak dunia,” demikian dikutip dari siaran pers tersebut. 

Untuk itu, OJK mengeluarkan kebijakan pelaksanaan pembelian kembali saham yang dikeluarkan oleh emiten atau perusahaan publik (buyback saham). Buyback saham oleh emiten atau perusahaan publik dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan, dilakukan dengan merelaksasi sebagai berikut: 

  1. Pembelian kembali dapat dilakukan tanpa terlebih dahulu memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS); 
  2. Jumlah saham yang dapat dibeli kembali dapat lebih dari 10% dari modal disetor dan paling banyak 20% dari modal disetor, dengan ketentuan paling sedikit saham yang beredar 7,5% dari modal disetor. 

Ketentuan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran OJK Nomor 3/SEOJK.04/2020 tanggal 9 Maret 2020 tentang Kondisi Lain Sebagai Kondisi Pasar Yang Berfluktuasi Secara Signifikan Dalam Pelaksanaan Pembelian Kembali Saham Yang Dikeluarkan Oleh Emiten Atau Perusahaan Publik.

Langkah Korporasi

Menyusul pengumuman tersebut, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyampaikan adanya 12 perusahaan BUMN yang telah menyiapkan dana untuk melakukan pembelian kembali (buyback) saham perusahaan yang beredar di pasar. 

Hal ini disampaikan oleh Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga. Arya menambahkan bahwa langkah ini merupakan strategi perusahaan karena penurunan harga saham perusahaan melebihi fundamental. 12 BUMN tersebut menyiapkan dana hingga 8 triliun rupiah. 

Mengapa perusahaan melakukan buyback? Buyback adalah proses pembelian kembali saham yang beredar di pasar. Dengan melakukan buyback perusahaan menginvestasikan dana yang dimiliki untuk membeli saham perusahaannya sendiri dari publik. Dengan demikian, otomatis jumlah keuntungan yang harus disetor perusahaan melalui pembagian dividen akan berkurang, karena jumlah saham yang beredar juga berkurang. Selain itu apabila di masa yang akan datang harga saham naik maka perusahaan akan memperoleh keuntungan. 

Buyback saham perusahaan juga dilakukan untuk mengantisipasi penurunan harga saham perusahaan sebagai akibat dari pelemahan ekonomi. 

Dengan demikian, perusahaan yang melakukan buyback adalah mereka yang memiliki dana yang kuat untuk menyelamatkan harga saham mereka di pasaran. 

Ke-12 BUMN yang siap melakukan buyback tersebut adalah

  1. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
  2. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
  3. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)
  4. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN)
  5. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA)
  6. PT Adhi Karya Tbk (ADHI)
  7. PT PP Tbk (PTPP)
  8. PT Jasa Marga Tbk (JSMR)
  9. PT Waskita Karya Tbk (WSKT)
  10. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
  11. PT Bukit Asam Tbk (PTBA)
  12. PT Timah Tbk (TINS)

Cek profil masing-masing korporasi di atas dengan klik link-nya. 

Nah, siapa lagi korporasi yang akan menyusul?