“Blackout” 4 Agustus yang Menodai Kinerja Kinclong PLN

“Blackout” 4 Agustus yang Menodai Kinerja Kinclong PLN
Sumber: Annual Report PLN 2018

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN adalah korporasi yang paling banyak dibicarakan dalam minggu ini, menyusul terjadinya “blackout” atau padamnya listrik di sejumlah wilayah di pulau Jawa 4 Agustus yang lalu. Tak kurang dari presiden Jokowi sendiri langsung turun tangan menyambangi kantor pusat PLN di Jalan Trunojoyo untuk meminta keterangan dan berharap insiden seperti itu tidak akan terulang lagi.

Insiden yang sangat mengganggu aktivitas masyarakat ini terjadi di kala perusahaan milik negara itu sedang bekerja keras meningkatkan kinerja korporasi. Pada kuartal pertama 2019 PLN mencatatkan kinerja yang baik di mana laba bersih perseroan mencapai Rp4,2 triliun. Hal ini meningkat tajam dibanding periode yang sama tahun lalu di mana perusahaan rugi Rp6,49 triliun. Keterangan resmi dari perusahaan menyebutkan laba bersih ini ditopang oleh pertumbuhan penjualan, peningkatan kinerja operasi dan keuangan, serta efisiensi. 

Upperline juga mencatat perbaikan pada indeks SAIDI dan SAIFI yang ditunjukkan oleh PLN. SAIDI dan SAIFI adalah tingkat keandalan pelayanan yang diukur dari durasi (lamanya) gangguan serta frekuensi terjadinya gangguan. 

SAIDI (System Average Interruption Duration Index) adalah lamanya pelanggan mengalami gangguan dalam satuan menit per pelanggan per tahun. Pada tahun 2018, indeks SAIDI PLN adalah 958,35 menit/pelanggan/tahun, turun 17,37% dibandingkan 1.159,82 menit/pelanggan/tahun pada tahun 2017. 

Sedangkan SAIFI (System Average Interruption Frequency Index) adalah banyaknya jumlah gangguan per pelanggan per tahun. Pada tahun 2018 indeks SAIFI adalah 9,90 kali/pelanggan/tahun, turun 21,74% dibandingkan 12,65 kali/pelanggan/tahun pada tahun 2017. 

Baca juga: Perjalanan PLN Melistriki Nusantara

Sistem Listrik Interkoneksi

Menyusul terjadinya “blackout” pada 4 Agustus tersebut, pihak PLN mengatakan akan melakukan investigasi mendalam dan menyeluruh untuk mengungkap penyebab kejadian tersebut. 

Seperti dijelaskan oleh Plt. Direktur Utama PLN Sripeni Inten Cahyani, sistem kelistrikan adalah sistem yang kompleks, yang melibatkan antara lain jaringan dan pembangkit. Sistem ini juga melibatkan berbagai komponen dalam struktur organisasi korporasi sehingga sulit menunjuk satu penyebab insiden tersebut. Salah satu penjelasan mengapa bisa terjadi pemadaman yang sebegitu masif dijelaskan oleh Muhamad Reza, Ph.D, pakar teknik tenaga listrik Universitas Teknologi Delft, Belanda. 

Menurut Reza, peristiwa blackout seperti ini, seperti juga yang terjadi di negara-negara lain, biasanya bukan merupakan kejadian tunggal. Kejadian seperti ini adalah rangkaian dari kejadian yang berentet sehingga dampak yang terasa demikian luas. 

“Biasanya setelah kejadian pemadaman skala besar–atau yang biasa disebut blackout pada istilah kelistrikan–seperti ini akan ada investigasi yang mendalam. Data-data rekaman besaran-besaran listrik sebelum, sesaat dan setelah gangguan akan dikumpulkan, diproses, dianalisa, dan didiskusikan oleh para ahli, untuk kemudian diambil kesimpulan mengenai apa yang telah terjadi. Tujuan utamanya, agar gangguan semacam ini bisa dicegah agar tidak terjadi lagi di masa depan,” ujar Reza seperti yang ditulisnya di laman user-generated Kumparan.com.

Karena itu terlalu dini untuk mengambil kesimpulan pasti atas apa yang menyebabkan terjadinya blackout pada tanggal 4 Agustus tersebut. Kepada Upperline, Reza menuturkan bahwa sistem tenaga listrik interkoneksi ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi sistem ini lebih fleksibel namun di sisi lain apabila terjadi gangguan, maka gangguan tersebut dapat meluas ke seluruh wilayah dalam interkoneksi tersebut. 

“Sistem tenaga listrik yang interkoneksi adalah salah satu sistem terbesar buatan manusia yang memiliki banyak kelebihan dalam meningkatkan kenyamanan hidup manusia, tetapi juga bukan tanpa risiko yaitu bahwa berantai gangguan di satu bagian sistem dapat mengakibatkan gangguan kaskade/bertingkat yang dapat menyebabkan pemadaman sistem keseluruhan atau blackout,” jelas Reza.

Reza menambahkan bahwa operator-operator sistem listrik di berbagai negara di dunia tentunya sadar akan potensi gangguan semacam ini dan mereka pun telah memiliki prosedur standar untuk mencegahnya. Namun kenyataannya, blackout tetap terjadi juga. 

Di Amerika Serikat misalnya, pernah terjadi blackout pada Juli 2003, dan di India blackout terjadi pada Agustus tahun 2012. Kedua blackout tersebut melibatkan fenomena lepasnya pembangkit-pembangkit listrik dalam jumlah besar secara berantai. Dari investigasi setelah kejadian kemudian diketahui bahwa penyebab blackout semacam ini tidak diakibatkan oleh penyebab tunggal, melainkan lebih karena serangkaian kejadian yang seringkali dikombinasikan dengan beberapa prosedur standar yang dilanggar atau tidak diterapkan dengan sempurna. 

Kuncinya menurut Reza adalah memahami bagaimana satu sistem interkoneksi bekerja, memahami bagaimana kondisi penerapannya di lapangan, sehingga dapat dibuat kriteria rencana dan operasi yang tepat, kemudian memastikan bahwa pengoperasian semua pembangkit yang terhubung dipastikan akurat dan sempurna mengikuti kriteria yang telah ditetapkan. 

Mari berharap tidak akan ada lagi “blackout” yang sangat menodai kinerja korporasi. 

Baca juga: Baru Dua Hari Diangkat Jadi Plt Dirut PLN, Sripeni Harus Hadapi Masalah Listrik Mati