Bio Farma Tegaskan Pentingnya Daya Saing Tingkatkan Performa Korporasi

Bio Farma Tegaskan Pentingnya Daya Saing Tingkatkan Performa Korporasi
Direktur Utama Bio Farma, M. Rahman Roestan saat berbincang dengan rekan wartawan dalam Media Gathering bertema “Toward Pharma 2030 Menuju Peningkatan Daya Saing Industri Farmasi Nasional”/Sumber: Bio Farma

Direktur Utama Bio Farma, M. Rahman Roestan dalam Media Gathering bertema “Toward Pharma 2030 Menuju Peningkatan Daya Saing Industri Farmasi Nasional”, baru-baru ini, memandang daya saing sebagai suatu yang dapat mempengaruhi performa suatu korporasi.

Keunggulan daya saing ini, menurut Rahman, bisa dipengaruhi dari kualitas produk yang lebih baik dibandingkan dengan pesaing. Namun demikian, kualitas yang lebih baik (higher quality) dalam bisnis farmasi, hanya ada dua kategori yaitu  memenuhi atau tidak memenuhi standar dari BPOM atau Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Baca juga: Bio Farma Hadirkan Layanan Vaksinasi Imunicare Cabang Medan

“Bisnis farmasi tidak lagi berbicara mengenai kualitas produk yang memang harus memenuhi standar WHO, namun bagaimana perusahaan farmasi harus fokus kepada kepedulian terhadap lingkungan dan kepedulian kepada komunitas sekitar perusahaan. Hal lain yang dapat menentukan daya saing industri farmasi adalah time to market, inovasi baik dalam bentuk produk, proses maupun strategi bisnis,” jelas Rahman dalam keterangan resmi, Senin 16 September 2019.

Menurut Rahman, dalam bisnis farmasi, ada variabel lain untuk memenangkan daya saing tersebut yaitu kualitas yang memenuhi standar WHO, integrated managament system dalam hal Kualitas, Lingkungan, dan Safety (Quality, Environment, Health and Safety) yang lebih baik.

Semua daya saing di industri farmasi, diharapkan sudah bisa berjalan pada tahun 2030 di mana pada tahun tersebut, akan ada bonus demografi, pergantian kepemimpinan generasi melalui  kaum milenial, disrupsi teknologi  dan sesuai dengan kebijakan global melalui Sustainable Development Goals (SGDs).

Berkaitan dengan daya saing, menurut Kepala Divisi Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Bio Farma, R. Herry, harga dan kualitas dari produk farmasi di seluruh dunia relatif sama. Harus ada pembeda apabila produk Bio Farma ingin mendapatkan tempat di pasar vaksin. Salah satu caranya adalah melalui Tanggung Jawab Sosial (CSR) dan Tata Kelola (GCG) yang mengelola CSR dengan baik.

Transformasi Bio Farma dalam bisnis life Science di kancah global, harus mengikuti prinsip Deklarasi Lima UNIDO (United Nations Industrial Development Organization) yang mengharuskan Industri untuk menerapkan prinsip distribusi kemakmuran (inclusive), dan menjalankan operasi yang ramah lingkungan (sustainable), dengan menjalankan operasi yang ramah lingkungan, sehingga dapat menghindari penggunaan sumber daya alam yang berlebih dan dapat menghindari dampak negatif dari kegiatan industri.

Bagi Bio Farma sendiri, upaya–upaya pemerataan kemakmuran tersebut sudah dilaksanakan melalui program CSR, yang ditujukan untuk masyarakat yang berada di ring 1 Bio Farma, dengan membantu masyarakat melalui keahlian dalam bidang bioteknologi yang Bio Farma miliki, seperti budi daya ikan Koi Mizumi di Sukabumi, budi daya domba garut dan pemberdayaan masyarakat sekitar geopark Ciletuh.

Menurut R. Herry, ada dua aspek yang harus menjadi backbone dalam melaksanakan bisnis yaitu aspek sosial dan aspek lingkungan sesuai dengan UNIDO, harus menjadi hal utama dalam pola bisnis Bio Farma, sehingga yang dilakukan akan memiliki nilai jual, bagaimana mendapatkan energi murah dan bisa dihemat termasuk membuat konsep green technology,

“Bio Farma sudah on track dalam menjalankan prinsip UNIDO, dapat dilihat dari aspek sosial, aspek lingkungan menjadi satu kesatuan untuk mengarusutamakan pada pola Bisnis Bio Farma, dengan filosofi perusahaan dedicated to improve quality of life, yang memiliki makna mendalam yaitu, mengembangkan kualitas kehidupan masyarakat maupun kualitas lingkungan,” pungkasnya.

Baca juga: Bio Farma Segera Luncurkan Produk Lifescience